Ahmad Gibson Al-Bustomi

Seni tradisi, secara antropologis, merupakan presentasi tearerikal pandangan kosmologi masyarakatnya. Dalam konteks tertentu, seni tradisi merupakan suatu “ritus” yang menghubungkan antara diri dan biografi dirinya dengan sejarah masa lalu primordial masyarakatnya yang sakral. Sakralitas seni tradisi terletak pada “apresiasi” masyarakat terhadap sejarah masa lalunya, bukan pada objek yang diapresiasi. Sakralitas yang tentunya tidak bisa diidentikan dengan sakralitas keagamaan, yang bukan hanya pada apresiasi tapi juga pada objek apresiasinya.

Sebagai presentasi pandangan kosmologis suatu masyarakat, seni tradisi pada wujud dan nilainya tentunya tidak mungkin bersebrangan dengan pandangan kosmologi tersebut. Demikian pula dengan seni tradisi masyarakat Sunda. Pandangan kosmologi Sunda yang tergambar dalam mitologinya, yang memposisikan Sunan Ambu, Dewi Sri (tokoh-tokoh di Kahiyangan), Purba Sari, Dewi Asri, Dayang Sumbi (tokoh-tokoh di marcapada), dan yang lainnya, sebagai sosok “ideal”. Kehadiran tokoh Sangkuriang, Mundinglaya di Kusumah (tokoh di marcapada), dan Lutung Kasarung atau Guru Minda (tokoh Kahiyangan) merupakan tokoh penegas terhadap sosok ideal tersebut. Dengan kata lain, dengan Sunan Ambu dan Dewi Sri (anak angkat Sunan Ambu) sebagai performa ideal, struktur mitologi Sunda didasarkan pada kearifan tokoh “ibu”. Hal ini bisa dipahami, dari pola mata pencaharian dalam bentuk pertanian, yang mengedepankan simbol kesuburan, yaitu sosok perempuan. Namun, sosok perempuan tersebut dimunculkan dalam nuansa yang berwarna “keibuan”, ambu, dengan diawali terma “sunan” yang bisa dimakna “anu disuhun” atau yang diagungkan.

Pemunculan sosok perempuan dengan performa “ibu” (ambu) sebagai pusat gravitasi dalam mitologi Sunda, tidak berujung dan tidak pula berawal dari tema-tema dan pesan-pesan erotisme, akan tetapi lebih pada sisi-sisi moralitas keperempuanan (ibu, ambu) sebagai sosok yang memiliki keteguhan hati, lembut, khrismatis, penuh kasih sayang, dan hal lain yang sejenis.

Kontur geografis Sunda yang pada umumnya adalah pengunungan dan perbukitan (pasir). Kontur giografis yang membentuk budaya pertanian dalam bentuk tradisi huma dan palawija. Sistem cocok tanam yang lebih menggantungkan diri pada keteraturan dan curah turunnya hujan, bukan pada irigasi. Hal ini bisa dimengerti karena pada umunya wilayah Sunda, Jawa Barat, memiliki curah hujan yang tinggi. Sehingga, masyarakat Sunda tidak memiliki ketergantungan terhadap solidaritas dan kerja-sama masyarakatnya. Dengan demikian, pada asalnya, masyarakat Sunda tidak mengenal budaya populis (tidak mementingkan popularitas), budaya yang melahirkan sikap mengalah atau tidak memiliki keinginan untuk tampil.

Terdapat hal yang unik, dibanding dengan kosmologi jawa, simbolisasi kesuburan yang digunakan adalah dalam sosok “ibu” (Sunan Ambu, Dewi Sri) yang memiliki “kharisma”, sabar, bijak, lebut, melindungi, mau berkorban dan sebagainya. Sedangkan dalam kosmologi jawa simbolisasi kesuburan digambarkan dalam bentuk “lingga”, alat kelamin. Perbedaan simbolisasi tergambar dalam karakteritik seni tradisinya. Seni tradisi jawa memiliki kecenderungan mengeksploitasi aspek-aspek erotis dari seorang perempuan, seperti terungkap dalam seni tadisi Tayuban, Ronggeng dan lain sebagainya. Sedangkan dalam tradisi Sunda terungkap dalam seni tradisi seperti Degung, Kecapi Suling, dan seni-seni lainnya.

Dengan demikian, autentisditas seni tradisi suatu masyarakat dapat “diukur” dengan melakukan pembacaan dan analisis dalam pendekatan pandangan kosmologinya.

Seni tradisi Cianjuran sebagai contoh, dapat dilihat sebagai seni tradisi campuran antara tradisi Jawa-Mataram dan Sunda. Dilihat dari sisi genre gaya puitiknya (struktur dan aturan“persajankan”), merupakan seni tradisi Jawa, sedangkan dari jiwa dan iraman serta nuansa kelebutan lebih merupakan unsur dari karakter seni tradisi Sunda. Unsur-unusr kesundaan yang berpijak pada karakter kosmologi ke-ambu-an, keibuan.

Dalam logika post-kolonial, tardisi Cianjuran merupakan upaya resistensi seni trasisi Sunda, dari seorang Pangeran Pancaniti, terhadap hegemoni seni trasdisi Jawa yang mengeksploitasi unsur-unsur erotis, dengan menggantikan unsur erotisme dengan menampilkan kelembutan yang penuh dengan kesantunan. Lain halnya dengan seni tradisi Tayuban atau Ronggeng yang dikenal wilayah pesisir utara (pantura), karena tidak terjadi proses resistensi oleh tokoh budayawannya, maka seni tersebut masuk secara utuh dalam masyarakat Sunda pesisir utara. Seni tradisi tersebut, Ronggeng dan Tayuban, merupakan seni tradisi Jawa-Mataram yang terinternalisasi dalam masyarakat Sunda ketika terjadi proses pengiriman pasukan Mataram ke Batavia, melalui jalur pantura. Apalagi, karena daerah Karawang sebagai salah satu wilayah jalur pantura tersebut dijadikan kantung yang menyediakan akomodasi pangan dalam menghadapi peperangan dengan Belanda atau VOC di Batavia.

Bila dilakukan pemetaan pola hubungan tradisi di tatar Sunda, dapat dilihat terdapat empat struktur dan biografi yang membentuk tadisi Sunda pada masa pendudukan Mataran di tatar Sunda, Priangan. Pertama, tradisi Sunda-asli yang diwariskan dari sejarah klasik masyarakat Sunda. Kedua, tradisi Islam-Sunda yang merupakan warisan Sunda-Islam masa para wali. Tradisi ini kemudian sering disebut sebagai tradisi pesantren, Sunda-pesantren; Suatu tradisi yang telah menyatu antara kebudayaan dan tradisi Sunda dengan tradisi keislaman (merupakan strategi dakwah Sunan Gunung Jati). Ketiga, tradisi Jawa-Mataram asli. Keempat, tradisi Jawa Mataram-Islam. Unsur ketiga dan kempat ini dibawa oleh bala tentara Mataram yang pada umunya berasal dari kelompok masyarat biasa, abangan, lebih banyak dibandingan dengan yang berasal dari masyarakat kraton dan pesantren.

Dengan demikian, peristiwa pengiriman pasukan Mataram ke Batavia, yang pada akhirnya juga diikuti dengan pendudukan Mataram di wilayah Priangan, khususnya, telah merubah struktur, formasi dan biografi seni dan tradisi bahkan sistem kosmologi masyarakat Sunda, khususnya di wilayah pantura dan pusat-pusat kekuasaan Mataram. Lain halnya dengan di pusat-pusat kekuasaan (perkotaan, dayeuh), di sana terdapat sejumlah budayawan yang bahkan terdapat juga budayawan yang merangkap sebagai priyayi (bangsawan) atau bangsawan Sunda-Mataram, maka proses resistensi budaya terjadi secara efektif, melalui proses negosiasi kultural. Berbeda dengan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan, terjadi secara langsung tanpa proses penyaringan yang berarti. Sedangkan, dalam hal penggunaan bahasa, terjadi sebaliknya.

Bila melihat matriks tersebut, maka ketika tradisi Sunda melakukan resistensi terhadap tradisi Jawa (Mataram) sebagai contoh, seperti dalam kasus lahirnya seni tradisi Jaipongan dan Cianjuran, maka peta resistensi tersebut dapat dilihat dalam dua bentuk resistensi. Pertama, resistensi Sunda-asli terhadap seni tradisi Jawa Mataram asli atau seni tradisi Mataram-Islam. Kedua, resistensi Sunda-Islam terhadap seni tradisi Jawa-Mataram atau terhadap Mataram-Islam. Pada kasus tradisi Cianjuran, sebagai contoh, bisa dipandang sebagai resistensi tradisi seni Sunda-asli terhadap seni tradisi Jawa-Mataram, dengan menghilangkan aspek erotik yang diganti dengan usnur-unsur kelembutan. Atau resistensi pesantren-Sunda terhadap Jawa-Mataram terhadap unsur yang sama, dengan memunculkan aspek-aspek religius dalam syair-syair Cianjuran. Demikian juga dengan seni Tradisi Jaipongan sebagai wujud baru sebagai hasil dari resistensi seni-tadisi Sunda terhadap seni Tayuban dan Ronggeng. Dan bila melihat upaya eliminasi unsur-unsur erotis dalam seni-tradisi Jawa-Mataram yang dilakukan oleh seniman tradisi Sunda-asli dan Sunda-pesantren atau Sunda-Islam, maka terdapat kesamaan cara pandang yang “sama” terhadap erotisme (antara Sunda-asli dan Sunda-pesantren). Dengan demikian, asumsi yang kini berkembang bahwa seni Tayuban dan seni Ronggeng yang berkembang di Karawang dan daerah sekitarnya merupakan resistensi seni-tradisi Sunda-asli terhadap Sunda-pesantren, merupakan asumsi yang sangat tidak berdasar. Karena, seni-seni tradisi Tayuban, Ronggeng serta tradisi sejenis seperti seni tradisi Dombret, tradisi “warung-remang” dan sejenisnya, merupakan seni dan tradisi warisan pasukan Mataram di tatar Sunda. Asimilasi budaya tardisi erotisme yang berpijak di atas kosmologi “lingga” merupakan pemenuhan kebutuhan “seksual” pasukan Mataram ketika melakukan penyerangan ke Batavia.

Terdapat upaya seniman untuk mempertemukan seni tradisi peninggalan tradisi Mataram tersebut dengan memasukkan unsur-unsur kesundaan. Lahirnya seni tradisi Jaipongan, sebagai contoh, bisa dipandang sebagai hasil negosiasi antara dua tradisi, yaitu tradisi Jawa (Tayuban atau Ronggeng) dengan tradisi Sunda, sehingga dalam Jaipongan telah mengalami proses penghalusan unsur-unsur erotisnya, dengan memasukkan unsur seni pencak silat, ketuk tilu, walupun unsur erotisme tersebut tampak masih kental.

Dalam analisis kosmologi, tradisi dan seni-tradisi warisan tradisi Mataram tersebut, bila dilihat dari cara pandang konsmologi Sunda, sangat bersebrangan. Karena, dalam kerangka kosmologi Sunda, eksploitasi unsur-unsur erotisme dianggap tabu. Apalagi, bentuk-bentuk penyimpangan seksual. Dengan demikian, sulit untuk dipahami bila budaya dan tradisi yang mengandung untur eksploitasi erotisme ditemukan dalam seni tradisi Sunda. Lain halnya, bila seni dan tradisi tersebut merupakan unsur adopsi dari budaya dan tradisi luar.

Namun demikian, bila memang unsur-unsur luar dan bersebrangan dengan prinsip kosmologi Sunda tersebut telah dianggap sebagai seni tradisi yang autentik bagi masyarakat Sunda tertentu, persoalannya menjadi lain. Artinya, telah terjadi perkembangan atau bahkan peralihan paradigma kosmologis, dan itu biasa dalam masyarakat. Bila pengaruh Mataram tersebut telah demikian kuat ditambah lagi kini dengan mundulnya proses modensasi di berbagai bidang, maka wajar bila kini masyarakat Sunda, khususnya generasi muda, yang tidak mengenal pandangan ksomologinya sendiri. Fenomena innilah yang digambarkan dalam cerita Pun Boncel. Sosok yang telah menafikan keberadaan ibunya, menafikan Sunan Ambu. Menafikan nilai-nilai primordial bangsanya. Maka, tunggulah kutuk “Sunan Ambu”.

Penulis: Dosen dan Ketua Jurusan Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Anggota Kelompok Studi Budaya Sunda “Pasamoan Sophia Bandung”.

Sumber: http://klipingkumincir.blogspot.com/2005/10/latar-kosmologi-seni-tradisi-kritik.html