<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Averroes Community &#187; Fenomenologi</title>
	<atom:link href="http://www.averroes.or.id/category/belajar-fenomenologi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.averroes.or.id</link>
	<description>Membangun Wacana Kritis Rakyat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 04:18:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>&#8220;Fakta Primitif&#8221; Fenomenologi Eksistensial</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/fakta-primitif-fenomenologi-eksistensial.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/fakta-primitif-fenomenologi-eksistensial.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 05:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/fakta-primitif-fenomenologi-eksistensial.html</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa banyak yang bisa diterangkan melalui filsafat baru ini? Para filsuf sepanjang zaman telah berusaha mengungkapkan makna hakiki dari realitas. Jangkauan luasnya realitas yang bisa diterangkan oleh sebuah filsafat telah ada pada tahap pertama kemunculannya. Semua kemasukakalan dan ketidakmasukakalan dari sebuah sistem pemikiran dapat dilacak ke permulaan sistem tersebut. Sebagai misal, ketidakmampuan materialisme dapat dengan [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/fakta-primitif-fenomenologi-eksistensial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Fenomenologi: Teori Baru tentang Sains</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-teori-baru-tentang-sains.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-teori-baru-tentang-sains.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 01:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-teori-baru-tentang-sains.html</guid>
		<description><![CDATA[Kita sekarang akan membahas secara jelas implikasi yang paling penting dari fenomenologi terhadap teori sains. Pertama-tama pembahasan ini haruslah kembali kepada teori fenomenologis tentang pengalaman dalam maknanya yang asli. Secara pokok, semua sains secara tematis, secara metodis, dan kritis, dengan sebuah momen yang spesifik dari pengalaman kita. Jika kita mendefinisikan pengalaman sebagai pertemuan antara seorang [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-teori-baru-tentang-sains.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Ontologis dari Pengalaman yang Utuh (16)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/makna-ontologis-dari-pengalaman-yang-utuh-16.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/makna-ontologis-dari-pengalaman-yang-utuh-16.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 17:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/makna-ontologis-dari-pengalaman-yang-utuh-16.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah eksposisi yang lebih teoritis ini atas konsep Einstellung-nya atau sikapnya subyek, kita lebih baik memberikan sebuah contoh kongkret dan ilustratif.

Untuk tujuan ini, marilah kita menyelidiki makna air. Biasanya aku memikirkan air sebagai sesuatu yang aku gunakan untuk berendam atau sesuatu yang melegakan dahagaku. Dalam suatu perjalanan memancing, sikapku atas air berubah, sehingga di atas [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/makna-ontologis-dari-pengalaman-yang-utuh-16.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanah Tumbuhnya Filsafat (15)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/tanah-tumbuhnya-filsafat-15.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/tanah-tumbuhnya-filsafat-15.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 07:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/tanah-tumbuhnya-filsafat-15.html</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bagian yang lalu, kita sebenarnya telah menemukan sebuah jalan baru mengungkapkan metode fenomenologi eksistensialis. Fenomenologi adalah metode filosofis yang berusaha untuk mempenetrasi ke akar-akar yang tak terbantahkan dari pemikiran kita. Metode yang demikian itu mengandaikan sebuah gerak kembali ke &#8220;pengalaman kehidupan,&#8221; kepada dunia pengalaman asli kita. Memotong koneksi dengan dunia &#8220;dunia-yang-kualami&#8221; berarti meletakkan individu [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/tanah-tumbuhnya-filsafat-15.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cogito yang Bereksistensi Secara Pra-Refleksif</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/cogito-yang-bereksistensi-secara-pra-refleksif.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/cogito-yang-bereksistensi-secara-pra-refleksif.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 06:37:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[expérience vécue]]></category>
		<category><![CDATA[Merleau-Ponty]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/cogito-yang-bereksistensi-secara-pra-refleksif.html</guid>
		<description><![CDATA[Eksistensi sebagai Esensi Manusia
Definisi atas manusia ini menyangkutkan dirinya dengan esensi manusia, dengan kodratnya, dengan keberadaannya yang terdalam. Namun, ada filsuf-filsuf eksistensialis yang menolak untuk berbicara tentang “kodrat” manusia. Hal ini bisa dimengerti sejauh filsafat eksistensial terlibat dalam perjuangan melawan kecenderungan dominan dalam filsafat dimana manusia ditampilkan sebagai hanya &#8220;sebongkah kodrat.” Kodrat di sini senantiasa [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/cogito-yang-bereksistensi-secara-pra-refleksif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Fenomenologi, Menunjukkan dan Membuktikan (13)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-menunjukkan-dan-membuktikan-13.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-menunjukkan-dan-membuktikan-13.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 20:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[an sich]]></category>
		<category><![CDATA[Dondeyne]]></category>
		<category><![CDATA[en soi]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/?p=992</guid>
		<description><![CDATA[Klaim bahwa ada-sebagai-manusia haruslah didefinisikan sebagai eksistensi, sebagai ada-yang-sadar-dalam-dunia, tidaklah dapat dibuktikan dengan pengertian logis secara ketat. Mendefiniskan manusia dengan jalan ini menjadi sah hanya di atas dasar sebuah pandangan yang tak bisa direduksikan menjadi sebuah pandangan yang lebih umum. Seorang filsuf hanya dapat “menunjuk” pada definisi. Ini tentu saja merupakan sesuatu yang amat disayangkan, [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/belajar-fenomenologi-menunjukkan-dan-membuktikan-13.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Monisme Materialistik dan Spiritualistik (12)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/antara-monisme-materialistik-dan-spiritualistik-11.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/antara-monisme-materialistik-dan-spiritualistik-11.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 07:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[Dondeyne]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Fenomenologi dalam perkembangannya menuju sebuah ontologi atas manusia telah membuka pada pandangan kita sebuah jalan tengah antara monisme materialistik dan monisme spiritualistik (Dondeyne). 
Semua sistem pemikiran materialistik sepakat dalam satu hal: manusia dilihat sebagai hasil dari proses dan kekuatan kosmik, merupakan suatu benda di tengah-tengah benda-benda yang lainnya, sebuah plato atau titik pemberhentian dari evolusi [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/antara-monisme-materialistik-dan-spiritualistik-11.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegigihan Jaspers dan Marcel (11)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/kegigihan-jaspers-dan-marcel-11.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/kegigihan-jaspers-dan-marcel-11.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 07:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>
		<category><![CDATA[Jaspers]]></category>
		<category><![CDATA[Kierkegaard]]></category>
		<category><![CDATA[Marcel]]></category>
		<category><![CDATA[Sartre]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Bias anti-saintifik dari eksistensialisme berlanjut dalam pemikiran Jaspers dan Marcel. Pemikiran ini berada dalam kontradiksi yang konstan dengan dirinya sendiri sepanjang pemikiran itu secara implisit berusaha untuk menjadi lebih dari sekedar monolog. Membaca pemikiran anti-saintifik Jaspers dan Marcel secara harfiah belaka hanya akan berarti bahwa pemikiran seorang eksistensialis akan kehilangan validitasnya dalam semua situasi kecuali [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/kegigihan-jaspers-dan-marcel-11.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia sebagai Eksistensi (10)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/manusia-sebagai-eksistensi-10.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/manusia-sebagai-eksistensi-10.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 20:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>
		<category><![CDATA[Kierkegaard]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[
Fenomenologi memandang kesadaran sebagai suatu modus ada-nya-manusia dan melukiskannya dalam istilah intensionalitas. Deskripsi kesadaran ini dengan mudah membawa ke sebuah ontologi dimana manusia dilihat sebagai sebuah keterbukaan, sebagai eksistensi. Husserl sendiri tidak berjalan sejauh itu namun kita bisa menemukan perkembangan ini dalam Being And Time-nya Heidegger. (Kita secara sementara waktu akan meninggalkan pertimbangan atas fakta [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/manusia-sebagai-eksistensi-10.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sartre Bukanlah Seorang Fenomenolog, tetapi Seorang Pemikir Cartesian (9)</title>
		<link>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/sartre-bukanlah-seorang-fenomenolog-tetapi-seorang-pemikir-cartesian-9.html</link>
		<comments>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/sartre-bukanlah-seorang-fenomenolog-tetapi-seorang-pemikir-cartesian-9.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 00:46:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ave</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenolog]]></category>
		<category><![CDATA[Nausea]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikir Cartesian]]></category>
		<category><![CDATA[Sartre]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.averroes.or.id/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[
“Jika ada Tuhan, Dia haruslah Tuhan-bagi-aku” (Jolivet).
Sartre memberikan deskripsi yang luas mengenai dunia-dalam-dirinya-sendiri (monde-en-soi). Namun, deskripsi ini sama sekali tak bermakna apa-apa, dan dengan sedikit usaha kita bisa setidaknya mempelajari sumber ketidakbermaknaan ini. Sartre melukiskan “dalam-dirinya-sendiri” dalam pengertian sesuatu yang yang sangat padat, yang positivitasnya lengkap, sebagai sesuatu yang sepenuhnya diisi dengan dirinya sendiri, dsb. [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.averroes.or.id/belajar-fenomenologi/sartre-bukanlah-seorang-fenomenolog-tetapi-seorang-pemikir-cartesian-9.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
