AGAMA dan terorisme menjadi diskusi yang selalu hangat di bulan September, terutama setelah terjadi tragedi 11 September di New York, bahkan juga di Indonesia dan beberapa kawasan lainnya. Apalagi, hari ini, setahun yang lalu bom meledak di depan Kedutaan Besar Australia di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Dalam dasawarsa terakhir ini, kita menyadari agama telah kehilangan kekuatan utuhnya untuk memberikan kontribusi menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan yang ada. Salah satu sebab yang selalu dirujuk, konsentrasi agama untuk melakukan pemberdayaan umat dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan terpecah karena isu besar terorisme yang begitu kuat menyita perhatian.

Akibat fakta terorisme ini, bahkan agama telah kehilangan pesonanya sebagai salah satu pilar utama perubahan sosial (social change) yang lebih progresif dan positif. Atas nama agama pula terorisme dijalankan dengan penuh kebencian. Dan gelombang terorisme ternyata belum selesai kendati tragedi black September di New York sudah diacu oleh seluruh komunitas pencinta damai di dunia ini untuk memerangi kaum teroris. Perlahan tapi pasti terorisme mulai menemukan lahan-lahan baru untuk mengacaukan keadaan.

Setiap ditemukan cara untuk menangkalnya, saat itu pula diperkenalkan modus operandi baru terorisme. Keduanya saling berlomba untuk bergerak mendahului dan sering sama-sama menghancurkan. Yang menjadi korban adalah mereka para pecinta kedamaian.

Mereka inilah yang sering terenggut nyawanya bukan karena dosanya. Selain itu, mereka yang belum menjadi korban, terus-menerus dihantui kecemasan satu saat menjadi korban. Dengan begitu terorisme berhasil membuat rencana-rencana perdamaian menjadi kecemasan. Pengeboman dua kali di London sepekan ini dengan demikian bukan saja berhasil membuat warga London mengalami ketakutan, tapi juga manusia seantero jagat yang masih waras.

Di sisi lain genderang perang terhadap terorisme juga tidak kalah menyeramkannya dengan terorisme itu sendiri. Atas nama perdamaian mereka sering bertindak ngawur dan tidak jarang justru bertindak di luar batasan nilai-nilai kemanusiaan.

Perang terhadap terorisme tidak jarang menghadapi tuduhan sebagai ‘terorisme yang lain’. Terutama ketika cara-cara yang digunakan adalah ‘sekadar mendiskreditkan’ dan main ‘kambing hitam’. Belum terlalu disadari rahasia bagaimana memerangi terorisme dengan mempelajari apa yang menjadi penyebab terorisme. Belum terlalu dipahami akar-akar terorisme dan bagaimana menyelesaikannya dengan cara damai.

Atas persoalan utama yang dihadapi dunia dewasa ini, agama di samping telah kehilangan pesonanya juga harus ikut campur lebur dalam meredam aksi-aksi terorisme.

Agama dan kaumnya akhirnya kesulitan membaca, memetakan, dan memecahkan persoalan sesungguhnya yang dihadapi. Kemiskinan bertambah parah, kekuatan politik semakin menjadi-jadi menjadikan agama sebagai kuda tunggangan kepentingan, kekuatan ekonomi lalu menjadikannya sebagai komoditas, melebarnya jurang kesenjangan antara kaum ‘punya’ dan ‘tidak punya’, dan seterusnya.

Terorisme berhasil membajak semangat keberagamaan dan keberagaman untuk kepentingan penghancuran kemanusiaan. Mereka menjadikan produk kebudayaan manusia secara fisik sebagai sasaran penghancuran. Dialog agama, bagi teroris, bukan sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadikan wajah agama lebih manusiawi dan inspiratif bagi batin manusia.

Ketika agama dibajak untuk kepentingan kekerasan, dan kekerasan itu sendiri dilegalkan atas nama agama, maka agama cenderung menjadi alat pembenaran dari segala tindak tanduk di luar nalar kemanusiaan yang sehat.

Kaum teroris menjadikan agama sebagai sesuatu yang malah tidak bernalar, serta menjadikan agama sebagai biang keladi kekerasan.

Di sini kita ingat apa yang dinyatakan Mayer. Di semua agama tersimpan potensi kekerasan. Agama akan menjadi biang keladi kekerasan bila teks dalam kitab sucinya tidak dibaca sungguh-sungguh sesuai konteksnya. Hal ini membuat wajah agama berubah menjadi monster bagi manusia atau penganutnya sendiri.

Walaupun sudah disadari bahwa agama diturunkan di muka bumi untuk memainkan peranan sebagai sarana menuju yang Ilahi. Walaupun pula sudah disadari bahwa panggilan yang mendasar dari agama adalah untuk membangun peradaban kemanusiaan.

Realitasnya, agama sering kali terjebak pada dimensi ritual dan melupakan panggilan dasarnya, yakni mengabdi pada kepentingan kemanusiaan. Ini merupakan tantangan bagi agama untuk berani melakukan introspeksi diri sejauh mana agama berperan dalam menciptakan tata dunia baru yang lebih berkeadilan.

Harus disadari bahwa persoalan terorisme tidak hanya lahir dari radikalisme umat beragama yang salah menafsirkan teks. Lebih mendasar lagi adalah karena tata dunia yang tidak adil dan berkeadilan. Ini secara pasti menyebabkan radikalisme beragama tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Radikalisme tumbuh karena tatanan yang tidak adil yang menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan inilah yang membuat manusia kehilangan harapan dan kehilangan akal sehat dalam beragama.

Radikalisme dengan demikian dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk melarikan diri dari frustrasi kehidupan karena impitan sosial dan ekonomi. Terutama, faktor ini cukup menyuburkan radikalisme di kalangan negara miskin yang semakin dimiskinkan.

Dalam konteks ini dialog agama tidak cukup hanya pada level saling pengertian atau sekadar pemahaman akan perbedaan. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana agama mampu memainkan peranan untuk setia pada panggilannya, yakni menjaga martabat kemanusiaan.

Budaya konsumerisme di kalangan masyarakat juga semakin memperluas jurang kesenjangan antara kaum miskin dan kaya. Mereka yang berada dalam posisi tawar besar bisa memainkan kebijakan publik agar tak lagi perlu memerhatikan kaum miskin.

Ekonomi dijalankan tanpa lagi memerhatikan etika. Yang dituju hanya mengejar keuntungan sebesarnya. Ini semua membuat kehidupan ini menjadi hampa solidaritas. Manusia hanya sibuk memikirkan kepentingan pribadinya semata-mata tanpa mau melihat realitas sekitarnya, sebagaimana terorisme yang menjalankan tindakan penghancuran tanpa memikirkan berapa korban tak berdosa yang akan bergelimpangan.

Terakhir harus kembali disadarkan, terorisme bukan semata-mata masalah agama, melainkan masalah seluruh umat manusia dalam berbagai aspek. Perlu dicari titik pandang bersama untuk merumuskan ulang bagaimana dunia ini harus ditata ulang. Di samping tugas berat ini yang perlu dipikirkan oleh elite-elite agama saat ini, juga menjadi bagian tak terpisah dari komponen lainnya.***

Benny Susetyo, Forum Diskusi Media Group