Manusia sebagai Eksistensi (10)

exixtence

Fenomenologi memandang kesadaran sebagai suatu modus ada-nya-manusia dan melukiskannya dalam istilah intensionalitas. Deskripsi kesadaran ini dengan mudah membawa ke sebuah ontologi dimana manusia dilihat sebagai sebuah keterbukaan, sebagai eksistensi. Husserl sendiri tidak berjalan sejauh itu namun kita bisa menemukan perkembangan ini dalam Being And Time-nya Heidegger. (Kita secara sementara waktu akan meninggalkan pertimbangan atas fakta bahwa dalam Heidegger, fenomenologi bergerak ke arah metafisika.)
Eksistensialisme dan Fenomenologi

Pemikiran Heidegger tidaklah secara begitu saja mengikuti alur sepanjang yang ditunjukkan oleh mentornya, Husserl. Sesuatu yang sungguh baru ditambahkan dan unsur baru ini ditimba dari Kierkegaard. Pemikiran Heidegger merepresentasikan sebuah fusi dari dua arus pemikiran yang berkaitan namun terpisah. Fusi itu secara umum bergerak dengan nama fenomenologi eksistensial. Kierkegaard melihat manusia sebagai eksistensi, sebagai gerakan subyek manusia menuju sesuatu yang bukan subyek itu sendiri, sebagai gerakan menuju Tuhan. Ada sebuah kesamaan yang jelas antara deskripsi tentang manusia ini dan deskripsi Husserl tentang intensionalitas.

Eksistensialisme dalam pemikiran Kierkegaard mengimplikasikan sebuah ekspresi radikal dari individualitas yang sungguh kongkrit, secara radikal subyektif dan sepenuhnya orisinal, dan tak tergantikan. Pandangan ini tak cocok dengan segenap upaya menuju universalitas subyektif dan obyektif. Eksistensialisme diderivasikan dari bias anti-saintifik awalnya ini. Dalam pandangan ini, pengetahuan filsafat dapat diklaim sebagai filosofis hanya sejauh dia telah meninggalkan semua pretensi  untuk menjadi pengetahuan saintifik, yaitu menjadi valid secara universal entah dalam pengertian obyektif maupun subyektif.

Walaupun begitu, Husserl memandang filsafat sebagai sebuah “ilmu yang rigorus,” yang dikarakterisasikan oleh validitas subyektif dan obyektif yang universal. Validitas obyektif dapat dicapai melalui “pandangan atas esensi,” “vision of essence” (Wesenschau) atas obyek-obyek yang dihasilkan dari reduksi eidetik. Dalam reduksi yang terakhir ini ahli fenomenolog menunda partikularitas dari realitas yang dipikirkan dengan tujuan untuk mencapai esensinya. Dengan bantuan metode variasi bebas Husserl berusaha memisahkan esensi dari sebuah realitas dari aspek-aspek periferalnya. Pemulihan esensi ini mengungkapkan momen yang secara universal valid dan obyektif dalam tindak mengetahui, dan karenanya Husserl bisa secara sah memperbincangkan sebuah ilmu yang fenomenologis.

Dalam Heidegger kita menemukan sebuah ontologi saintifik dari manusia sebagai keterbukaan. Ontologi ini dicapai melalui sebuah fenomenologi yang diperkaya dengan beragam tema yang ditimba dari eksistensialise. Dengan bantuan sebuah metode fenomenologis yang valid secara saintifik, Heidegger berusaha untuk merealisasikan sebuah teori tentang manusia yang umum dan valid secara saintifik sebagai eksistensi, sebagai keterbukaan. Maka eksistensialisme dan fenomenologi mengalir bersama dan membentuk sebuah kesatuan baru. Dalam kesatuan ini, eksistensialisme menyediakan tema-tema, yang dengan bantuan fenomenologi, diperdalam menjadi sebuah ontologi yang valid tentang manusia. Fakta bahwa upaya ini dilakukan oleh Heidegger menghasilkan suatu “deteologisasi” atas pemikiran Kierkegaard.

Bersambung

Gambar: http://www.presenttruthmag.com/archive/XXV/25pg17d.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>