karl-jaspersBias anti-saintifik dari eksistensialisme berlanjut dalam pemikiran Jaspers dan Marcel. Pemikiran ini berada dalam kontradiksi yang konstan dengan dirinya sendiri sepanjang pemikiran itu secara implisit berusaha untuk menjadi lebih dari sekedar monolog. Membaca pemikiran anti-saintifik Jaspers dan Marcel secara harfiah belaka hanya akan berarti bahwa pemikiran seorang eksistensialis akan kehilangan validitasnya dalam semua situasi kecuali situasinya sendiri.

Namun lantas apakah yang bisa menjadi tema komunikasi dari pemikiran tersebut buat kita? Tidakkah komunikasi itu mengimplikasikan kehadiran pola-pola umum yang hendak diajarkan pada kita?

Pengingkaran yang terbuka atas pola-pola umum yang mengikat individu-individu secara bersama tak diragukan lagi memberikan andil terhadap merosotnya nilai penting kedua pemikir tersebut saat ini. Hal ini tidaklah berarti mengingkari kenyataan bahwa baik Jaspers maupun Marcel menyumbangkan beberapa tulisan yang mengagumkan mengenai sejarah filsafat, khususnya ketika mereka bereaksi menentang pengetahuan absolutnya idealisme atau menentang gagasan-gagasan mengenai bolehnya sifat intersubyektif pada kebenaran dalam sains, dalam pengertian yang dangkal dari istilah tersebut.

Pernyataan bahwa kebenaran filosofis tak dapat menjadi valid secara umum dalam pengertian subyektif maupun obyektif adalah kontradiksi dalam dirinya sendiri karena sebuah pernyataan filosofis mendapatkan maknanya hanya setelah keumuman (generalities) subyektif dan obyektif diandaikan.

Husserl melihat ini dengan jelas. Jaspers dan Sartre tidak mengalami pengaruh dari fenomenologi,  dan fakta inilah yang secara khusus harus dipertimbangkan dalam evaluasi atas kemerosotan nilai penting para pemikir tersebut. Kemerosotan ini merupakan yang sesuatu yang amat bisa disesalkan karena para pemikir ini mempertahankan inspirasi religius orisinil dari Kierkegaard. Suatu hal (mungkin) yang tidak berlaku dalam karya Heidegger.

Bersambung …

Gambar: http://mythosandlogos.com/Jaspers2.jpg