Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat mengharapkan peran serta negara-negara lain, terutama enam negara yang tergabung dalam segitiga terumbu karang, untuk menyukseskan Deklarasi Manado yang ditandatangani Kamis (14/5) petang ini pukul 16.00 Wita di Grand Kawanua Convention Centre (GKCC), Manado.

Sebelumnya, Kamis pagi, Presiden membuka Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) 2009 sekitar pukul 09.00 Wita. Pertemuan yang diawali dengan penyanyian lagu “Save Our Planet” karya Presiden itu juga dihadiri oleh perwakilan dari sedikitnya 100 negara. Untuk menandai pembukaan WOC pertama kalinya itu, Kepala Negara memukul tetengkoren, alat musik tradisional Minahasa dan menandatangani Sampul Hari Pertama (SHP) Prangko Seri Istimewa WOC 2009.

Isi Deklarasi Manado diharapkan menggugah dunia internasional bahwa penyelamatan laut merupakan harga mati untuk menyelamatkan ekosistem laut dari perusakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Ketua Senior Official Meeting on WOC/SOM-WOC Eddy Pratomo, ada paragraf khusus untuk masyarakat pesisir karena mereka terkena dampak langsung.

Masalah illegal fishing juga mendapat perhatian. “Kami ingin manajemen penangkapan ikan berlanjut supaya laut tetap sehat,” katanya seusai pembukaan pertemuan tingkat tinggi WOC. Dengan demikian, masyarakat pesisir dan masalah penangkapan ikan secara tidak sah mendapatkan perhatian khusus dalam draf Deklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declaration/MOD).

Eddy mengatakan, perhatian untuk masyarakat pesisir dan nelayan dalam draf deklarasi yang terdiri atas 14 pasal pembukaan dan 21 pasal operasional itu dimaksudkan untuk melindungi komunitas kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim terhadap laut, serta memelihara kelestarian sumber daya hayati laut.

“Kalau sampai terjadi overfishing dan eksploitasi tanpa memerhatikan lingkungan, generasi mendatang mungkin tidak akan kebagian. Karena itu, masyarakat pesisir akan mendapat porsi pendanaan,” lanjutnya. Draf deklarasi tersebut juga meliputi pembangunan kawasan perlindungan laut terpadu yang memperhatikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat di kawasan pesisir.

Dalam kunjungan ke Manado, Presiden didampingi Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menlu Hasan Wirajuda, Mendagri Mardiyanto, Menkominfo Mohammad Nuh, Menhub Jusman Syafii Djamal, Menneg LH Rachmat Witoelar, Menbudpar Jero Wacik, Menhut MS Kaban, dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso.

Diabaikan Dunia

Sementara itu, Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton, dalam rekaman pidato yang disampaikan di depan delegasi WOC dan CTI Summit di Manado, mengatakan bahwa WOC membahas isu penting yang terkadang diabaikan oleh dunia.

“Seperti kita ketahui bersama, kesehatan planet kita saling terhubung. Dan saat ini, laut kita mengalami tekanan dari beberapa sumber laut yang semakin asam, penangkapan ikan secara berlebihan yang telah mengancam ekosistem laut, pembangunan yang tanpa batas, polusi yang telah menyebabkan kerusakan di daerah pesisir, serta pemanasan global yang telah menyebabkan naiknya permukaan air laut dan badai yang kuat,” tegasnya.

Menurut Clinton, bulan Desember 2009, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) akan menyelenggarakan Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark, dan WOC 2009 ini untuk mempersiapkan segala sesuatunya semaksimal mungkin guna memastikan kesuksesan hasil konferensi di bulan Desember nanti.

Dia berharap WOC dapat membantu agar dunia memfokuskan perhatiannya kepada hubungan antara laut dan perubahan iklim, serta langkah-langkah global yang lebih lanjut untuk menemukan solusi ilmiah atas permasalahan yang sedang dihadapi dunia. Dia juga mengingatkan tentang biaya kemanusiaan yang timbul akibat perubahan iklim.

Menurutnya, masyarakat di kawasan pesisir, terutama di negara-negara berkembang, mengalami dampak sangat besar dari pemanasan global. Banyak kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari ekosistem laut untuk kehidupan mereka. Perubahan yang terjadi di laut dapat mengancam kemampuan mereka untuk memberikan nafkah bagi keluarga mereka dan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

“Saya berharap WOC di Manado sukses dan saya percaya konferensi ini akan meningkatkan kemajuan kita dan mempertajam pemikiran kita dalam isu yang sangat vital ini. Saya juga berharap adanya kerja sama antarnegara yang lebih dalam lagi untuk memenuhi tanggung jawab mulia kita melindungi kesehatan laut dan planet yang kita tinggali bersama,” harap Hillary.
Di lain kesempatan, Indonesia dan China sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi bersama yang dinamai Pusat Kelautan dan Iklim (Indonesia-China Center for Ocean and Climate/ICCOC).
Kesepakatan itu dicapai dalam workshop para ahli kelautan kedua negara terkait kerja sama ilmu pengetahuan bidang kelautan dan konservasi lingkungan yang digelar selama dua hari bersamaan dengan WOC. (novie waladow/sulung prasetyo/ant)

Sinar Harapan, Kamis, 14 Mei 2009
http://sinarharapan.co.id/berita/0905/14/sh03.html