DAVID JOEL HOROWITZ adalah seorang penulis dari kubu konservatif yang cukup terkenal dan sangat produktif di Amerika Serikat. Buku-bukunya menjadi sangat terkenal sebab pemikiran-pemikirannya yang sangat kontroversial. Terutama pandangan dia tentang Islam. Ia adalah tipe orang yang percaya dengan amat sangat bahwa Islam yang direpresentasikan oleh Al-Qaeda dan Osama bin Laden sangat membenci Amerika dan ingin membumihanguskan Amerika. Ia adalah orang yang mendukung dengan sangat kuat serangan atas Irak dan hukuman mati atas Saddam Hussein. Dan tentunya, ia adalah orang yang percaya bahwa nama tengah “Hussein” dari Obama merupakan sebuah pesoalan yang amat serius!

[averroes]CRgPKAglmzc[/averroes]

[averroes]XLgYAHHkPFs[/averroes]

Akhir-akhir ini, serangan dia terhadap gerakan Kiri tak kalah agressif dibandingkan dengan serangan dia terhadap Islam tersebut.

Secara mengejutkan, Horowitz sebenarnya dilahirkan dari keluarga komunis. Kedua orang tuanya adalah pemeluk Yahudi dan pengikut fanatik partai Komunis. Horowitz muda juga merupaka penganut komunisme yang sangat kuat (ingat dia tidak atheis, sebab dia beragama Yahudi). Bahkan salah satu buku pertama yang dia tulis pada tahun 1971 adalah biografi tentang seorang tokoh Marxist besar Issaac Deutscher. Tapi setelah serangkaian kejadian besar dalam kehidupannya, seperti meninggalnya orang terdekatnya Betty Van Patter akibat ketrlibatanna dengan kelompok kiri garis keras Black Panther, serta kekecewaannya terhadap kekejaman Khmer Merah di Vietnam terhadap rakyat membuatnya, secara gradual, berpindah haluan (murtad) menjadi seorang yang teramat sangat anti-komunisme.

Pada tanggal 25 Oktober 2007, David Horowitz pernah memberikan ceramah di Emory University, Atlanta. Seminar ini dihadiri sekiar 200 an peserta. Yang membuat seminar ini sangat menarik adalah sejak awal acara kelompok anti-Horowitz telah melakukan aksi berdiri membelakangi panggung. Lalu Horowitz mulai berceramah dan menyodorkan pandangan-pandangannya, beberapa orang mulai ikut berdiri dan membelakangi panggung.

Saat keadaan mulai agak gaduh dengan aksi protes ini, seorang panitia mengatakan:

“Saya peringatkan bagi kalian yang berdiri untuk duduk atau secara fisik kami akan memaksa anda untuk keluar!”

Sontak makin banyak orang yang ikut berdiri. Si pengancam tadipun akhirnya hanya bisa melongo saja. Horowitz berhenti bercramah dan acarapun bubar. Diluar ruangan para demonstran yang umumnya warga muslim Amerika dan kulit hitam masih terus menjalankan aksinya. Salah satu peserta seminar yang tidak ikut berdiri berkata:

“Saya ini seorang komunis dan anti-kapitalisme, tapi saya ingin mendengarkan pikiran-pikiran dia (Horowitz) dan menunggu sesi tanya jawab untuk membatah pendapat-pendapatnya. Saya tidak suka dengan aksi boikot ini, meskipun Saya juga tak suka Horowitz, karena dengan aksi ini ruang dialog menjadi tertutup!”

Aku sangat tertarik dengan pernyataan pemuda ini. Sebab bukankah memang demokrasi seharusnya dibangun berdasarkan dialog dan musyawarah. Mulai dari Frankfurt sampai Makkah aku kira setuju soal itu. Tetapi persoalnnya apakah demokrasi itu murni hanya sebuah peralatan yang value-free? Apakah demokrasi itu bukan ideologi itu sendiri? Lantas bagaimana dengan kekerasan, apakah juga harus diberi ruang untuk berdialog oleh demokrasi?

Beberapa kalangan bilang bahwa kekerasan tidak memiliki hak untuk memasuki ruang dialog dalam demokrasi. Itulah sebabnya maka Hamas harus ditumpas (atas nama demokrasi), sebab jelas-jelas dalam konstitusi partainya menghalalkan kekerasan (pembunuhan) terhadap Yahudi. Kalau kekerasan harus di ekskludasi dari ruang demokrasi, bagaimana dengan sumber kekerasan, yakni kebencian? Apakah kebencian juga harus dilarang masuk dalam ruang dialog demokrasi sebab kebencian adalah sumber kekerasan? Kalau memang demikian, berarti Horowitz, sebagai produsen kebencian, juga tak berhak memasuki ruang demokrasi? Sebuah ideologi yang Horowitz sendiri junjung tinggi, dan menghadap-hadapkannya dengan Islam dan Kiri?

Tetapi, kembali pada proses perenungan atas munculnya benih-benih Horowitz dalam diri kita selama ini. Benih-benih kebencian dan kecurigaan atas kelompok yang tak se-keyakinan dengan kita. Pembuatan garis demarkasi yang tegas antara si Hitam dan si Putih. Meyakinkan kader-kader muda bahwa membenci kelompok, ideologi, dan/atau agama lain adalah bagian dari proses peneguhan identitas, penebalan keimanan, dan sebagainya, sebenarnya adalah juga bagian dari proses produksi kebencian. Sadarkah kita, bila ternyata pada sebuah penggalan sejarah kita telah menjadi produsen kebencian? Bagaimanakah kita bisa keluar dari lingkaran setan ini? Lingkaran setan yang melingkungi para pemimpin agama, ideologi, dan gerbong politik yang setiap hari memproduksi kekuasaan mereka dengan memproduksi dan mendiseminasi kebencian. Kekuasaan yang dilandasi oleh kebencian.

Bisakah kita mulai menjadi Islam tanpa harus membenci Yahudi, Kristen, Atheist, dll, vice versa? Menjadi sosialis yang tak membenci kapitalisme, vice versa? Menjadi pengikut partai tanpa membenci partai lain dan para pengajur golput, vice versa? Bisakah kekuasaan muncul tanpa kebencian, vice versa? Bisakah manusia hidup tanpa kebencian, vice versa?

“….Tidak cukupkah kita hidup dengan cinta saja?!”

Fadillah Putra, 1st year LBJ School of Public Affairs Student University of Texas at Austin.

Medio March, East Austin.