MANAKALA sains jatuh ke dalam saintisisme, kita diminta percaya bahwa hanya ada satu cara untuk berbicara secara obyektif tentang realitas dan cara ini adalah yang telah dijabarkan oleh para ahli sains. Kita diminta untuk percaya bahwa hanya tentang dunia riil yang obyektiflah yang tengah dibicarakan oleh para ahli fisika. Kita diminta untuk percaya bahwa hanya ada satu cara untuk mengalami realitas, dan itu adalah sebagaimana yang telah dijabarkan oleh metode eksperimental para ahli fisika. Kita diharuskan menerima fakta bahwa pengalaman spontan dan keseharian kita atas dunia haruslah digantikan oleh sebuah sistem pengalaman ala saintifik. Para ahli fisika akan menjadi salah satu yang mengajarkan pada kita makna dunia yang riil. Fenomenologi mewakili sebuah perlawanan terhadap tuntutan yang tak masuk akal ini, tak masuk akal karena mereka para ahli fisika itu memasukkan sebuah kontradiksi fundamental. Fenomenologi adalah penyangkalan atas saintisisme.

Dalam hal apakah saintisisme mengandung kontradiksi dan bagaimana fenomenologi membuat kontradiksi ini menjadi terlihat?

Sebelum era fenomenologi, sudah banyak filsuf yang telah menegaskan bahwa seseorang yang mengikatkan diri dengan saintisisme dalam tindakannya menolak filsafat, sebenarnya telah menjadi filsuf juga. Pernyataannya tentang metodologi ilmiah dan kebenaran obyektif secara implisit, dan secara prinsipil yang utuh, mengandung epistemologi selain juga mengandung sebuah filsafat atas realitas.

Kaum fenomenolog menambahkan lagi dalam observasi ini pernyataan bahwa kita tak akan pernah dapat menjadi sadar akan dunia yang riil jika kita menerima premis bahwa hanya para ahli fisika yang sanggup menggambarkan makna obyektif dari dunia.

Dalam cara berpikir semacam itu, hanya pengalaman saintifik yang dapat membawa kita berkontak dengan dunia yang obyektif; pengalaman spontan dan biasa sehari-hari kita akan menjadi tak berguna dalam pandangan ini. Ini membentuk sebuah kontradiksi: bukan sebuah kontradiksi dalam istilah, tetapi sebuah kontradiksi dengan “hidup,” dengan hidupnya ahli fisika itu sendiri.

Disarikan dari buku karangan William A. Luijpen, “Fenomenologi dan Humanisme” (Duquesne University Press, Pittsburgh, PA 1966)

BERSAMBUNG