Pengantar

“Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasi-situasi yang langsung dihadapi, ditentukan, dan ditransmisikan dari masa lalu”
(Karl Marx)

Dalam kacamata awam, saya tahu bahwa sejak lama homoseksualitas atau orientasi seks dan cinta terhadap sesama jenis kelamin,diperbincangan. Homoseksualitas bukan sesuatu yang baru. Alkitab Perjanjian Lama juga menceritakan soal Sodom dan Gomorah. Dalam diskusi ini saya menyumbang sedikit pemahaman tentang homoseksualitas yang selama ini lebih banyak dilihat dari psikologi. Sudut pandang materialis historis digunakan untuk melihat seks lebih sebagai praktik sosial yang punya hubungan timbal-balik dengan tatanan sosial-ekonomi tempat seksualitas bermakna secara historis daripada seks sebagai dorongan psikobiologis semata karena nyatanya kajian sejarah menemukan bahwa pelembagaan praktik-praktik seksual tidaklah sama dan seragam sepanjang masa di semua tempat.

Dalam melihat homoseksualitas pada umumnya, saya akan menganalisisnya pertama-tama pada sejarah seksualitas dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan materialis atas sejarah, praktik dan ideologi seksual tidak bisa lepas dari konteks material masyarakatnya. Konteks material terpenting dalam hubungan manusia dengan alam adalah produksi dan reproduksi kebutuhan material.

Restu dari Dewa: Homoseksualitas dalam Ekonomi Primitif

Tidak seperti binatang lainnya, manusia harus memproduksi kebutuhan materialnya seperti makanan, pakaian, tempat berteduh, perkakas kerja, atau senjata. Banteng tidak harus dan tidak mampu membudidayakan rumput, tapi manusia harus dan mampu membudidayakan gandum atau padi. Dalam konteks inilah seksualitas pertama-tama harus dipahami.

Seks manusia, pertama-tama harus dilihat sebagai warisan evolusi biologis primata. Dalam pandangan materialis atas sejarah, tata aturan untuk menyalurkan dorongan seks manusia merupakan bagian dari ragam reproduksi yang tumbuh dari cara masyarakat memproduksi ulang kondisi yang memungkinkan berlangsungnya produksi kebutuhan materialnya. Setiap ragam produksi masyarakat mempunyai ragam reproduksi biologis masing-masing yang bisa berbeda-beda.

Dalam masyarakat pemburu-peramu dan pengolah lahan sederhana yang masih sedikit mempunyai surplus sosial, reproduksi biologis ditata sedemikian rupa sehingga untuk tetap melanggengkan jumlah dan komposisi penduduk yang sesuai dengan kebutuhan produksi kebutuhan material masyarakat. Karena kelebihan jumlah atau ketimpangan komposisi penduduk bisa sangat berbahaya bagi kelangsungan masyarakat yang sangat bergantung pada kerja manual dengan teknologi sederhana yang belum memungkinkan surplus produksi, maka pengendalian kependudukan biasanya ditekankan pada sisi biologis anggota-anggotanya. Pada beberapa masyarakat, mekanisme infantisida dipraktikkan. Pada masyarakat yang tidak mengenal infantisida, salah satu mekanisme sosial yang berlaku adalah pelembagaan hubungan homoseksual. Berikut ini adalah dua buah contoh kasus.

Salah satunya adalah Suku bangsa Etoro. Mereka adalah sekelompok orang, sekitar 400 jiwa, yang tinggal daerah Trans-fly Papua New Guinea. Mereka bertahan hidup dengan berburu dan berladang-pindah.Pandangan dan perilaku seksual orang Etoro berhubungan dengan kepercayaan-kepercayaan di sekitar siklus kelahiran, pertumbuhan fisik, kedewasaan, ketuaan, dan kematian. Orang Etoro percaya bahwa mani penting sebagai pemberi kekuatan hidup. Cairan mani adalah pemberi hidup bagi janin. Karena kaum laki-laki percaya memunyai keterbatasan cairan mani, seksualitas dipercaya bisa melemahkan daya hidup. Kelahiran anak, yang kehidupannya berhutang kehidupan pada cairan mani, melambangkan sebuah pengorbanan yang akhirnya akan menghantar pada kematian suami. Hubungan seks heteroseksual tidak menyenangkan, tetapi perlu untuk reproduksi. Perempuan yang ingin terlalu banyak hubungan seks dipandang sebagai penyihir jahat. Senggama terlalu banyak dengan istri bisa membahayakan kesehatan si suami. Kebudayaan Etoro mengijinkan hubungan seks heteroseksual hanya sekitar 100 hari setahun. Di luar hari-hari itu ditabukan.

Dalam kebudayaan Etoro, perempuan dipandang berbahaya dan tercemar. Keberatan pada hubungan seks heteroseksual tampak dalam kehidupan komuniti. Bisa dilihat dari pemisahan ruang tidur dan wilayah pekerjaan di ladang antara laki-laki dan perempuan. Karena senggama merupakan perilaku kotor, maka senggama hanya boleh dilakukan di hutan yang beresiko dipatuk ular berbisa. Menurut orang Etoro ular beracun terpancing oleh suara dan bau seks. Oleh karena itu hubungan seks heteroseksual penuh dengan resiko.

Meskipun senggama tak disukai, aktivitas homoseksual dipandang sebagai perilaku seks yang penting. Orang Etoro percaya bahwa anak-anak muda belum bisa menghasilkan cairan maninya sendiri. Untuk bisa berkembang sebagai laki-laki dewasa yang akhirnya bisa memberikan kehidupan pada anak mereka sendiri kelak, anak-anak muda musti memperoleh cairan mani secara oral dari laki-laki yang lebih tua. Tidak ada tabu berkenaan dengan praktik ini. Aktivitas homoseksual bisa berlangsung di ruang tidur atau di kebun. Setiap tiga tahun sekelompok anak muda sekitar umur dua puluhan secara formal diinisiasi untuk menjadi ‘dewasa’. Mereka pergi ke gubuk terpencil di gunung yang di situ mereka dikunjungi dan ‘dibuahi’ oleh beberapa laki-laki yang lebih tua.

Serupa dengan orang Etoro, sukubangsa Kaluli, juga di Trans-fly Papua New Guinea, mempercayai bahwa cairan mani memunyai kekuatan magis yang memajukan pengetahuan dan kekuatan. Sebelum menjelajah ke wilayah asing, anak-anak muda musti meminum ramuan yang diracik dari cairan mani, jahe, dan garam untuk mempertinggi kemampuan mereka belajar bahasa asing. Di usia 11 atau 12 tahun, seorang anak Kaluli membentuk hubungan seksual dengan laki-laki yang lebih tua yang dipilih oleh ayahnya. Laki-laki ini tidak boleh dari antara kerabat dekat. Laki-laki yang lebih tua ini melakukan hubungan dubur dengan si anak. Orang Kaluli muda juga biasa melakukan hubungan homoseksual di gubuk berburu, yang di situ mereka habiskan waktu untuk belajar kisah-kisah tentang hutan dan teknik berburu dari pemuda yang lebih tua darinya.

Berbagai norma seksual yang diterapkan untuk menyalurkan dorongan seksual sekaligus mengendalikan populasi dalam masyarakat Etoro jelas berkaitan dengan cara produksi masyarakat yang sederhana. Pengedalian kelahiran tidak dengan infantisida seperti yang dipraktikkan beberapa masyarakat sederhana lainnya, tapi dengan pelembagaan praktik homoseksual dan pengembangan mitos-mitos di sekitar sperma dan hubungan seks antara perempuan dan laki-laki. Homoseksualitas masyarakat Etoro dan Kaluli jelas tidak didasarkan pada hormon, genetika, patologi biologis, atau cinta, tetapi pada tradisi kebudayaan yang merupakan cermin kondisi-kondisi produksi material yang khas. Pembagian kerja sederhana yang berdasarkan jenis kelamin dan usia merupakan struktur dominan dalam hubungan produksi. oleh karena itu, dalam masyarakat Etoro dan Kaluli, ada pemisahan tajam antara laki-laki dan perempuan. Bentuk keluarganya pun luas dan tidak terdiri dari pasangan kawin yang tinggal bersama di suatu tempat. Laki-laki meninggali Rumah Laki-laki yang terpisah dari Rumah Perempuan. Perkawinan hanyalah satu lembaga reproduksi biologis yang memungkinkan suplai tenaga kerja untuk kelangsungan cara produksi masyarakat. Cinta sama sekali bukan landasan sebuah perkawinan.

Kutukan bagi Rakyat Pekerja: homoseksualitas dalam masyarakat pertanian

Dalam masyarakat beradab yang dalam ekonominya bertumpu pada perbudakan, seperti masa Yunani-Romawi Kuno, praktik homoseksual bisa dilakukan oleh kalangan elit masyarakat yang menarik surplus produksi dari kerja-kerja budak dan rakyat pekerja. Dalam karyanya Symposium, Plato, yang seorang homoseksual, membenarkan praktik homoseksual dengan menarik akar ontologis asal-usul manusia. Menurutnya, pada mula penciptaan, dewa menciptakan tiga jenis manusia yang masing-masing mempunyai dua sisi. Pertama adalah manusia yang kedua sisinya adalah laki-laki (manusia-laki-laki), kedua adalah manusia yang kedua sisinya perempuan (manusia-perempuan), dan ketiga adalah manusia yang satu sisinya perempuan dan sisi lainnya laki-laki. Dalam mitos ini reproduksi bisa dilakukan bukan dengan koitus tapi dengan tunas seperti pohon pisang. Singkat cerita, dewa iri dan memisahkan sisi-sisi semua jenis manusia dan jadilah manusia seperti sekarang. Dewa juga menghilangkan kemampuan untuk bertunasnya. Sejak itulah setiap orang mencari belahan dirinya yang dipisahkan oleh dewa. Kekuatan cintalah yang mendorong setiap orang untuk menemukan pasangan kawin yang merupakan belahan dirinya. Dalam karya menjelang akhir hayatnya, Nomoi, Plato memperbaiki teorinya tentang seksualitas. Homoseksualitas yang merupakan orientasi alamiah dari orang yang merupakan keturunan dari manusia-laki-laki atau manusia-perempuan, kemudian diralat dan hanya dibolehkan untuk kalangan elit masyarakat. Hanya bangsawan dan ksatria yang boleh mempraktikkan hubungan homoseksual, dan kenyataannya praktik homoseksual merupakan salah satu perlambang kedudukan sosial bagi kalangan ini. Praktik yang cukup luas di kalangan elit ini dimungkinkan dengan keberadaan sejumlah besar budak yang menyangga kegiatan produksi masyarakat.

Dalam masyarakat pertanian yang maju, keluarga monogami adalah unit produksi utama. Oleh karena itu, komposisi jenis kelamin, usia, dan jumlah anggotanya sangat penting dalam subsistensi dan konsumsi. Dalam masyarakat seperti ini pembagian kerja secara seksual di tingkat keluarga dan pembagian kerja berdasarkan kelas di tingkat masyarakat merupakan tiang penyangga ekonomi sehingga ragam reproduksi masyarakat mengharuskan adanya kegiatan-kegiatan reproduksi biologi dan sosial yang ditata sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Keluarga-keluarga monogami heteroseksual yang ‘banyak anak, banyak rezeki’ merupakan bentuk dominan. Kebutuhan masyarakat akan kondisi produksi yang bisa terus direproduksi tidak memungkinkan kelas pekerja untuk membentuk hubungan keluarga dengan sesama jenis. Untuk menata hubungan-hubungan keluarga yang heteroseks, aparatus ideologi masyarakat, terutama agamawan dan pujangga, mengembangkan ideologi yang menantang terbentuknya hubungan keluarga sejenis kelamin di kalangan rakyat pekerja.

Bagi Frederick Engels, keluarga monogami beserta pelengkapnya, yaitu lembaga pelacuran, muncul dari pemusatan kekayaan yang meluas di tangan individu laki-laki serta dari kebutuhan untuk mewariskan kekuasaan atas kekayaan, terutama alat-alat produksi, ini kepada anak-anak laki-lakinya. Munculnya kepemilikan pribadi atas alat produksi di tangan elit (laki-laki) masyarakat memunculkan dominasi atas perempuan. Perempuan hanya menjadi alat reproduksi bagi masyarakat yang menyediakan tenaga-tenaga kerja dan calon prajurit. Di tingkat antarkelompok, perempuan merupakan alat tukar yang memenuhi kebutuhan ekonomi kelompok. sebelum Abad Pertengahan Eropa, tidak ada cinta seksual individual. Kecantikan pribadi, ikatan intim, kesamaan selera, dan sebagainya yang membangkitkan gairah seksual antarlawan jenis, bukanlah pertimbangan utama dalam perkawinan. Perkawinan diatur oleh unit-unit produksi (keluarga atau manorial). Sedikitnya cinta seksual dalam perkawinan pramodern bukanlah pilihan subjektif, tapi tugas objektif ragam produksi. Trinitas suci ‘bibit-bebet-bobot’ adalah norma penata hubungan seksual resmi elit masyarakat dalam pertukaran perempuan sebagai sarana aliansi dan akumulasi kekuasaan politik dan ekonomi. Dalam kerangka normatif seperti ini hubungan homoseksual merupakan bagian dari ‘sisi lain’ praktik seksual masyarakat. Seperti semua norma dalam masyarakat mana pun, norma seksual ini dinaungi oleh seperangkat gagasan dari kelas penguasa pengambil surplus yang menjadi ideologi masyarakat.

Menurut Marx dan Engels dalam The German Ideology bahwa:
“Gagasan-gagasan kelas penguasa di sepanjang kisah sejarah manusia merupakan gagasan penguasaan, yaitu: kelas yang menguasai kekuatan material dalam masyarakat, pada saat yang sama menguasai kekuatan intelektualnya juga. Kelas yang menguasai alat-alat produksi material pada akhirnya juga mengendalikan alat produksi mental, sehingga gagasan dari mereka yang tidak menguasai alat produksi mental tunduk padanya. Gagasan-gagasan yang berkuasa tiada lain adalah ekspresi ideal dari hubungan material yang dominan; hubungan material dominan yang dipahami sebagai gagasan; ketika hubungan yang membuat suatu kelas menjadi kelas penguasa atas yang lain, maka gagasannya merupakan gagasan dominansi….”

Menurut catatan Spencer, satu-satunya aib yang bisa mengotori tindakan seksual adalah menyangkut jenis dan kedudukan sosial pasangannya, bukan seksnya itu sendiri. Pada masyarakat peradaban kuno, jika melakukan anal seks dengan orang berkedudukan sosial yang lebih tinggi akan memperoleh pujian, maka merayu budak pekerja bisa mengundang nasib buruk. Homoseksualitas bukan sesuatu yang memalukan bagi kalangan bangsawan, tapi menjadi praktik hina bagi rakyat pekerja.

Ideologi Cinta Romantis, Keluarga, dan Ekonomi Borjuis

Tidak ada yang alamiah tentang keterkaitan antara cinta dan perkawinan. Ideologi cinta romantis adalah sebuah hasil ciptaan sosial; sesuatu yang ditemukan oleh masyarakat untuk melayani sebuah tujuan sosial, meskipun sebagian orang berpendapat bahwa ideologi tersebut mempunyai landasan material . Gagasan bahwa perkawinan harus dilandasi oleh cinta tumbuh ketika adanya perubahan sosial-ekonomi yang menjadi landasan perkawinan tradisional. Meski begitu, bukan berarti cinta itu sendiri sebagai sebuah konsep baru; yang baru adalah gagasan bahwa perkawinan harus berdasarkan cinta. Keruntuhan feodalisme dan bangkitnya kelas kapitalis industri sebagai elit baru masyarakat modern tidak hanya menyingkirkan bangsawan dan ekonomi pertanian berbasis keluarga-keluarga luas dalam manorial, tapi juga penataan ulang lembaga-lembaga sosial yang dibutuhkan dalam perekonomian. Bentuk keluarga kecil yang terdiri dari hubungan ayah-ibu-anak dan tidak terikat pada hubungan hamba-tuan yang bersifat kaku, merupakan kebutuhan cara produksi kapitalis. Mobilitas keluarga, baik sosial maupun geografis, sangat penting karena salah satu prasyarat berlangsungnya cara produksi kapitalis adalah pekerja-pekerja lepas yang mobil dan bisa saling menggantikan. Bentuk keluarga luas yang lamban dan tidak efisien dihancurkan. Dari puing kehancuannya itulah muncul keluarga borjuis modern.

Sejalan dengan melanggengnya keluarga borjuis modern, ideologi cinta romantis terbangun. Individualisme dan liberalisme dalam ekonomi, yang merupakan landasan bekerjanya tatanan kapitalisme, juga diberlakukan dalam hubungan antarindividu. Perkawinan cenderung tidak lagi melayani kebutuhan kelompok untuk aliansi dan akumulasi kekuasaan, tapi menjadi lembaga kontrak antarindividu bebas. Penekanan atas individu dalam lembaga perkawinan borjuis inilah yang di saat sekarang memungkinkan munculnya keluarga homoseksual. Pandangan hak asasi manusia modern menekankan pada individu. Perkembangan lebih lanjut dari masyarakat borjuis memperluas cakupan hak ini hingga pada identitas seksual.

Homoseksualitas dalam Kapitalisme Radikal

Identitas Yang Terkutuk: dari Alkitab ke Psikiatri

Dalam kajian sejarah seksualitasnya, Michel Foucault menunjukkan bahwa sebelum abad ke-18 istilah ‘seorang homoseks’ tampaknya sangat jarang muncul. Meski homoseksualitas sendiri bukan anak kandung modernitas, tetapi istilah homoseksualitas baru ditemukan di tahun 1860-an. Sebagai wacana, homoseksualitas merupakan anak kandung modernitas. Tetapi sebagai praktik sosial homoseksualitas sudah lama terekam dalam kehidupan masyarakat pra-modern.

Perlakuan masyarakat Barat terhadap homoseks dilandasi kesadaran Kristen akan terkutuknya Kaum Sodom dan Gomorah di mata Tuhan. Mulanya hukuman diberikan kepada pelaku sodomi, yang bisa saja dilakukan terhadap lanwan jenis. Hingga saat ini, masih banyak fundamentalis Kristen yang mengutuk homoseksualitas dengan patokan kisah ini. Perlakuan negara terhadap perkawinan kaum homoseks pun masih menjadi isu penting dalam pemilihan presiden Amerika. Golongan anti-homoseksual hampir selalu mendasarkan putusan pada argumen teologis. Seandainya Tuhan menerima hubungan homoseks, tentu Dia akan menciptakan Adam dan Stephen, bukan Adam dan Hawa. Homoseksualitas tidak sesuai dengan kodrat manusia. Oleh karena itu, hubungan homoseks pasti terkutuk di mata Tuhan karena menyalahi aturan-Nya. Pandangan inilah yang memunculkan perlakuan buruk terhadap orang yang dituduh sebagai homoseks.

Sejak paruh kedua abad ke-19, homoseksualitas dipaketkan bersama-sama dengan gangguan-gangguan seksual-mental lainnya, seperti kecintaan pada benda-benda (fetisisme), kecintaan melihat genital atau kegiatan seks orang lain (voyeurisme), kebiasaan memakai pakaian lawan jenis (transvetisme), nafsu berlebihan yang diidap laki-laki (satyriasis), nafsu seks berlebihan pada diri perempuan (nymphomania), dan lain-lain. Homoseks merupakan kategori psikiatris. Homoseksualitas terus-menerus dianggap sebagai sebuah tindakan tidak-alamiah dan dikutuk secara moral. Saat ini, paling tidak setelah ‘revolusi seksual’ dekade 1960-1970-an, penggunaan istilah ‘gangguan mental-abnormal’ untuk homoseksualitas sudah menghilang (berkurang) dari kamus psikiatri klinis. Meski demikian, istilah ‘penyimpangan seksual’ masih digunakan. Secara keilmuan penggunaan istilah ini mungkin dampaknya berbeda dalam perlakuan terhadap kaum homoseks, tetapi secara sosial pelekatan kedua istilah ini berdampak sama: stigma dan perlakuan buruk.

Politik Identitas yang Tertindas: dari Orientasi Seksual ke Perlawanan Politik

Ernestine Friedel, ahli antropologi Amerika Serikat, menyatakan bahwa bagi individu dalam masyarakat kapitalis, tindakan seksual merupakan sumber penting dari kesadaran pribadi akan diri dan persepsi diri. Sebagaimana ditunjukkan oleh banyaknya kepustakaan yang menunjukkan bahwa sejarah seksualitas diri, termasuk homoseksualitas, bersilangan dengan pembentukan identitas diri. Jika hal ini menjadi identitas kolektif, maka homoseksualitas pun tidak sekadar orientasi seksual pribadi, tetapi gaya hidup kolektif. Homoseksualitas sebagai cara hidup kini ditunjukkan oleh banyaknya individu yang berani memunculkan diri sebagai homoseks dan membuat asosiasi-asosiasi dengan orang lain yang orientasi seksualnya sama, dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Komuniti-komuniti seperti ini seringkali menyediakan kemungkinan aksi politik kolektif untuk meningkatkan perjuangan hak dan kepentingan kaum homoseks.

Keberadaan komuniti kaum homoseks dimungkinkan oleh pergeseran pandangan terhadap praktik homoseksual. Fenomena ini sangat baru dalam rentang sejarah modern. Dari hasil penelitian sosiologis terhadap 43 masyarakat di dunia beberapa waktu lalu, Ronald Inglehart menemukan bahwa telah terjadi perubahan yang penting di dunia seksualitas: ‘melunaknya’ norma-norma seksual dan diakuinya keragaman perilaku seksual individu, termasuk peningkatan dramatik penerimaan terhadap homoseksualitas. Temuan Inglehart ini diperteguh Giddens yang juga menemukan fenomena serupa. Homoseksualitas kontemporer, menurut Giddens, merupakan anak kandung revolusi seksual dalam masyarakat Barat modern sekitar empat puluh tahun lalu yang menandai dasar hubungan seksual baru dalam kemajuan hubungan seksual yang lebih ‘ortodoks’. Kemunculan homoseksualitas, baik pada laki-laki maupun perempuan, sebagai wacana dan praktik seksualitas memiliki kaitan dengan kebebasan seksual yang disuarakan gerakan-gerakan sosial tahun 1960-an. Keberadaan komuniti-komuniti homoseks dan upaya perjuangan beberapa dekade kemudian di kota-kota besar Amerika dan Eropa yang menuntut hak sebagai warga negara, telah mengubah wajah homoseksualitas dari ‘yang terkutuk’ menjadi ‘yang tertindas’. Pada tataran pribadi, istilah ‘homoseks’/gay/lesbi membawa rujukan yang lebih luas bagi seksualitas, yaitu sebagai sebuah kualitas dan kepemilikan diri atas seks dan diri (self). Setiap orang memiliki seksualitasnya sendiri yang secara reflektif dipahami, dipertanyakan, dan dikembangkan. Kini, orientasi seksual, seperti halnya jender, kelas sosial, dan usia, menjadi salah satu kategori sosial yang mempunyai andil membentuk identitas dalam percaturan interaksi sosial. Dalam istilah Giddens, hal ini terjadi karena meningkatnya ‘refleksivitas praktik sosial’ sebagai konsekuensi modernitas yang membaca dirinya sendiri.

Sebagai praktik sosial yang reflektif, homoseksualitas bisa juga ‘dipilih’ sebagai praktik perlawanan. Rekanan hubungan seks, menurut Friedl, berada dalam kungkungan kekuasaan masing-masing. Oleh karenanya hubungan seks juga merupakan hubungan kekuasaan. Feminis memandang bahwa seksualitas begitu penting dalam sistem dominasi laki-laki atas perempuan. Karena itu, mereka mulai menggugat heteroseksualitas. Feminis percaya bahwa heteroseksualitas adalah bagian dari sistem dominasi yang terbangun secara sosial dan dilembagakan melalui pranata-pranata patriarkhi seperti negara, agama, dan keluarga. Bagi sebagian feminis, heteroseksualitas itu sendiri tidaklah berseberangan dengan feminisme dan perjuangan pembebasan perempuan, tetapi memang harus ditransformasi sebelum diterima sebagai praktik sosial yang adil. Bagi sebagian lainnya, heteroseksualitas merupakan bagian dari dominasi laki-laki atas perempuan sehingga pembebasan seutuhnya bagi perempuan adalah dengan meninggalkan heteroseksualitas dan menerima lesbianisme. Ide inilah yang menggerakkan sebagian aktivis feminis (radikal) terjun ke praktik homoseksual lesbianisme. Mereka memandang lesbianisme bukan sekadar orientasi seksual, tapi lebih sebagai komitmen solidaritas terhadap ketertindasan perempuan, secara politik, sosial, dan secara pribadi, dalam konteks kebudayaan patriarkhi. Ramazanoglu menyebutnya dengan ‘political lesbianism’ yang mendukung lesbianisme sebagai praktik perlawanan paling penting terhadap penindasan patriarkhi. Lesbianisme tidak selalu mencakup hubungan seks dengan perempuan. Intinya adalah menarik diri dari hubungan seks dengan laki-laki. Bahkan Leeds Revolutionary Feminist Group menyatakan bahwa heteroseksualitas merupakan dasar supremasi laki-laki dan, oleh karena itu, setiap perempuan yang tidur dengan seorang laki-laki berarti telah bekerjasama dengan musuh! Pilihan seksualitas kini diidentikkan sebagai sebuah tindakan politis.

Perkawinan dan Keluarga Homoseksual

Selama abad ke-19, pembentukan ikatan-ikatan perkawinan sebagian besar penduduk menjadi dasar pertimbangan lain dari keputusan-keputusan ekonomis. Cinta romantis pada awalnya adalah milik kaum borjuis yang disebarkan melalui beberapa tatanan sosial. Berkembangnya cinta romantis adalah kecenderungan untuk melepaskan kontrak perkawinan dari ikatan-ikatan kekerabatan yang lebih luas, dan kemudian memberinya sebuah makna khusus. Pasangan suami-istri semakin tampak seperti rekanan dalam ‘kerjasama perusahaan emosional’ yang memikul tugas-tugas yang sama atas anak-anak. Rumah mulai menjadi seperti sebuah lingkungan yang terpisah dari lingkungan kerja. Tekanan-tekanan untuk memiliki keluarga besar, yang merupakan ciri penting hampir semua budaya pra-modern, sangat penting pengaruhnya terhadap seksualitas. Sekarang, untuk pertama kalinya, bagi pasangan kawin, seksualitas memiliki arti lain yang tidak sekadar reproduksi. Reproduksi bisa terjadi tanpa adanya aktivitas seksual. Seksualitas terbebas dari tugas-tugas tradisionalnya sebagai wahana produksi anak. Fenomena ini oleh Giddens disebut dengan seksualitas plastis (plastic sexuality)

‘Perkawinan’ antara ideal cinta romantis dan kemunculan seksualitas plastis memungkinkan orang mendefinisikan ulang pranata perkawinan dan keluarga. Definisi tradisional atas perkawinan dan keluarga yang merujuk pada penyatuan antara laki-laki dan perempuan menjadi sepasang suami-istri, mulai dipertanyakan. Buku-buku ajar ilmu sosial mengajukan banyak contoh kecendrungan ini. Kini pengakuan secara akademis terhadap perkawinan dan keluarga ‘non-tradisional’, termasuk pasangan sesama jenis kelamin, banyak diberikan. Salah satu sasaran perjuangan kelompok-kelompok homoseks saat ini adalah pengesahan negara (dan lembaga agama) atas perkawinan homoseks. Meski demikian masih banyak negara yang belum memandang sah perkawinan sejenis. Di antara yang jarang itu Kerajaan Belanda dan Kanada mungkin contoh terkenal yang membolehkan perkawinan sesama jenis dilakukan (dan disahkan).

Perkawinan, dalam bingkai gagasan cinta romantis, merupakan lambang dari penyatuan ‘dua-hati’. Secara sosial, perkawinan adalah lambang hubungan berkomitmen antara seseorang dan pasangannya untuk membentuk keluarga. Karenanya perkawinan menjadi salah satu ritus peralihan (rite de passage) penting di semua kebudayaan. Latar belakang inilah, mungkin, yang menguatkan kecenderungan kaum homoseks berjuang menuntut hak yang sah atas perkawinan mereka. Melalui perkawinan mereka menunjukkan pada orang lain bahwa hubungan mereka tidak melulu seks (konsekuensi istilah homoseks), tetapi juga cinta dan komitmen membangun keluarga seperti halnya pasangan heteroseksual dalam kerangka ideologi cinta romantis.

Seperti halnya ketika kaum homoseks menuntut definisi kenormalan perilaku seksual mereka, sekarang pun tuntutan perkawinan homoseks mendapat banyak tantangan. Bukan hanya dari kaum Demokrat di Amerika atau dari pendukung Partai Konservatif di Inggris, tetapi juga dari hampir semua pimpinan negara dan lembaga agama di dunia.

Sekadar Diskusi

Saya pernah membaca berita-berita sebagai berikut. Di tengah keheningan malam pada Januari 2003, sesosok bayi lahir ke tengah-tengah pasangan lesbi di Washington DC. Bayi pertama yang lahir di awal tahun 2003 di ibukota negara kapitalis maju Amerika Serikat dan setelah itu menjadi bagian dari sebuah keluarga lesbian. Menjelang kelahirannya, ibu biologis si bayi telah pindah tempat tinggal ke distrik tempat ibu non-biologis bayinya bisa secara hukum mengadopsi bayi yang dibantunya hadir ke dunia, karena di tempatnya tinggal dan bekerja semua itu dilarang.

Bulan Juni di tahun yang sama, Mahkamah Agung Amerika Serikat menolak hukum antisodomi dalam kitab hukum Negara Bagian Texas dan menetapkan bahwa kegiatan seksual pribadi bukanlah urusan pemerintah. Di sekitar awal musim panas 2003, Kanada menjadi negeri ketiga di dunia yang mengakui secara resmi pernikahan sejenis kelamin di tingkat nasional. Keputusan ini menghantar pasangan-pasangan gay dan lesbian ke kota Toronto, Ottawa, dan pusat metropolitan lainnya untuk kawin dan membentuk sebuah keluarga secara legal.

Menurut saya, ketiga peristiwa ini mengabarkan tiga hal. Pertama adalah adanya perubahan perlakuan dari pemerintah negeri-negeri kapitalis maju terhadap segolongan warga negaranya yang memiliki orientasi seksual sesama jenis. Kedua, munculnya keluarga jenis baru yang, mau-tidak-mau, mengubah banyak sekali pandangan modern atas lembaga tradisional borjuis, yaitu keluarga konvensional heteroseks. Pandangan tradisional keluarga borjuis biasanya merujuk pada pasangan laki-laki dan perempuan yang sudah menikah secara legal bersama dengan anak-anak mereka.

Hal ketiga yang menarik buat saya adalah meningkatnya kemungkinan teknis untuk memperoleh anak tanpa pembuahan konvensional karena revolusi terus-menerus kekuatan produktif kapitalisme. Teknologi kedokteran baru seperti pembuahan in-vitro, bank sperma, dan kloning, memungkinkan seseorang atau sepasangan memperoleh anak tanpa persenggamaan.

Lembaga sosial pengangkatan anak memang bukan lembaga baru. Sejak jaman nabi-nabi Yahudi/Semitik, praktik pemungutan anak sudah ada dan menjadi satu cara yang sah secara sosial untuk ‘mempunyai’ anak bagi seseorang atau pasangan kawin yang, entah karena alasan apapun, tidak bisa mempunyai anak secara biologis. Namun, dalam kondisi baru, lembaga ini jauh berkembang dari sebuah lembaga yang tidak mungkin terjadi tanpa ikatan yang erat dan bersifat langsung serta menjadi sarana pertukaran antarkelompok sosial, menjadi lembaga pertukaran individual yang anonim dan cenderung ke arah mekanisme pasar. Hal ini bisa terjadi bukan hanya karena adanya radikalisasi nilai-nilai borjuis modern seperti individualisme dan liberalisme, tapi juga adanya prasyarat material yang memungkinkan praktik tersebut berlangsung.

Individualisme yang di masa awal tumbuhnya hanya merujuk pada laki-laki, kemudian juga menyebar ke golongan perempuan. Mulanya tuntutan atas hak suara dalam pemilihan umum. Kemudian tuntutan atas semua hal yang selama ini sudah menjadi milik laki-laki (politik, lembaga keagamaan, olah raga, dll.). Salah satunya adalah tubuh dan identitas individual. Revolusi liberalisme dasawarsa 1960-an di negeri-negeri industri maju menjadi tempat bersatunya semua golongan tertindas: warga negara kulit berwarna, imigran, buruh industri, dan perempuan. Dalam gelombang besar perubahan ini tubuh menjadi salah satu sumber identitas politis.

Individualisme yang dikembangkan borjuis untuk kepentingan ekonomi-politiknya melawan feodalisme, kini merambah ke tingkat yang belum terbayangkan di awal kemenangan borjuis atas feodalisme abad ke-18-19. Tuntutan pembebasan perempuan dari belenggu kerja ganda merangsek ke arah kebebasan seksual. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang merupakan keharusan abadi revolusi kekuatan produktif dalam corak produksi kapitalis tidak hanya menyediakan kemungkinan perdagangan dan kredit antarnegara serta munculnya korporasi global yang dengannya kapitalisme melebarkan tentakel ke seluruh penjuru dunia mencari pasar tenaga kerja murah dan konsumen massal, tetapi juga menumbuhkan kemungkinan penghancuran lembaga-lembaga sosial konvensional yang dahulu menjadi penyangga keberlangsungan reproduksi kondisi produksi kapitalis. Pembagian kerja yang semakin rumit memunculkan kelas menengah baru, yaitu profesional jasa yang tidak bergantung pada hubungan produksi industri material. Dari kelas inilah pemberontakan lembaga borjuis muncul. Kasus yang saya kemukakan di atas, merupakan cermin kemunculan tatanan ekonomi kapitalis baru dan karenanya radikalisasi nilai-nilai borjuis.
http://www.e-samarinda.com/forum/index.php?showtopic=3841&st=0