“Hal pertama dan utama dalam menjalankan organisasi adalah kepercayaan.”

Begitu kalimat pertama yang terhantar dalam pengantar yang diberikan oleh Sutomo, Ketua Umum Averroes. Mari simak utuhnya special moments and special quotes yang disampaikan dalam Workshop Capacity Building bertajuk Persiapan Program PADI 2018-2019 berikut ini;

Rekan-rekan semuanya.

Dalam memulai, mengelola dan terlibat dalam pekerjaan, kepercayaan ialah faktor kunci. Kepercayaan ialah cara pandang dan dipandang-antar individu dengan landasan aku mampu, kamu mampu dan kita mampu. Bahwa semua orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk dipandang mampu dalam menjalankan tugas oleh rekannya.

Berkaitan dengan kepercayaan, ada satu prinsip mendasar yang harus dipahami bersama yakni pola komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik itu bagaimana? Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang menguatkan satu sama lain, bukan saling melemahkan. Tentu tidak bermaksud menafikan kekurangan, namun lebih melihat pada aspek kelebihannya.

Lalu bagaimana bentuk komunikasi yang baik itu? Perlu dipahami bersama bahwa bentuk komunikasi yang baik itu tidak melulu harus dengan bentuk yang formil. Bisa jadi bentuk atau caranya dengan guyonan atau juga saling gojlokan. Tergantung situasi dan kondisi yang sedang berlangsung.

Tidak kalah urgent pula, kurangi baper (bawa perasaan) dalam memahami dan menanggapi apa yang dikatakan oleh orang lain dengan meminimalisir untuk menyimpulkan sepihak tanpa berpikir panjang. Empati itu penting untuk melahirkan rasa simpatik terhadap orang lain.

Case;

Di depan laptopnya, Doni sedari tadi menggaruk-garuk kepala sambil mengumpat beberapa kali. Roni yang memperhatikan langsung nyeplos, “Semangat, Bro. Ayo fokus dan dilanjutkan. Kalau kebanyakan mengumpat dan garuk kepala nanti gak selesai.” Mendengar kalimat itu, Doni langsung nyeplos, “Tau apa kau? Diam saja!” Keduanya kemudian berdebat dengan nada tinggi. Sejak saat itu, keduanya terlibat perang dingin.

Dari jauh, nampak layar laptop Doni muncul gambar judi online. Sedangkan, di laptop Roni terbuka file berjudul “Tabulasi Penilaian Kerja Karyawan.”

Case di atas menunjukkan pola komunikasi yang “tidak tuntas”, sehingga diperlukan sikap saling menghargai sekaligus mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Keseimbangan pola komunikasi inilah yang perlu dibudayakan dalam berorganisasi, bukan sebaliknya.

Berkenaan dengan kepercayaan, terdapat tiga faktor kunci.

Pertama, partisipasi.

Partisipasi berarti keterlibatan, keterlibatan dalam bentuk apapun, bisa jadi pikiran, tenaga atau yang lainnya. Partisipasi yang tinggi akan menumbuhkembangkan kepercayaan yang tinggi.

Seseorang yang jarang terlibat jangan berharap mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Apalagi jarang terlibat,  tidak paham apa yang sudah dilakukan orang lain, namun masih tetap memaksakan bahwa ia yang paling benar dan menganggap yang lain adalah salah. Ini seolah hal yang kecil, tapi justru berpengaruh dalam pergerakan roda organisasi itu sendiri. Keniscayaan yang muncul adalah makin terkikisnya kepercayaan dari orang lain.

Kedua, transparansi.

Faktor kedua ialah transparansi. Apapun harus transparan, jelas, tanpa ada kerahasiaan, apalagi menyangkut tanggung jawab orang lain. Sederhananya, ada kejelasan dan kepastian apa yang dilakukan. Jika tengah terlibat dalam sebuah tugas, jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi dengan orang lain. Meskipun kadang saran yang diberikan kurang sesuai, bisa jadi apa yang disampaikan terdapat clue untuk menjadi solusi.

Transparansi ini juga menjadi landasan mengapa seseorang harus memberikan ‘kelonggaran’ atau ‘kesempatan’. Caranya adalah dengan meminimalisir “pelanggaran” dari apa yang sudah menjadi kesepakatan dalam organisasi, meskipun terkait dengan hal pribadi sekalipun. Agar agar tidak ada pihak yang curiga atau tiba-tiba berpikir ‘jangan-jangan orang ini sedang dipenjara’.

Ketiga, akuntabilitas.

Faktor selanjutnya adalah akuntabilitas yang berarti bertanggungjawab apa yang menjadi tugasnya. Perihal ini pun sangat penting untuk menjelaskan pada orang lain tentang kondisi terakhir yang melekat pada dirinya dalam melaksanakan tugas atau tanggung jawab. Bagaimanapun dan dengan kondisi apapun, tugas harus dikerjakan, dan diselesaikan serta dilaporkan.

Akuntabilitas juga meliputi urusan keuangan. Hindarkan diri dari ketidak-akuntabel-an keuangan atau anggaran. Mengapa? Karena uang adalah hal yang sensitif. Sepuluh juta rupiah jelas berbeda dengan sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan puluh sembilan rupiah.

Rekan-rekan sekalian.

Terakhir, jangan bosan bercerita dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Jangan sampai hanya karena miskomunikasi terjadi persinggungan atau pertengkaran. Ganti dari ‘pintar omong’ menjadi ‘omong pintar’, bersamaan dengan itu pintar pula mendengarkan dan memahami orang lain.

Semoga sukses dan lancar selalu untuk kita semua. Selamat bertugas dan niatkan belajar serta beribadah, insyaallah berkah. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *