SUDAH sepantasnya kita melihat perdebatan antara Zapatero versus Hugo Chavez sebagai sebuah pedebatan ilmiah yang mencerahkan ketimbang melihatnya sebagai perbuatan kekanakan yang memalukan. Karena materi perdebatan mereka sesungguhnya amatlah fundamental.

Karena itu ia bisa digeneralisir dan bisa menginspirasi semua orang yang menghadapi kasus serupa. Untuk kasus Indnesia misalnya, seharusnya perdebatan dua tokoh dunia ini meninspirasi masyarakat kita dalam mempertanyakan persoalan kemiskinan di Indonesia. Terus menerus mempertanyakan apakah kemiskinan kita ini masalah dari si miskin itu sendiri, kebijakan pemerintah Indesia yang tidak memihak kaum miskin atau tatanan eknonomi politik dunia yang memiskinkan Indonesia? Sayangnya yang kita dengar dari cerita tersebut hanyalah adu mulut, sumpah serapah, tudingan dan walk out.

Antara Etika dan Kejujuran

Epilog yang seharunya dengan manis diakhiri dngan sebuah diskursus itu menjadi musnah hanya karena dua kata, yaitu ‘ular’ dan ‘fasis’, yang keluar dari mulut Hugo Chavez. Oleh karenanya banyak media di Spanyol yang mengambil angel ketidaksopanan Chavez dalam kejadian itu, inilah yang membuat banyak kalangan di Spanyol yang mengelukan sikap raja mereka yang membentak Chavez: “Tutup mulutmu!”.

Tidak semua kalangan di Spanyol sesungguhnya setuju dengan sikap raja mereka itu. Ketua Persatuan Partai Kiri Spanyol, Gaspar Llamazares, mengatakan dalam harian El Pais bahwa sebaai seorang pemimpin besar tidak sepantasnya raja Spanyol membentak seseorang di forum terhormat. Bentakan tersebut membuat perbedaan perilaku antara Juan Carlos I dengan Hugo Chavez menjadi tiada.

Yang menarik dari sikap Llamazares tersebut adalah karena ia ingin menunjukkan bahwa sikap Zapatero membela Aznar itu sesungguhnya sangatlah aneh. Kita tahu bahwa Zapatero yang berangkat dari Partai Buruh Sosialis sesungguhnya sangatlah berseberangan secara ideologis dengan pendahalunya, Aznar, yang berangkat dari Partai Rakyat yang dikenal sangat kapitalis.

Kalau teori politik aliran berlaku di forum KTT ke 17 Ibero-America waktu itu tentulah yang terjadi Zapatero akan berangkulan dengan Chavez dan Ortega, tertawa bersama merayakan kemenangan sosialisme. Tapi kita saksikan bersama bahwa teori itu tidak berlaku pada saat itu dan disitu. Kepentingan menjaga harkat dan marabat bangsa lebih utama bagi Zapatero saat itu.

Akan tetapi, dalam kaca mata etika politik nasionalistik sikap Zapatero dalam membela Aznar tersebut tentunya sangat terpuji. Karena dalam kancah pertarungan yang lebih besar seharusnyalah kita melupakan pertikaian dan persaingan di tigkat domestik. Tidak lantas pertarungan domestik berujung perpecahan dan berakhir dengan menyebar kebencian di mana-mana. Itulah yang disebut etika dalam berpolitik.

Tapi berbeda dengan standar moral yang digunakan Chavez. Dia lebih menekankan bahwa kejujuran dalam politik lebih penting dari pada berpura-pura bersikap manis. Jujur dalam mengatakan bahwa campur tangan pihak luar dalam politik dalam negeri tidaklah pantas merupakan pelajaran moral penting dari pernyataannya. Tapi memang tidak seharusnya kata-kata ‘ular’ dan ‘fasis’ keluar dari mulutnya. Bersikap jujur tidak mesti harus berkata kasar dan sekenanya mencaci maki.

Sekali lagi, pelajaran penting dari insiden ini yang tek banyak diketahui khlayak adalah bagaimana peliknya konstalasi fatsoen politik dalam dunia praktik.

Pelajaran untuk Politisi Indonesia

Era model kepemimpinan Sukarno yang berani berbicara lantang menentang ketidakadilan di forum-forum internasioal memang telah berakhir. Mungkin situasi politik internasional dan nasional yang saat ini telah banyak berubah merupakan sebab banyak kalangan mengatakan hal tersbut tidak lagi relevan. Saat ini kita sedang berhadapan dengan masalah internal yang sangat akut, yaitu korupsi dan kemiskinan. Sehingga kita lebih membutuhkan pemimpin yang tangkas memecahkan persoalan-persoalan tersebut, ketimbang menjadi selebritis politik internasinal seperti Chavez.

Tapi kenyataan bahwa Indonesia sangat miskin dalam memiliki tokoh yang disegani secara internasioal juga merupakan masalah tersendiri. Bukan masalah ketenaran yang dikejar, akan tetapi keadaan ini menyebabkan diplomasi Indonesia dikancah internasinal sangatlah lemah. Banyak pemimpin besar kita saat ini yang lebih sibuk berebut kedudukan dan hanya menjadi jago-jago kandang.

Etika politik yang ditunjukkan Zapatero dalam hal membela kepentingan yang lebih tinggi ketimbang memperbesar konflik internal juga pelajaran yang seharusnya dipetik. Jangankan membela kepentingan Indonesia di kancah internasioal, konflik internal partai di Indonesia yang berujung perpecahan partai adalah cermin ketidakmampuan politisi kita dalam memilih kepentingan mana yang seharusnya didahulukan.

Fadillah Putra, 1st year LBJ School of Public Affairs Student University of Texas at Austin

Habis