Kita sekarang akan membahas secara jelas implikasi yang paling penting dari fenomenologi terhadap teori sains. Pertama-tama pembahasan ini haruslah kembali kepada teori fenomenologis tentang pengalaman dalam maknanya yang asli. Secara pokok, semua sains secara tematis, secara metodis, dan kritis, dengan sebuah momen yang spesifik dari pengalaman kita. Jika kita mendefinisikan pengalaman sebagai pertemuan antara seorang subyek-dengan-banyak-sikap dengan realitas, kita dengan segera bisa melihat kesalahan dari pandangan saintifik yang ideal dari Comte. Setiap sikap yang tertentu dari subyek membuka sebuah ruang spesifik dari aktualitas. Perumusan atas realitas, sebagaimana yang diarahkan oleh penyelidikan ilmiah, berlangsung menuju sebuah artikulasi dari banyak sistem makna. Sistem terartikulasi ini tak bisa direduksikan satu sama lain, juga tak bisa ditambahkan satu sama lain seperti sebuah mosaik (Kwant).

Hanya jika mendefinisikan pengalaman sebagai sebuah cermin dari suatu dunia-dalam-dirinya-sendiri, maka menjadi mungkin untuk untuk memikirkan usaha-usaha ilmiah yang beragam sebagai sesuatu yang sedang menuju suatu sintesis agung yang darinya segenap kesalahpahaman dan ketidakcocokan disingkirkan. Namun fakta-fakta kehidupan ilmiah menunjukkan cerita lain. Dengan kemajuan sains, disiplin ilmu yang berbeda-beda terlihat bergerak semakin dan semakin menjauh satu sama lain. Seringkali para ilmuwan dari satu disiplin mendapati kesulitan untuk berkomunikasi dengan para ilmuwan dari disiplin ilmu yang lain. Fakta ini menjadi sungguh dapat dimengerti dalam kerangka fenomenologis. Suatu disiplin ilmu yang sedang aktif berkembang perlahan-lahan menjadi sadar akan sikap intrinsiknya sendiri dan tak mau membingungkannya dengan sikap intrinsik dari disiplin ilmu yang lain. Suatu disiplin ilmu tak dapat memulai jalannya menuju kemajuan yang nyata selama masih terkandung beberapa kebingungan mendasar mengenai sikap yang khas dari disiplin ilmu tersebut. Selama kebingungan itu masih ada, suatu disiplin ilmu tertentu tak bisa berkembang karena belum ditentukan wilayah khusus dari realitas yang akan dicurahkannya.

Sebagai misal, sosiologi tak dapat berkembang sebagai sebuah ilmu pengetahuan selama dia berpegangan pada gagasan ideal sains yang dimiliki oleh fisika. Sebuah sains psikologis atas realitas manusia yang hidup bahkan tak bisa dimulai sampai sikap-sikap yang inheren dalam kimia dan mekanika telah diatasi. Fisika tak dapat berkembang sebagai sains sepanjang dia tetap terilhami oleh titik-titik pandang teologis. Kita melihat beberapa ahli fisika awal menata bumi sebagai pusat alam semesta berdasarkan spekulasi telogis mengenai inkarnasi Yesus. Kesimpulan yang bisa ditarik dari sini ialah bahwa siapapun yang melangsungkan disiplin ilmu yang berbeda tidak bisa diharapkan untuk bisa berkomunikasi satu sama lain selama mereka tetap dalam sikap yang khas dengan disiplin ilmu mereka. Jika dalam kenyataannya, mereka bisa mengerti satu sama lain, itu karena salah satu dari mereka secara sementara waktu mengambil alih sikap yang inheren dalam disiplin ilmu dari yang lain dan hidup dalam dunianya. Atau misal lain, mereka tanpa sengaja gagal untuk memahami satu sama lain karena pluralitas makna yang dikaitkan pada makna yang sama. Sebagai misal, seorang ahli fisika dan seorang ahli teologi tak dapat berbincang mengenai “kausalitas” sepanjang konsep ini tetap diletakkan dalam sikap mereka masing-masing yang inheren bagi disiplin ilmu mereka.

Karenanya kita bisa mengerti mengapa tak satupun dari sains, dalam pengertian yang dangkal, dapat membangun sebuah bukti mengenai keberadaan Tuhan. Sains juga tak dapat mendukung teisme ataupun mencela ateisme. Seorang saintis tenggelam dalam sikap khas dari disiplin ilmunya sehingga bahkan tak memahami apa yang sedang kita tanyakan manakala kita meminta bukti atas keberadaan Tuhan. Untuk waktu yang lama, rupanya seolah-olah sains secara perlahan-lahan mengeliminir Tuhan dari segenap realitas. Beberapa ahli bahkan memandang ini sebagai tugas dari sains. Sebenarnya, sains secara konsisten secara diam-diam menggariskan batas-batas wilayah yang bisa dijangkau oleh agama. Dengan melakukan itu sebenarnya sains telah memurnikan sikap religius. Realitas religius secara perlahan mendapatkan makna religiusnya yang murni sehingga tidak memungkinkannya untuk memperluas kontrol kekuasaan religi atas realitas-realitas lain dari tindakan manusia. Di masa yang lalu, kita telah menyaksikan banyak konfrontasi dramatis antara realitas ini dengan religi. Kesalahpahaman dan kehadiran penderitaan merupakan bagian dari krisis, dan manusia harus mengalaminya untuk mencapai level pandangan mendalam yang baru.

Perkembangan sains menawarkan diri sebagai sebuah penolakan yang jelas atas ide bahwa pengalaman itu tak lain dari sebuah dunia-dalam-dirinya-sendiri. Ahli sains yang lebih maju beberapa masa yang lalu telah meninggalkan gambaran ideal saintifiknya Comte. Fenomenologi memperlihatkan pada kita bahwa kita di sini tidak sedang berurusan dengan sebuah kemerosotan dan keterpecahan usaha-usaha ilmiah, namun alih-alih kita sedang menyaksikan datangnya zamannya sains yang partikular.
Kita juga telah melihat bahwa Husserl tidak mengembangkan filsafatnya menjadi sebuah ontologi tentang manusia sebagai keterbukaan, bahkan meskipun dia melukiskan kesadaran (yang merupakan modus dari ada-nya manusia) sebagai intensionalitas. Husserl mengawali penyelidikan fenomenologisnya dalam pencarian akan sebuah metode yang akan membangun fondasi pengetahuan. Metode fenomenologis dirancang untuk mencapai basis yang pasti dari pemikiran, dan reduksi tetaplah sebuah bagian yang esensial dari usaha tersebut. Pada Heidegger, fenomenologi berkembang menjadi sebuah filsafat manusia sebagai keterbukaan. Sangat menarik bahwa reduksi itu yang masih tetap merupakan bagian yang esensial dari metode-nya Husserl, terlihat absen dalam Heidegger. Sebenarnya, reduksi membentuk suatu bagian dari filsafat Heidegger; kita mendapatinya di sana dalam bentuk penghancuran sejarah ontologi. Pada Heidegger kita mendapati fenomenologi digunakan dalam sebuah pengertian yang luas dan tidak semata-mata sebagai sebuah metode untuk mencapai yang pasti. Fenomenologi pada Heidegger mengambil bentuk sebagai filsafat yang lengkap, setidaknya sejauh “komplet” memiliki arti sesuatu dalam filsafat.

Apa yang telah kita perbincangkan sejauh ini mengenai fenomenologi haruslah menciptakan kejelasan bahwa sebagai sebuah filsafat, fenomenologi meliputi setidaknya sebuah antropologi filosofis, sebuah kosmologi, sebuah kriteriologi, dan sebuah filsafat ilmu. Kebiasaan memperbincangkan fenomenologi seolah-olah dia merupakan sebuah metode, hanyalah pemindahan sedari saat-saat awal mula yang di dalamnya fenomenologi mendapatkan kelahiran-nya. Hanya secara perlahan-lahan fenomenologi menyingsing di atas dunia filosofis, dan sebuah filsafat yang sungguh-sungguh baru telah muncul mengada.