Superkapitalisme, demikian Robert B. Reich menyebut kapitalisme modern (Robert Reich, 2007). Dengan nama itu, Reich, yang disebut-sebut salah satu pemikir ekonomi dan politik terkemuka Amerika dewasa ini, hendak melukiskan betapa kapitalisme telah berkembang menjadi kekuatan dahsyat tak terbendung.

Diakui, kapitalisme membawa banyak kemajuan. Bahkan Tiongkok, penganut ideologi komunisme, juga dipaksa membuka pintu lebar-lebar bagi kapitalisme. Reich dan sebagian pengamat ekonomi, bahkan beranggapan Tiongkok sedang mengembangkan kapitalisme baru yang lebih tepat disebut authoritarian capitalism, karena besarnya peranan negara dalam mendorong kemajuan ekonomi.

Apa pun atribut yang ditempelkan padanya, satu hal pasti, kapitalisme telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan sosial ekonomis determinan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dunia kesehatan dan pendidikan, yang secara historis berwatak sosial-filantropis, dewasa ini tak tahan oleh daya magis kapitalisme. Kompetisi, profit oriented, atau bahkan profit minded tampaknya tak lagi benar menjadi watak khas bisnis. Seakan tak berdaya menahan tsunami kapitalisme, tarif kesehatan dan pendidikan dipasrahkan pada tuntutan pasar. Politik pun tak urung menjadi korban kapitalisme. Demokrasi dipaksa bertekuk lutut pada pasar. Tidak ada kursi politik tanpa uang.

Kapitalisme, yang semula dipercayai sebagai jalan kesejahteraan, kini berkembang menjadi superkapitalisme berwajah paradoks. Kemajuan yang dihasilkan memang luar biasa, tetapi bersamaan dengan itu, jurang kaya dan miskin terus melebar. Bahkan, negeri-negeri kapitalis terancam bangkrut, tergerogot nafsu kapitalisme. Apa yang harus dilakukan? Meninggalkan kapitalisme?

Kapitalisme Kreatif

Dalam kegamangan ekonomi pasar seperti itu, Bill Gates muncul dengan ide provokatif, perlu kapitalisme kreatif (Michael Kinsley, 2008). Kendati sangat menikmati “jasa” kapitalisme, pendiri dan pemilik Microsoft ini mengakui betapa kapitalisme telah membawa dampak negatif khususnya bagi negara-negara yang sedang berkembang. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif agar dunia tidak semakin terperangkap dalam kebangkrutan sosial akibat keserakahan ekonomi.

Dalam The World Economic Forum di Davos, Switzerland, (24 Januari 2008), Gates -yang tahun ini mengalahkan pesaingnya Warren Bufett untuk kembali dinobatkan sebagai orang terkaya- berusaha mengetuk hati para kapitalis untuk membantu dunia keluar dari kemiskinan. Sambil menyalahkan “pasar” sebagai penyebab kemiskinan global, Gates menegaskan pentingnya mendorong self-interest sebagai motif ekonomi pasar untuk tunduk melayani kepentingan umum (wider interest). Kapitalisme harus terus menciptakan keuntungan, namun sekaligus meningkatkan kesejahteraan kelompok masyarakat yang tidak beruntung (the worst off). Untuk itu, ia menawarkan lima alternatif pendekatan dalam kapitalisme yang menurutnya asalkan dijalankan secara konsisten akan berdampak signifikan pada peningkatkan kesejah- teraan masyarakat negara-negara miskin.

Pertama, perusahaan-perusahan memberikan barang atau menyisihkan sebagian keuntungan untuk mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan (simple corporate philanthropy).

Kedua, membantu bisnis di negara-negara miskin untuk mendapatkan pasar di negara-negara kaya. Perusahaan di negara-negara kaya seharusnya membantu menemukan cara-cara agar produk negara-negara miskin mendapatkan pasar yang menguntungkan di negara-negara maju. Kemitraan antara perusahaan-perusahaan di negara kaya dan negara miskin dapat diupayakan untuk membuka peluang ke arah ini.

Ketiga, menerapkan harga berbeda untuk negara kaya dan negara miskin. Maksudnya, perlu diupayakan agar produk yang sama (obat, misalnya) dijual dengan harga lebih mahal di negara maju untuk mengkompensasi harga lebih rendah yang diterapkan untuk produk yang sama di negara miskin.

Keempat, keterlibatan langsung pemerintah. Di sini pemerintah diminta menciptakan insentif pasar untuk perusahaan-perusahaan demi membantu orang-orang miskin dan negara-negara miskin. Bisnis yang menyerap tenaga kerja atau yang melibatkan masyarakat umum paling banyak, misalnya, juga layak mendapat insentif khusus. Contoh sederhana diperlihatkan Wapres Jusuf Kalla ketika mewajibkan aparat pemerintahan menggunakan sepatu produk dalam negeri.

Kelima, mendapatkan orang terbaik yang mempunyai concern dan komitmen yang sama untuk membantu mengatasi masalah kesenjangan ekonomi. Melalui orang terbaik yang kita kenal baik, kita dapat menemukan sejumlah orang baik lainnya yang bersedia menyisihkan keuntungannya untuk membantu mengatasi masalah kemiskinan. Forum Ekonomi yang digelar di Davos, misalnya, adalah contoh yang baik untuk ini.

Dalam forum seperti ini orang-orang berkumpul untuk saling mengetuk hati dan perasaannya masing-masing agar tergerak membantu membangun sebuah dunia yang lebih nyaman bagi semua orang, termasuk mereka yang kurang atau tidak beruntung di negara-negara miskin.

Kritik Moral

Apa yang diusulkan Gates sebetulnya merupakan kapitalisme hibrida, kapitalisme yang disuntiki spirit filantropis, meskipun ia sendiri tidak menggunakan istilah itu. Yang jelas, kapitalisme kreatif merupakan kritik moral atas kapitalisme modern yang tampaknya semakin menjauhi tujuan orisinal ekonomi, menciptakan kesejahteraan umum. Tujuan seperti ini tidak sertamerta dapat dicapai. Diperlukan disposisi moral pelaku ekonomi untuk mengarahkan kegiatan ekonomi pada kepentingan umum.

Dalam kaitan itu, Gates menegaskan pentingnya kapitalisme dijalankan dengan tuntunan dua misi pokok: profit dan pengakuan. Seorang kapitalis yang baik tentu saja menjalankan aktivitas ekonomi untuk mendapatkan keuntungan ekonomis (finansial). Tetapi, keuntungan ekonomis saja tidak mencukupi. Yang tak kalah pentingnya adalah pengakuan publik.

Pelaku ekonomi yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang tidak akan membatasi keberhasilan bisnisnya semata-mata pada besarnya keuntungan finansial. Pengakuan dan kepercayaan masyarakat, self-esteem, dan kebanggaan diri yang muncul sebagai akibat dari keberhasilan menjalankan bisnis secara terhormat, merupakan nilai yang tak dapat diukur dengan uang. Nilai seperti ini menjadi kekuatan internal yang meredam nafsu kapitalisme tak manusiawi para kapitalis.

Andre Ata Ujan
Penulis adalah Dosen Etika Bisnis Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya, Jakarta

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=6217