Pada Desember 2005, sekitar 20 tokoh lintas agama (MUI, PGI, KWI, Walubi, PHDI, dan lainnya) berangkat menuju Beijing untuk melakukan dialog kerukunan beragama dengan tokoh-tokoh agama di Tiongkok. Saya, sebagai Sekretaris Umum PGI, dan Gus Dur, termasuk dalam rombongan itu.

Sebelumnya, pengenalan saya dengan Gus Dur hanya dari jauh. Beliau tidak mengenal saya, tetapi beliau sangat mengenal PGI. Kesempatan saling berkenalan berlangsung di sebuah ruangan di kantor Ketua Parlemen Tiongkok, yang secara formal menyambut kedatangan kami atas nama negara Tiongkok. Saya memperkenalkan diri sebagai Sekum PGI yang baru terpilih bulan November sebelumnya. Saya lihat Gus Dur manggut-manggut menyimak.

Sejak saat itu, dia selalu menyebut nama saya, Pak Daulay, pada percakapan-percakapan informal selama kami melakukan kegiatan dialog di Beijing. Satu yang menarik bagi saya, selama tiga hari di Beijing, setiap kali kendaraan rombongan Indonesia beriringan dari satu tempat ke tempat lain semua kendaraan umum dialihkan, sehingga rombongan kami berjalan tanpa hambatan. Luar biasa penyambutan negara Tiongkok kepada seorang Gus Dur. Negara Tiongkok sangat menghormati Gus Dur. Konon, negara yang pertama dikunjungi Abdurrahman Wahid setelah menjadi presiden adalah Tiongkok. Dalam setiap dialog, Gus Dur menjadi pembicara utama yang sangat dikagumi pemimpin-pemimpin Tiongkok. Humor Gus Dur yang tak pernah kering selalu menyegarkan.

Perkenalan dan persahabatan saya dengan Gus Dur dimantapkan di dalam pesawat Garuda, ketika kami berdua (secara kebetulan) pulang duluan dari Beijing ke Jakarta. Anggota rombongan yang lain masih melanjutkan kunjungan ke Shanghai. Sebagai mantan presiden, Gus Dur duduk di kelas eksekutif dan saya di kelas ekonomi. Setelah pesawat tinggal landas, beberapa waktu, seorang pramugari mendekati saya dan menyampaikan dengan pelan bahwa Gus Dur mengundang saya duduk bersama dia di depan, karena memang kursi di sebelahnya masih kosong. Dengan senang saya langsung pindah dan duduk di samping Gus Dur.

Selama tujuh jam penerbangan dari Beijing ke Jakarta kami isi dengan pembicaraan tentang berbagai topik, antara lain: keluarga, bangsa, dan kerukunan beragama yang pasti diselang-selingi ketawa terbahak-bahak karena penuh dengan canda. Saya juga tidak kalah perbendaharaan humor. Awak pesawat pun ikut meramaikan “dialog” kami berdua. Pramugari dan pilot secara bergantian minta difoto, berdiri di belakang kami berdua. Memang saat itu kelas bisnis agak longgar.

Alasan saya pulang duluan dari Beijing adalah untuk memenuhi permintaan keluarga Luhut Panjaitan untuk menyampaikan renungan Natal pada Desember 2005, pada ibadah Natal keluarga di kediaman Pak Luhut, yang diawali dengan dinner fellowship. Gus Dur juga hadir dalam acara itu atas undangan Pak Luhut. Yang mengherankan, Gus Dur mengingat nama-nama putri saya yang ikut dalam acara. “Yang mana Santa? Yang mana Rebekka? Yang mana Rahel?” Nama-nama itu dia ingat terus sejak saya menyebutkannya di dalam pesawat.

Pemikir Besar

Persahabatan kami semakin kental. Ketika saya menikahkan putri nomor dua (Anggeni) pada Juli 2006, saya mengantarkan undangan ke kantor Gus Dur. Gus Dur langsung tanya: “Ini anakmu yang dokter atau yang di Amerika?” Saya katakan anak saya yang di Amerika. Kembali saya melihat bagaimana ingatan dan perhatian Gus Dur yang luar biasa terhadap detail keluarga. Kami mendapat kehormatan luar biasa ketika Gus Dur hadir pada resepsi pernikahan putri saya di gedung Lemhannas, Juli 2006.

Banyak hal yang bisa dicontoh dari Gus Dur. Pertama, dia adalah pemikir besar. Pengetahuannya sangat luas. Saya yakin bahwa dia terus belajar dan terus bertanya. Kedua, dia adalah pemimpin sesungguhnya. Pemimpin yang sesungguhnya ialah orang, yang kendati tidak memegang jabatan formal, tetapi masih didengar, diikuti, dan dihormati banyak orang. Gus Dur adalah pemimpin yang sejati. Sampai akhir hidupnya Indonesia tetap menunggu suara Gus Dur dalam berbagai persoalan bangsa.

Ketiga, Gus Dur adalah pemimpin yang berani. Dia berani menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Dia tidak takut menghadapi risiko. Keempat, Gus Dur seorang humanis sejati. Dia sangat merakyat, sangat cepat tergerak oleh belas kasihan atas penderitaan rakyat, tanpa memandang agama, suku, etnik, dan latar belakang sosial. Kelima, Gus Dur seorang guru demokrasi. Dia melatih Indonesia keluar dari mental ABS (asal bapak senang) dengan keberaniannya mengeluarkan pendapat yang berbeda, kritik yang tajam, serta membuka wacana dan dialog.

Kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat, dan berbeda pendapat yang kita nikmati sekarang ini tidak lepas dari kontribusi Gus Dur, yang sejak rezim Orde Baru sudah mendobrak kebekuan sebuah sitem pemerintahan otokratis. Dia adalah guru bangsa.

Selamat jalan Gus Dur, kawanku, guruku, dan idolaku.

Richard Daulay, Penulis adalah mantan Sekretaris Umum PGI

Suara Pembaruan, 05 Januari 2010

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=12866