KETIKA artikel ini ditulis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang di London, Inggris. Beliau baru saja mengadakan pertemuan bilateral dengan PM Inggris, Gordon Brown. Presiden SBY di Inggris ini untuk menghadiri Pertemuan G-20 pada 1-2 April.

Pertemuan G-20 yang beranggota 20 negara pemimpin dunia memang dianggap penting dan strategis untuk memecahkan kompleksitas ekonomi dunia; apalagi di tengah-tengah krisis ekonomi yang dialami banyak negara seperti sekarang ini. Demikian penting dan strategisnya pertemuan tersebut, wajar saja kalau banyak pemimpin dan kepala negara, termasuk Perdana Menteri Jepang Taro Aso dan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, dijadwalkan menghadirinya.

Sebagai catatan, anggota kelompok G-20 atau The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors tersebut masing-masing Afrika Selatan, Argentina, AS, Australia, Brazilia, Britania Raya, Canada, Cina, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Arab Saudi, Turki, dan Uni Eopa. Tujuan dibentuknya G-20 ialah memecahkan kompleksitas ekonomi dunia serta memperkecil kesenjangan ekonomi antara negara maju dengan negara berkembang dan negara terbelakang.

Kesenjangan Pendidikan

Kalau kita mencermati sejarah, dibentuknya kelompok ekonomi G-20 adalah terjadinya kesenjangan ekonomi di antara banyak negara di dunia ini. Kelompok negara-negara maju seperti AS dan Jepang umumnya memiliki kinerja ekonomi yang kuat dan berakibat pada kesejahteraan rakyatnya; sementara kinerja ekonomi di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan India masih “kembang kempis” tak menentu; apalagi di negara-negara tertinggal seperti Myanmar dan Ethiopia. Kesejahteraan rakyat negara berkembang dan tertinggal umumnya masih “kembang kempis” pula.

Kesenjangan tersebut juga terjadi di dunia pendidikan. Dengan dukungan teknologi informasi (information technology) yang serbacanggih, perkembangan pendidikan di negara maju melesat pesat bak anak panah lepas dari busurnya. Sebaliknya, tanpa dukungan teknologi informasi yang memadai, perkembangan pendidikan di negara berkembang dan negara terbelakang tertatih-tatih bak kuli gendong yang keberatan beban.

Ilustrasi konkretnya mari kita lihat publikasi mutakhir CYNDOC edisi 27 Januari 2009. Dalam publikasi ini sepuluh perguruan tinggi yang paling baik (the best ten) semuanya berkiprah di AS; yaitu Massachusetts Institute of Technology (ke-1), Stanford University (ke-2), Harvard University (ke-3), University of California Berkeley (ke-4), Cornell University (ke-5), University of Michigan (ke-6), California Institute of Tecnology (ke-7), University of Minnesota (ke-8), University of Illinois Urbana Champaign (ke-9), dan University of Texas Austin (ke-10).

Sekarang kita lihat publikasi mutakhir Times. Dalam publikasi edisi 27 Oktober 2008 ditetapkan sepuluh perguruan tinggi terbaik sbb: Harvard University, AS (ke-1), Yale University, AS (ke-2), University of Cambridge, Inggris (ke-3), University of Oxford, Inggris (ke-4), California Institute of Technology, AS (ke-5), Imperial College London, Inggris (ke-6), Uni-versity College London, Inggris (ke-7), University of Chicago, AS (ke-8), MIT, AS (ke-9), dan Columbia University, AS (ke-10).

Kalau kita melihat publikasi versi lain seperti ARWU, SJTU, dsb, akan dihasilkan kesimpulan yang sama; yaitu perguruan tinggi terbaik selalu diisi oleh negara maju. Untuk tingkat pendidikan menengah dan pendidikan dasar pun hasilnya sama.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena pendidikan di negara maju memang didukung dengan fasilitas teknologi informasi yang memadai, SDM yang lebih profesional, dana lebih longgar, dan segala sesuatu yang lebih memadai dibanding negara berkembang dan terbelakang. Dengan kriteria seperti itu, dalam setengah abad ke depan pun hampir tidak mungkin perguruan tinggi dan sekolah di negara berkembang bisa berada pada puncak tangga, apalagi di negara terbelakang.

Itu semua sebenarnya merupakan bukti konkret telah terjadinya kesenjangan di dunia pendidikan. Ironisnya, kesenjangan tersebut makin lama justru semakin parah.

Membentuk Kelompok

Kalau untuk memecahkan kompleksitas ekonomi telah terbentuk kelompok ekonomi G-20, untuk memecahkan kompleksitas pendidikan dapat dibentuk kelompok pendidikan G-20 pula.

Dengan kelompok pendidikan, setiap anggota bisa melakukan sharing secara produktif. Negara-negara maju seperti AS bisa menularkan penguasaan teknologi informasinya ke negara berkembang dan terbelakang; sebaliknya negara berkembang seperti Indonesia bisa menularkan semangat juangnya ke negara maju dan terbelakang. Di sisi lain negara terbelakang seperti Ethiopia dapat menularkan filosofi pendidikannya ke negara maju dan berkembang.

Dalam keadaan seperti sekarang, sangat mungkin akan sulit mencari negara yang mau berinisiatif membentuk kelompok pendidikan tersebut. Negara maju mungkin merasa kelompok pendidikan bukanlah sebuah prioritas karena mereka sudah mampu menjalankan pendidikannya sendiri tanpa bantuan negara lain; sebaliknya negara terbelakang juga enggan melakukan karena kalaupun mau berinisiatif tentu tidak mampu menindaklanjuti dan menarik negara maju.

Dalam keadaan seperti ini justru Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk berinisiasi. Apa pun kata orang, senyatanya Indonesia sekarang dihormati dan mulai diperhitungkan perannya oleh negara maju; dan di sisi lain di samping dimesrai oleh negara berkembang, juga dihormati dan diunggulkan oleh negara terbelakang.

Seandainya Indonesia mau menyatakan secara formal untuk berinisiatif membentuk kelompok pendidikan seperti G-20, dan didukung negara lain setelah melakukan pendekatan yang produktif, pendidikan Indonesia akan semakin diperhitungkan oleh masyarakat dunia

* Prof Dr Ki Supriyoko, pamong Tamansiswa, Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) di Jepang, dan mantan Sekretaris Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan Indonesia

Sumber, Jawa Pos, Sabtu, 04 April 2009