Konsep intensionalitas tak bisa disetarakan dengan Cogito-nya Descartes, entah kita mengartikannya secara realistik ataupun secara idealistik. Descartes membagi keseluruhan realitas ke dalam dua wilayah yang terpisah: res cogitans dan res extensa. Realisme mendapatkan pendasaran maknanya dalam dunia yang terletak terpisah dari Cogito, dalam sebuah dunia-dalam-dirinya-sendiri (monde-en-soi). Dalam interpretasi ini, pengetahuan menjadi suatu refleksi yang pasif dan akurat atas arti atau makna yang terletak secara paripurna dan selesai dalam sebuah dunia-dalam-dirinya-sendiri. Idealisme mendapatkan sumber maknanya dalam Cogito yang terisolasi. Pengetahuan di sini tak lain merupakan perkembangan imanen dari makna.

Prasejarahnya Konsep Intensionalitas

Dalam pandangan Husserl, intensionalitas secara tak terbantahkan menunjukkan sebuah penolakan baik atas idealisme maupun realisme. Ini bukanlah pengertian konsep asli dari intensionalitas  sebagaimana yang dikembangkan oleh Brentano, atau oleh beberapa pemikiran yang serupa yang muncul sebelumnya pada masa skolastisisme. Filsafat skolastik menawarkan sebuah pandangan yang di dalamnya kesadaran  dipisahkan dari realitas yang pada mulanya berada di sekelilingnya dan yang bertentangan, yang kemudian dibawa berkontak dengan realitas melalui jalan forma vicaria. Bentuk perwakilan (vicarious) ini, imaji yang tertanam (imprinted) ini, tak lain adalah sebuah wakil dan sebuah pengganti dari realitas yang riil dan kasar.

Ketika kita mengajukan pertanyaan atas ”ada” dalam hubungannya dengan bentuk ini, skolastisisme akan menjawab bahwa bentuk-bentuk itu tidaklah memiliki sebuah “ada yang entitatif” (esse entitativum) namun hanya sebuah “ada yang intensional” (esse intentionale). Pernyataan yang terakhir itu menunjukkan bahwa “ada” dari bentuk-bentuk itu sepenuhnya tersusun dalam fungsi penunjukkannya atas realitas. Meskipun begitu, jelaslah bahwa segenap kepastian yang dipostulasikan terhadap “bentuk-bentuk perwakilan” itu berakar pada pemisahan yang mula-mula atas Cogito dan dunia-dalam-dirinya-sendiri. Jika kesadaran itu dilihat sebagai sesuatu ada yang tampil di kesadaran, sebagai sebuah ada yang terlibat dan terperangkap dalam realitas, kita secara jelas tidaklah membutuhkan suatu “bentuk-bentuk perwakilan” tertentu untuk menciptakan sebuah kontak antara kesadaran dan dunia.

Konsep Husserl

Dalam pemikiran Husserl, kesadaran itu sendiri bersifat intensional. Kesadaran dilihat sebagai kehadiran pada realitas yang bukan kesadaran itu sendiri. Kehadiran dan aksesibilitas terhadap realitas ini tidaklah dilihat sebagai suatu elaborasi lebih lanjut dari suatu kesadaran yang secara asli terpisah dan telah ada sebelumnya; kesadaran itu justru adalah aksesibilitas terhadap realitas. Metode keraguan Cartesian dilakukan dengan memotong Cogito lepas dari dunia, dan kemudian mengintegrasikan kembali dunia yang terpisah itu ke dalam kurungan Cogito itu, melalui sebuah indikator “berpikir tentang” (pensée de, Merleau-Ponty). Pohon-pohon, rumah-rumah, dan kursi-kursi lantas menjadi pikiran-pikiran tentang pohon-pohon, rumah-rumah, dan kursi-kursi. Fenomenologi menolak Cogito sebagai sebuah “ilusi atas imanensi” (illusion of immanence) (Sartre). Esensi dari kesadaran justru adalah gerakan terbuka menuju sebuah realitas yang aksesibel yang bukan kesadaran itu sendiri. Mempertanyakan realitas dunia adalah absurd dalam konteks ini. Realitas dunia adalah penjamin Cogito. Karena itu, skandal utama dari filsafat bukanlah kegagalannya untuk menyediakan bukti yang absolut atas eksistensi faktual dari dunia (Kant), namun untuk kegigihannya dalam meminta bukti yang absurd itu (Heidegger).

Fenomenologi juga tidak menyetujui begitu saja realisme yang mulai dari dunia-dalam-dirinya-sendiri, dari sebuah realitas yang selain terletak di luar kurungan Cogito, yang menunggu refleksi cermin yang akurat oleh suatu kesadaran yang pasif. Filsafat Husserl mengenai intensionalitas mengatasi realisme sepanjang dia menempatkan kesadaran sebagai sesuatu yang memang secara aktif telah terlibat dalam dunia. Kesadaran yang aktif ini membiarkan dunia apa adanya. Adalah tidak mungkin untuk memikirkan dunia tanpa kehadiran kesadaran manusia karena berpikir itu sendiri bersifat intensionalitas, yaitu sebuah modus ada yang terlibat dalam dunia. Mengamati dunia tanpa kehadiran kesadaran manusia akan berarti menarik diri dari obyek sejati yang sebenarnya berusaha kita tembus. Tak ada pertanyaan yang bisa diajukan di bawah situasi semacam itu.

Bersambung