Masih adakah rumah sakit (RS) yang mau melayani orang-orang miskin atau anak yatim piatu yang tak mampu untuk berobat? Tentu saja ada, tetapi masih jauh lebih banyak yang “menutup pintu” bagi kaum papa. Seolah-olah yang miskin dilarang sakit.

RS sepertinya sudah berorientasi profit. Tak heran jika terjadi beberapa kasus “pengusiran” atau “penyanderaan” bayi atau pasien oleh RS atau klinik, karena tidak mampu menebus biaya perawatan.

Salah satu RS yang masih peduli dengan mereka yang tak mampu adalah RS Karya Medika, di Cikarang Barang, Kabupaten Bekasi, Jabar. Saat melangkahkan kaki di halaman RS, tampak pemandangan bersahaja dari orang-orang yang berobat dan keluarga pasien. Umumnya mereka datang dengan jalan kaki atau naik motor. Ini bisa dimaknai bahwa RS swasta ini begitu dekat dengan masyarakat sekitar, yang mayoritas berprofesi sebagai buruh.

Komisaris PT Adhifarma Adyajaya Medika (AAM), pemilik RS Karya Medika, Nirmala Suhartana menuturkan, RS yang berdiri 17 April 1995 itu sejak awal memang lebih banyak melayani kaum papa. Kalau dihitung-hitung, dana pelayanan dan perawatan kesehatan yang tidak dibayar oleh pasien yang kurang mampu di RS ini, cukup besar. “Tahun 2005 saja sekitar Rp 250 juta,” ujarnya, saat ditemui pekan lalu.

Salah satu bukti RS ini dekat dengan rakyat miskin, yakni tarif dokter untuk rawat jalan di masih ada yang Rp 20.000. Tetapi, untuk tarif rawat inap kelas I dengan fasilitas AC, TV warna, sofa, kulkas, telepon, kamar mandi, teras, dan meja berikut taman, mencapai Rp 500.000 per hari. Tarif ini untuk menyubsidi silang pelayanan yang diberikan kepada kaum miskin.

Pernah terjadi pasien yang berprofesi sebagai sopir taksi menjalani operasi dan menunggak sampai Rp 16 juta. Ketika datang, pasien itu tak membawa jaminan apa- apa. Meski tak berpunya, RS tetap melakukan operasi otak terhadap pasien itu. Pasien yang berutang sakit seperti sopir taksi tadi, banyak dilayani RS swasta ini.

“Jumlahnya sekitar 30-40 persen. Kalau dikalkulasi hingga 2009, jumlahnya sekitar Rp 1 miliar, termasuk utang buruh PT Tongyang sebesar 132 juta, karena perusahaannya bangkrut,” ungkap Nirmala.

Sering pula pasien yang ditolak di RS lain karena tidak punya uang jaminan, memilih datang ke RS Karya Medika. “Prinsip kami adalah ingin memberi pelayanan kesehatan kepada semua orang secara baik, tanpa melihat latar belakang sosial ekonominya,” kata Direktur PT AAM, dr Aang Rahardjo.

Nirmala yakin rumah sakit yang dikelolanya tak akan merugi, meskipun banyak menanggung risiko tak mendapat bayaran. “Kalau ada kesulitan, pasti ada jalan. Apalagi, orangtua saya berpesan, jangan lebih banyak memikirkan keuntungan, pikirkanlah orang-orang di bawah (miskin-Red.),” kata Nirmala.

Tak hanya itu, RS Karya Medika juga melayani kesehatan sekitar 400 anak yatim piatu penghuni Panti Asuhan St Joseph, Sindanglaya, Cipanas, Jabar. “Mereka jauh-jauh memilih RS Karya Medika, karena di RS lain selalu meminta jaminan ketika ada penghuni panti yang berobat,” ujar Nirmala.

Hikmah dari membantu pasien miskin tersebut, lanjutnya, pasien miskin bisa dilayani dengan program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dari pemerintah pusat maupun dari Pemkab Bekasi. Pasien yang punya kartu Jamkesmas dan surat keterangan tidak mampu (SKTM), akan mendapat pelayanan. RS pun mendapat penggantian sekitar 40 persen dari pemerintah.

Namun, tidak semua pasien memiliki kartu Jamkesmas dan SKTM. Meskipun demikian, mereka tetap mendapat pelayanan yang sama.

Dirut RS Karya Medika I & II, dr Dominggus M Efruan menegaskan, meskipun banyak melayani kaum papa, bukan berarti pelayanannya asal-asalan. Sebab, tak sedikit pasien dari kalangan menengah ke atas.

Fasilitas layanan kesehatannya cukup memadai. RS Karya Medika juga sedang membangun trauma center yang dimaksudkan untuk melayani kondisi gawat darurat. Apalagi, letak RS ini yang tidak jauh dari jalan tol.

Dalam melayani pasien, kata Dominggus, pendekatannya adalah melayani dengan hati, bukan hanya mengandalkan kecanggihan teknologi yang juga ditawarkan banyak RS lain. Pendekatan itulah yang membuat RS ini dekat di hati masyarakat sekitar. Tak heran jika tingkat hunian RS ini rata-rata di atas 76 persen. [SP/Marselius Rombe Baan/Dina Manafe]

Oleh Abimanyu

Sumber: Suara Pembaruan, 28 April 2009

http://202.46.159.139/index.php?detail=News&id=7633