Apa Neoliberalisme Itu?

/, Opini/Apa Neoliberalisme Itu?

Apa Neoliberalisme Itu?

Dengan dipilihnya Boediono sebagai cawapresnya SBY, diskusi tentang neoliberalisme (neolib) menjadi marak. Namun, diskusinya tidak memberikan gambaran jelas.

Liberalisme adalah paham yang sangat jelas digambarkan oleh Adam Smith dalam bukunya yang terbit pada 1776 dengan judul An inquiry into the Nature and the Causes of the Wealth of Nations. Buku ini sangat terkenal dengan singkatannya The wealth of nations dan luar biasa pengaruhnya. Dia menggambarkan pengenalannya tentang kenyataan hidup. Intinya sebagai berikut.

Manusia adalah homo economicus yang senantiasa mengejar kepentingannya sendiri guna memperoleh manfaat atau kenikmatan yang sebesar-besarnya dari apa saja yang dimilikinya. Kalau karakter manusia yang egosentris dan individualistis, seperti ini dibiarkan tanpa campur tangan pemerintah sedikitpun, dengan sendirinya akan terjadi alokasi yang efisien dari faktor- faktor produksi, pemerataan dan keadilan, kebebasan, daya inovasi, dan kreasi berkembang sepenuhnya. Prosesnya sebagai berikut.

Kalau ada barang dan jasa yang harganya tinggi, sehingga memberikan laba yang sangat besar (laba supernormal) kepada para produsennya, banyak orang akan tertarik memproduksi barang yang sama. Akibatnya, suplai meningkat dan ceteris paribus harga turun. Kalau harga turun sampai di bawah harga pokok, ceteris paribus supply menyusut karena harga meningkat lagi. Harga akan berfluktuasi tipis dengan kisaran yang memberikan laba yang sepantasnya saja (laba normal) bagi para produsen. Hal yang sama berlaku buat jasa distribusi.

Buku ini terbit pada 1776, ketika hampir semua barang adalah komoditas yang homogen (stapel producten), seperti gandum, gula, garam, dan katun. Lambat laun daya inovasi dan daya kreasi dari beberapa produsen berkembang. Ada saja di antara para produsen barang sejenis yang lebih pandai, sehingga mampu melakukan diferensiasi produk. Sebagai contoh, garam dikemas ke dalam botol kecil praktis yang siap pakai di meja makan. Di dalamnya, ditambahi beberapa vitamin dan diberi merek yang dipatenkan. Dia mempromosikan garamnya yang berlainan dengan garam biasa.

Konsumen percaya dan ber-sedia membayar lebih mahal. Produsen bisa memperoleh laba tinggi tanpa saingan untuk jangka waktu yang cukup lama. Selama itu, dia menumpuk laba tinggi (laba supernormal) yang menjadikannya kaya.

Karena semuanya dibolehkan tanpa pengaturan oleh pemerintah, dia mulai melakukan persaingan yang mematikan para pesaingnya dengan cara kotor, yang ditopang oleh kekayaannya. Sebagai contoh, produknya dijual dengan harga yang lebih rendah dari harga pokok. Dia merugi. Kerugiannya ditopang dengan modalnya yang sudah menumpuk. Dengan harga ini semua pesaing akan merugi dan bangkrut. Dia tidak, karena modalnya yang paling kuat. Setelah para pesaingnya bangkrut, dengan kedudukan monopoli, dia menaikkan harga produknya sangat tinggi.

Contoh lain, kasus pabrik rokok yang membeli rokok pesaingnya, disuntik sangat halus dengan cairan sabun. Lantas dijual lagi ke pasar. Beberapa hari lagi, rokoknya rusak sehingga mereknya tidak laku, pabriknya bangkrut.

Yang digambarkan Adam Smith mulai tidak berlaku lagi, karena apa saja boleh. Pengusaha majikan mulai mengerjakan sesama manusia dengan gaji dan lingkungan kerja yang di luar perikemanusiaan. Puncaknya terjadi dalam era revolusi industri, yang antara lain mengakibatkan anak-anak dan wanita hamil dipekerjakan di tambang-tambang. Perempuan melahirkan dalam tambang di bawah permukaan bumi. Mereka juga dicambuki bagaikan binatang. Dalam era itu seluruh dunia mengenal perbudakan, karena pemerintah tidak boleh campur tangan melindungi buruh.

Dalam kondisi seperti itu, lahir pikiran Karl Marx. Banyak karyanya, tetapi yang paling terkenal menentang Adam Smith adalah Das Kapital yang terbit 1848. Marx menggugat semua ketimpangan yang disebabkan mekanisme pasar yang tidak boleh dicampuri pemerintah. Marx berkesimpulan, untuk membebaskan penghisapan manusia oleh manusia, tidak boleh ada orang yang mempunyai modal yang dipakai untuk berproduksi dan berdistribusi dengan maksud memperoleh laba. Semuanya harus dipegang oleh negara dan setiap orang adalah pegawai negeri.

Persaingan

Dunia terbelah dua. Uni Soviet, Eropa Timur, Tiongkok, dan beberapa negara menerapkannya. Dunia Barat mengakui sepenuhnya gugatan Marx, tetapi tidak mau membuang mekanisme pasar dan kapitalisme. Eksesnya diperkecil dengan berbagai peraturan dan pengaturan. Setelah dua sistem ini bersaing selama 40 tahun, persaingan dimenangkan oleh Barat. Maka tidak ada lagi negara yang menganut sistem komunisme ala Marx-Lenin-Mao.

Semuanya mengadopsi mekanisme pasar dan mengadopsi kapitalisme dalam arti sempit, yaitu dibolehkannya orang per orang memiliki kapital untuk berproduki dan berdistribusi dengan motif mencari laba. Tetapi, kapital harus berfungsi sosial. Apa arti dan bagaimana perwujudannya? Sangat beragam. Keragaman ini berarti juga bahwa kadar campur tangannya pemerintah sangat bervariasi, dari yang sangat minimal sampai yang banyak sekali.

Orang-orang yang menganut paham bahwa campur tangan pemerintah haruslah sekecil mungkin adalah kaum neolib. Mereka tidak bisa mengelak terhadap campur tangan pemerintah, sehingga tidak bisa lagi mempertahankan liberalisme mutlak dan total, tetapi harus militan mengerdilkan pemerintah untuk kepentingan korporatokrasi. Jadi, walaupun yang liberal mutlak, yang total, yang laissez fair laissez aller dan laissez fair laissez passer, yang cut throat competition dan yang survival of the fittest mutlak sudah tidak bisa dipertahankan lagi, kaum neolib masih bisa membiarkan kekayaan alam negara kita dihisap habis oleh para majikannya yang kaum korporatokrat dengan dukungan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan IMF.

Tim ekonomi dalam pemerintahan di Indonesia sejak 1967 adalah kaum neolib yang lebih ekstrem dari rekan-rekannya di negara-negara barat. Perkecualiannya hanya sebentar sekali, yaitu selama kabinet Gus Dur.

Kwik Kian Gie
Penulis adalah Mantan Menko Ekuin
Sumber: Suara Pembaruan, 2009-05-19
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=8112

About the Author:

Lembaga Kajian, Membangun Wacana Kritis Rakyat

4 Comments

  1. yul May 22, 2009 at 11:20 am - Reply

    Hari-hari ini kita memang tengah dicekoki dengan aksi akrobatik para politisi dari berbagai parpol yang disibukkan dengan pemburuan mereka terhadap kue kekuasaan. Semuanya mengatasnamakan bangsa atau rakyat, padahal setiap orang tahu jika semua itu dilakukan semata-mata demi perubahan nasib mereka sendiri, agar bisa semakin sejahtera, minimal bisa balik modal setelah kemarin jor-joran mengeluarkan biaya sampai miliaran atau pun triliunan untuk kampanye.
    Sebelum kita membahas tentang SBY dan lobi asing, maka kita harus mengetahui dahulu beberapa fakta terkait Pileg dan Pilpres 2009:
    Pertama, Pileg 2009 merupakan pileg paling buruk sepanjang sejarah bangsa ini. KPU yang dibentuk tidak independen (awalnya KPU akan menyelenggarakan Pileg pada 5 April 2009, namun atas permintaan SBY digeser menjadi 9 April. Pilpres juga diminta dilakukan pada tanggal 9 Sepember atau 9/9. Mengapa selalu angka 9? Bukan rahasia lagi jika SBY dengan Partai Demokratnya memang sangat tergantung dengan angka 9. Empat setengah tahun lalu, saat menjelang Pileg 2004 tersebar informasi jika hal itu disebabkan bisikan ‘alam ghaib’ kepada mereka sehingga angka 9 menjadi angka keberuntungan mereka. Wallahu’alam bishawab. Namun jika ini benar maka hal itu sudah merupakan suatu kemusyrikan, dosa yang tak terampunkan. Lalu dalam Pelaksanaan Pileg 2009 kemarin, seluruh anggota KPU ternyata berkumpul di Cikeas. Hal ini sangat aneh dan mengindikasikan ketidaknetralan KPU).
    Kedua, dalam Pileg 2009, puluhan juta rakyat Indnesia digolputkan secara paksa dan sistemik. Bohong besar jika dikatakan itu merupakan kekhilafan. Bagaimana bisa seorang Ketua Umum PPRN, Amelia Yani, ternyata tidak masuk dalam DPT sehingga tidak bisa memilih? Bagaimana bisa kantung-kantung parpol lawan dari penguasa ternyata banyak warganya yang tidak masuk DPT sehingga merugikan parpol lain? Bagaimana bisa daerah yang baru saja mendapat BLT ternyata DPT-nya komplit, sedangkan daerah yang tidak mendapat BLT ternyata DPT-nya ambradul. Salah satu penyebab amburadulnya DPT disebabkan KPU 2009 ini mengambil data kependudukan secara mentah dari Kementerian Dalam Negeri yang memang datanya paling buruk. Mengapa KPU 2009 tidak mengambil data kependudukan dari DPT KPU 2004 yang sudah disaring dan bersih, lalu tinggal memperbaharui?
    Ketiga, dalam perjalanan kotak suara dari tingkat kecamatan hingga ke pusat sangat riskan terjadi jual-beli suara. Rakyat banyak tidak tahu proses perjalanan itu, sehingga sangat memungkinkan terjadinya rekayasa dengan imbalan fulus.
    Dari tiga fakta tersebut bisa dipastikan jika memang ada ‘tangan-tangan kekuasaan’ yang bermain dalam Pileg 2009 agar menguntungkan penguasa dan sebaliknya merugikan pesaingnya.
    Lantas soal cawapres SBY, jawaban untuk mengapa SBY tidak mengambilnya dari partai-partai Islam adalah karena memang secara faktual tidak ada itu partai-partai Islam sekarang ini. Yang ada adalah partai-partai politik yang menjadikan Islam hanya sebagai kosmetik agar menarik hati rakyat. Istilahnya: Pedagang umat. Mereka ini tidak menghidupkan Islam, tapi Hidup dari Islam. Ya dengan menjadikan Islam dan umat-Nya hanya sebagai barang dagangan, tidak lebih.
    Jika sudah berkuasa, kelakuannya pun sama saja dengan partai-partai sekuler. Di luaran ada anekdot, jika aleg dari partai sekuler akan mengucap “Asyik!” ketika mendapat jatah mark-up proyek, maka aleg dari dari partai yang non-sekuler akan mengucap “Hamdallah” ketika mendapat hal yang sama. Believed or not?
    SBY sebagai sosok yang pintar memang mengetahui fakta itu. Sebab itulah dia tidak mau memilih cawapres dari mitra koalisinya. Mengapa? Pertama karena perolehan suara Partai Demokrat (PD) memang besar sehingga bisa bebas menentukan capres dan cawapresnya sendiri, dan kedua, partai-partai mitra koalisi PD inilah yang merapat ke PD, bukan sebaliknya. Jadi di sini PD memiliki posisi tawar yang menentukan. Istilahnya, “Kalau kamu mau tunduk pada kami ya silakan ikut, kalau tidak setuju ya silakan keluar.”
    Dan atas pertanyaan, apakah ada lobi asing yang bermain sehingga SBY lebih memilih Budiono yang memang dikenal luas sebagai lokomotif kepentingan IMF dan Bank Dunia di Indonesia? Jawabannya adalah ya. Namun, sebenarnya SBY sendiri pun memang dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat pro AS. Dalam kasus penyerahan migas Blok Cepu ke Exxon Mobil misalnya, SBY jelas lebih memihak kepentingan imperialis AS dan ini pun didukung oleh partai politik “Islam” yang menjadi sekutu PD dalam masa 2004-2009. Ini adalah ironis, karena kita tahu jika Exxon merupakan salah satu donatur gerakan Zionis-Israel. Asing telah bermain dan menguasai negeri ini sejak Jenderal Suharto (siapa tuh yang mengaku muridnya…?) menjadi presiden sampai saat sekarang!
    Sebab itu, siapa pun yang mencintai kedaulatan bangsa ini, yang ingin melihat bangsa ini memiliki harga diri sebagai bangsa yang besar dan bisa berdiri tegak di hadapan imperialis Barat (AS), dan tidak terus-terusan menjadi kacung bagi Amerika, dia harusnya tidak memilih pasangan yang jelas-jelas pro-AS ini.
    Dalam melihat peta politik di negeri ini, kita seharusnya bisa bersikap jernih, tidak melihat partai politik berdasarkan apa yang mereka ucapkan dan klaim, tapi melihat apa yang sudah mereka kerjakan dan apa yang mereka perbuat. Kecap itu selalu nomor satu, tidak peduli apakah kecap itu berjenggot atau pun tidak. Kita jangan tertipu oleh bualan-bualan kosong seperti itu.
    Rasulullah SAW dalam salah satu sabda hari akhirnya mengatakan jika dalam masa kacau, dimana tidak ada pemimpin yang benar-benar bersih, dimana agama hanya dijadikan alat dagang, dimana umat hanya dijadikan alat tawar kekuasaan, dimana para ulama lebih suka menyambangi penguasa ketimbang berada di tengah-tengah umat, maka selamatkanlah anak dan isterimu dari semua ini dengan berlepas diri dari segala hal tersebut, dan mencari nafkah dengan yang halal dan mendidik anak-isterimu dengan ilmu yang haq.
    Dalam situasi seperti ini, kita hendaknya bergabung dengan jamaah yang lurus dan bersih. Dan Alhamdulillah, Allah SWT telah memperlihatkan kepada kita semua jika dalam Pileg 2009, yang keluar sebagai pemenang, walau penguasa dunia tidak mengakuinya, adalah Partai Golput dengan angka mencapai 40%. Jika PD yang meraih 20% suara saja punya kursi di DPR sebanyak 150 kursi, maka seharusnya Partai Golput yang meraih 40% bisa mendapat 300 kursi di DPR. Yang jelas, rakyat sekarang sudah banyak yang sadar dan cerdas. Rakyat sudah muak dengan semua dagelan konyol ini dan tengah menantikan seorang Imam Mahdi yang akan mengeluarkan mereka dan kita semua dari kekotoran sekarang ini. Wallahu’alam bishawab.
    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  2. amat May 22, 2009 at 11:53 am - Reply

    Termasuk diri sendiri ya pak. Habis bapak kan jadi menterinya pada saat MSP jadi presiden

  3. reizky May 22, 2009 at 1:30 pm - Reply

    Alangkah indahnya kejujuran dan fakta2 yg diungkap karl marx bbrapa dekade itu sudah cukup untuk jadi pijakan potensi dasar pemikiran dan kebijakan pemerintah baru indonesia nanti, PUN dengan bukti rapuh dan konyolnya sistem neolib ini, hanya 1% dari total penduduk dunia yang menguasai hampir 90% pendapatan global, how cud it be?
    Tentu karena ada permainan didalamnya, sebuah permainan yang tak sehat! Sudah seyogyanyalah saat ini indonesia beralih dari investasi overseas ke investasi domestik, dari wallstreet ke mainstreet!!
    Karna smakin bnyak kita mengambil lumbung dari mereka, smakin kita kecanduan hingga ketergantungan!!
    Terakhir , mari jikalah berdangang utamakan asas kejujuran, siapapun pengusahanya, apapun yg didagangkanya pasti akan menuai hasil yang sehat.
    Seperti Rasulullah s.a.w yang memfigurkan itu semua.

  4. aca aca May 22, 2009 at 2:24 pm - Reply

    ooh gitu y. baru tau saya. kalo gitu caranya, saya golput saja…

Leave A Comment