Setelah menyelesaikan perjuangan berat, mengerjakan ujian nasional (UN), tiba saatnya sekarang menunggu hasil penuh dengan kecemasan. Mereka yang lulus dengan nilai tinggi tentu akan merasakan kebahagiaan tanpa kira. Yang tidak lulus tentu akan merasakan kesedihan yang amat dalam.

Memang, UN telah dilakukan berulang kali. Berbagai kendala selalu bermunculan. Ada kekhawatiran, sikap pesimistis jika tidak lulus merupakan permasalahan mendasar. Betapa tidak, kelulusan merupakan prestasi yang membanggakan. Siswa yang lulus tidak hanya mengharumkan nama baik dirinya, juga keluarga dan sekolah yang bersangkutan. Sebaliknya, jika siswa tidak lulus, yang merasakan pun tidak hanya diri siswa tersebut, juga keluarga dan sekolah ikut menanggung rasa malu.

Dalam UN, setiap tahun angka kelulusan terus dinaikkan. Angka-angka ini bagi sebagian siswa tentu tidak menjadi persoalan. Untuk mendapatkan angka-angka tersebut tidak harus pandai dan menguasai materi pelajaran yang diujikan. Dengan kata lain, untuk mengerjakan UN tidaklah diperlukan intelektual yang tinggi. Yang diperlukan adalah siasat menjawab.

Adanya lembaga-lembaga yang “menyediakan” siasat mengerjakan soal UN menjadi satu metode bagaimana siswa yang sebenarnya tidak mempunyai intelektual tinggi dapat lulus UN dengan nilai memuaskan. Di antara lembaga yang menyediakan siasat mengerjakan UN adalah bimbingan belajar (bimbel).

Bimbel mampu mengantarkan siswa, yang tidak tahu sama sekali ilmu, sebagaimana dalam mata pelajaran yang diujikan, mengerjakan soal UN dengan baik dan benar.

Selain itu, mendekati UN berlangsung berbagai try out. Kegiatan ini juga menjadikan siswa semakin matang menghadapi UN. Dengan metode pembelajaran siasat mengerjakan soal yang menyenangkan, para siswa dengan enjoy-nya mengikuti bimbel dan try out. Memang bibel dan try out mampu mengatasi kepesimisan siswa dalam menghadapi UN. Kepada siswa akan diberikan bekal yang cukup untuk menghadapi UN. Namun, berapa besarkah siswa yang dapat merasakan fasilitas ini?

Anak Miskin

Ternyata, akibat berbagai tingkat perekonomian masyarakat, tidak semua siswa dapat menikmati fasilitas persiapan UN. Bimbel dan try out hanya dapat dinikmati siswa-siswa yang orangtuanya mempunyai kemampuan ekonomi kelas menengah ke atas.

Bagaimanapun siswa yang dapat mengikuti bimbel dan try out adalah siswa yang dapat membayar biaya yang cukup mahal. Dalam satu pertemuan siswa harus membayar mentor dengan nominal puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Tentu dengan kenyataan ini tidak semua siswa dapat membayarnya.

Sementara untuk mengikuti try out juga sama halnya. Untuk mengikuti satu kali try out seorang siswa harus mengeluarkan uang dengan nominal puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Padahal, baik bimbel maupun try out, tidak mungkin hanya dengan dua atau tiga kali pertemuan, siswa dapat menguasai siasat mengerjakan soal UN yang ditawarkan oleh sebuah lembaga.

Padahal, dengan keadaan ekonomi sebagian masyarakat Indonesia untuk menyekolahkan anak saja harus peras keringat atau banting tulang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus gali lobang tutup lobang. Tentu sangat memberatkan jika mereka harus mengeluarkan uang agar anaknya dapat mengikuti bimbel dan try out. Mereka jelas tidak mampu memberikannya. Akibatnya, siswa anak orang miskin tidak dapat menikmati tawaran belajar nyaman menghadapi UN melalui bimbel dan semacamnya. Untuk menghadapi UN mereka harus bekerja keras sendirian dengan peralatan yang seadanya. Buku-buku semacam perang siasat yang menyuguhkan cara-cara praktis mengerjakan soal ujian pun belum tentu mereka dapatkan.

Selain itu dari segi waktu, volume belajar anak orang miskin lebih sedikit dibandingkan dengan anak-anak orang kaya. Anak orang kaya dapat memilih dan menggunakan waktu 24 jam dalam sehari untuk belajar. Sementara anak orang miskin waktu belajarnya relatif lebih minim. Waktu 24 jam dalam sehari harus dibagi dengan berbagai kegiatan, di antaranya membantu orangtua mencari perekonomian. Jika mereka tidak dapat membantu pekerjaan orang tuanya, ereka akan terancam putus sekolah, karena tidak adanya penghasilan orangtua.

Kenyataan semacam ini tentu menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama. Haruskah ketimpangan dalam memperoleh hak kelulusan terus terjadi? Haruskah orang miskin dan anak-anaknya menjadi kelompok masyarakat yang tidak dapat menikmati berbagai tawaran fasilitas?

Terkait dengan biaya UN dan fenomena di atas, ketetapan pemerintah tidak memungut biaya UN dari siswa ternyata belum tuntas. Untuk mempersiapkan UN diperlukan biaya yang cukup besar. Dan hal ini hanya dapat dinikmati sebagian kelompok masyarakat. Untuk dapat lulus UN warga miskin harus berjuang susah-payah. Lantas, sampai kapan kenyataan pahit ini akan terus dirasakan? Haruskah kita terus menunggu?

Anton Prasetyo
Penulis adalah Koordinator Litbang Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Nurul Ummah Yogyakarta

Sumber: Suara Pembaruan, 8 Mei 2009
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=7925