DRAMA adu mulut antara dua pimpinan tertinggi Kerjaan Spanyol, yakni PM Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero dan Raja Juan Carlos I, versus presiden dua negara sosialis Amerika Latin, Venezuela dan Nikaragua (Kompas,12/11), telah memperlihatkan satu sisi gelap wajah politik dunia. KTT ke-17 Ibero-Amerika yang seharusnya menjadi ajang kerja sama untuk memerangi kemiskinan, sontak berubah menjadi ajang caci maki.

Sebagian besar media memberitakan peristiwa ini atas dasar cercaan Hugo Chavez terhadap mantan PM Spanyol, Jose Maria Aznar, yang perilakunya lebih buruk daripada ular dan menuduhnya sebagai seorang fasis. Tapi apakah memang sesederhana itu persoalannya? Bagaimana bisa seorang pimpinan negara besar seperti Venezuela sampai hati mengatakan hal tersebut di forum terhormat yang dihadiri para kepala negara seantero Amerika Latin? Bagaimana kita merefleksikan kejadian ini dalam perilaku dan etika politisi dalam negeri saat ini?

Pemicu Konflik

Tidak banyak media yang memberitakan bagaimana sesungguhnya proses dialog yang terjadi hingga berakhir dengan semburan cercaan itu. Kejadian bermula saat Zapatero mengatakan bahwa sebuah negara tidak akan pernah bisa maju bila selalu menyalahkan pihak-pihak luar sebagai alasan persoalan yang terjadi di negaranya.

Penolakan atas teori kemiskinan struktural internasional merupakan poin utama dari Zapatero. Kemiskinan dan berbagai masalah ada harus disikapi secara domestik dan melalui pembenahan-pembenahan di dalam negeri.

Penyataan itulah yang sama sekali tidak bisa diterima dan terdengar sangat lucu oleh Chavez. Sebagai salah satu pengikut ajaran Noam Chomsky, tentu saja dia percaya bahwa kekuatan negara-negara besar telah banyak menyebabkan persitiwa buruk yang terjadi di negara-negara berkembang.

Salah satu contoh yang diungkapkannya adalah upaya kudeta atas dirinya di tahun 2002 yang disokong oleh PM Spanyol saat itu, Jose Maria Aznar. Contoh tersebut sangatlah telak dalam mematahkan teori Zapatero tentang tidak perlunya menyalahkan pihak luar atas persoalan dalam negeri. Daniel Ortega turut menimpali dengan pergolakan politik di Nikaragua yang juga dicampuri oleh perusahaan besar Spanyol Union Fenosa.

Dalam skema diskursus ini tentu saja kita tidak bisa dengan mudah mengatakan pihak mana yang benar dan salah. Dua kutub yang berseberangan merupakan refleksi dari dua paradigma teori yang berbeda. Paradigma teori fungsionalis berpendirian bahwa faktor internal adalah segalanya, sementara paradigma strukturalis memangdang faktr eksternalah yang menyebabkan kondisi internal terjadi.

Dua kutub teori tersebut belum bisa dengan mudah dikatakan satu lebih benar terhadap yang lain. Ilmuwan sosial akhirnya dengan bijak menyimpulkan bahwa itu sangat tergantug pada kondisi dan fakta yang dihadapi, satu fakta mungkin akan menunjukkan bahwa teori internal focus benar, tapi mungkin di tempat dan atau waktu yang berbada justru sebaliknya.

Fadillah Putra, 1st year LBJ School of Public Affairs Student University of Texas at Austin

Bersambung