MELALUI proses perenungan dinamik, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan akan menghadiri KTT G 20 di London, 2 April, dan akan terbang kembali ke Tanah Air untuk menutup kampanye Partai Demokrat, 4 April, di Yogyakarta. Dengan demikian, SBY berpeluang mengadakan KTT bilateral dengan Presiden Obama di sela-sela KTT G 20 seperti direncanakan oleh Hillary untuk Obama dan Presiden Hu Jintao.

Sebenarnya, yang paling ideal ialah bila SBY bisa melakukan terobosan pertemuan trilateral dengan Hu Jintao dan Obama untuk suatu win win solution. Dalam menjual obligasi, Federal Reserve AS, akhir akhir ini, membayar bunga 3,25% untuk obligasi jatuh waktu 30 tahun. Bandingkan dengan obligasi RI untuk 5 dan 10 tahun, yang bunganya mencapai 11,75%. Jika ada kesetiakawanan Asia yang juga mengandung win win solution, maka dana yang dimiliki RRT sebetulnya bisa dipakai untuk investasi atau membeli obligasi RI cukup dengan 5-6 % atau separuh dari yang sekarang harus dibayar RI melalui pasar uang global yang tetap lebih percaya pada AS daripada RI. Ironis bahwa sekalipun AS sudah “mengemplang” dana triliunan dolar dengan menyedot dana yang diinvestasikan oleh seluruh dunia dalam produk derivatives sektor keuangan, tapi rating dan daya saing dalam menjual utang tetap paling kredibel. Artinya, orang rela memperoleh suku bunga rendah dan tetap membeli obligasi AS, daripada obligasi negara lain, seperti Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia harus membayar surcharge, berupa suku bunga tinggi dan mahal.

Indonesia sebetulnya mempunyai posisi unik yang bisa dimanfaatkan secara maverick akan melipatgandakan kinerja nasional secara komprehensif. Obama menganggap RI sebagai salah satu pintu masuk utama untuk rekonsiliasi dan rehabilitasi hubungan AS – dunia Islam. Tentu saja jika RI membuktikan sebagai Islam moderat, toleran, pluralis yang compatible dengan nilai demokrasi, HAM, dan dengan modal itu bisa berperan mendorong perdamaian di Timur Tengah sebagai mediator yang bijaksana.

Status Hambali, yang dilepas dari Guantanamo, merupakan satu isu peka yang bisa mempengaruhi hubungan bilateral, bila tidak dikelola secara hati-hati. Pengadilan terhadap Hambali bila diserahkan ke Indonesia, menurut Sidney Jones, akan menimbulkan suasana peradilan yang mirip teater, di mana Hambali akan berperan secara lebih memukau dibanding Amrozy cs. Tidak tertutup kemungkinan persidangan ini bisa memperkeruh konflik politik dalam hiruk-pikuk pemilu.

Saling Pengertian

Pemulihan ekonomi dunia memerlukan saling pengertian dan kerja sama, serta kerelaan pelaku global untuk mawas diri dan kemudian membentuk Arsitektur Keuangan Global baru sebagai pengganti struktur lama warisan Bretton Woods 1944, yang telah dikebiri oleh kejutan Nixon pada 15 Agustus 1971, ketika AS tidak rela lagi menjual emasnya untuk dikonversi menjadi dolar. Sejak itu, sebetulnya dolar AS akan mengalami debasement berspiral yang menurun secara berkelanjutan.

Pada 1987, Paul Kennedy menulis buku The Rise and Fall of the Great Powers: Economic Change and Military Conflict 1500 to 2000 tentang keterkaitan kemerosotan kejayaan suatu bangsa akibat keterlibatan dalam perang yang menguras sumber daya suatu bangsa. Perang yang tak berkesudahan, baik domestik maupun antarbangsa, akan berdampak pada penurunan faktor produksi para pelaku. Adalah suatu kelaziman bila perdamaian tercapai maka bangsa yang kalah, dan biasanya merupakan biang keladi pencetus peperangan, akan membayar pampasan perang kepada sang pemenang perang.

Aturan pampasan ini, merupakan konvensi yang berlangsung sejak zaman purba dan akan berakhir pada Perang Dunia yang paling mutakhir.

Persekutuan kapitalisme Barat dan komunisme Soviet berakhir setelah mengalahkan fasisme Jerman. Terjadilah suatu anomali sejarah, di mana pemenang AS malah akan menjadi donor bagi pecundang Jerman, yang terbelah dua antara kapitalis liberal Jerman Barat dan Jerman Timur komunis, yang berarah ke Moskwa.

Di Asia pun terjadi anomali ketika AS dengan cepat mengubah Jepang menjadi sekutu, karena Tiongkok juga memilih ideologi komunisme sebagai alternatif hingga AS dan RRT berhadapan dalam Perang Korea 1950-1953. Di situ, Jepang menikmati bisnis jasa logistik . Begitu perang Korea selesai, setahun kemudian Prancis mengalami kekalahan telak di Dien Bien Phu, yang akan membelah Vietnam menjadi dua negara seperti Korea dan Jerman. Dalam Perang Dingin itu, baik pecundang maupun pemenang, akhirnya akan mengalami kemerosotan dan keterpurukan ekonomi yang terus berlangsung, bahkan setelah Perang Dingin usai dengan runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet serta kembalinya Tiongkok kepada ekonomi pasar, meninggalkan Marxisme.

Perang Korea disusul Perang Vietnam, yang memakan waktu 20 tahun sejak terbentuknya dua negara Vietnam 1955 Dalam perang ini, Korea menikmati jasa logistik pasukan AS, seperti ketika Jepang memperoleh dividen Perang Korea. Akibat pembiayaan pemulihan ekonomi bekas lawan dan pecundang, serta perang yang berkelanjutan, maka fundamental ekonomi AS mulai mengidap defisit dan memerlukan kreditor untuk menutup penyakit besar pasak daripada tiang yang kronis dan seolah sulit sembuh.

Mitra Dagang

Perang terakhir yang juga unik ialah perang melawan teror yang menguras dana triliunan dolar dengan hasil tidak memuaskan. Taliban bangkit lagi bahkan hingga ke Pakistan.

Kembalinya RRT pada ekonomi pasar selama 30 tahun telah menjadikan RRT sebagai supplier, kreditor, investor, dan mitra dagang yang saling bergantung dengan AS bagaikan kembar siam yang bila salah satu mati yang lain juga akan mati.

Amerika yang kalah perang dalam soft power akan kalah dalam persaingan ekonomi sektor riil yang dirajai produk RRT. Karena itu, elite AS menciptakan produk financial derivatives yang menciptakan pasar global yang nyaris fiktif, karena tidak menyetuh sektor riil sama sekali, tapi hanya berkutat pada jual- beli saham, mata uang, valas, dan spekulasi hedging.

Sektor finansial melejit, sehingga data mutakhir yang dikutip Steve Hanke dalam majalah Globe Asia, Maret 2009, total nilainya US$ 600 miliar atau 10 kali total PDB dunia. Inilah yang melahirkan produk berinisial aneh seperti CDS, CDO, yang menyembunyikan aktualitas kondisi non-transparan dari lembaga bisnis keuangan AS.

Jadi, bangkrutnya AS karena besarnya volume bisnis sektor fiktif keuangan menjadi monster yang merugikan perbankan global akibat sistem yang tidak diawasi oleh lembaga pengawas supranasional yang berwenang.

Perjuangan menuntut Tata Ekonomi Dunia Baru telah berlangsung sejak 1973, ketika OPEC berhasil memboikot dan menaikkan harga minyak. Tapi, tidak tuntas, karena negara industri tidak rela didikte oleh negara produsen minyak. Sekarang, perombakan justru diminta oleh Uni Eropa dan RRT, karena mereka dirugikan, investasinya terbenam dalam lumpur derivatives AS.

Perombakan struktur dunia dan sistem eks Bretton Woods, yang telah dikebiri oleh Nixon inilah yang akan menjadi agenda utama KTT G 20 di London, 2 April. Keputusan SBY hadir di London merupakan kebijakan mengutamakan kepentingan nasional dengan mengorbankan kampanye partisan 3 April di Jawa Timur.

Christianto Wibisono
Pengamat masalah internasional dan nasional

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=5677