Saat ini, ketika Manado jadi tuan rumah World Ocean Conference (WOC), sungguh tepat untuk merenungkan kembali perairan Nusantara sebagai kawasan pariwisata bahari. Sebagai kawasan penghasil rempah, sejak sebelum bangsa-bangsa Spanyol, Portugis, Belanda, Prancis dan Inggris berlomba menuju ke sini, nenek moyang kita telah menjelajahi lautan, sehingga terjalin hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa Barat (walau tak langsung, melalui “cinammon route”) yang memungkinkan rempah-rempah kita jadi penyedap masakan Barat.

Kemudian menyusul setelah Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) menghubungkan Nederland dan Nusantara, sedikit demi sedikit turis Eropa (terutama Belanda) melancong ke Jawa dan Bali, hingga kemudian disusul penerbangan pertama ke timur jauh oleh Koninklijk Luchtvaart Maatschappij (KLM) yang menghubungkan Amsterdam dan Batavia. Menjelang pecah Perang Dunia Kedua, makin banyak turis Eropa berkunjung ke Hindia Belanda.

Pada tahun 1954 penulis masih sempat naik kapal KPM Plancius dan Ophir dari Surabaya ke Buleleng, Bali dan sebaliknya, sebelum perusahaan perkapalan milik kerajaan Belanda itu dinasionalisasi menjadi Pelni pada 1959.

Setelah RI memasuki era Orde Baru, di tahun 1970-an, Holland American Line mengoperasikan kapal pesiar Prinsendam dengan membawa turis mancanegara keliling Nusantara, antara lain menyinggahi Pulau Nias dan Bali. Sedikitnya dua kali wartawan surat kabar ini yakni Agnes Samsuri dan Suryohadi meliput pelayaran Prinsendam keliling Nusantara pada selepas tahun 1973. Kapal mewah HAL itu terbakar dan tenggelam di perairan antara Manado dan Filipina.

Dengan Kapal Pesiar
Lebih Baik

Nusantara memiliki sejarah panjang dalam wisata bahari global, yang hingga sekarang pun masih dinikmati wisatawan dengan kapal pesiar yang masih lalu lalang di perairan Nusantara, beberapa di antaranya dengan kapal-kapal berbagai bendera Amerika, Eropa, Asia bahkan Rusia. Walaupun Indonesia hingga kini masih tertimpa krisis multidimensi (sosial, ekonomi, politik dan budaya) yang kini seakan dilanjutkan oleh krisis global, namun fakta menunjukkan kawasan Asia Pasifik termasuk Nusantara masih dirambah oleh kapal-kapal pesiar internasional.

Maka, Indonesia sekarang ini juga harus kembali berupaya membujuk rayu kapal-kapal pesiar yang belum mengarungi perairan Nusantara agar mempertimbangkan kawasan perairan kita yang paling beragam di dunia, baik dalam kekayaan keindahan alam maupun budaya. Bahwa Malaysia, Singapura dan Hong Kong sudah sejak belasan tahun lalu lebih dulu menjadi pusat persinggahan kapal pesiar dunia makin menggarisbawahi perlunya Indonesia membenahi diri kembali sebagai kawasan perairan kapal pesiar.

Menjadi tuan rumah WOC yang baru pertama kali diselenggarakan hendaknya menggugah Indonesia yang sudah kelewat lama kurang menyadari kedudukannya sebagai negeri bahari yang demikian strategis. Indonesia sudah sejak proklamasi kemerdekaan, menelantarkan diri sebagai negara maritim, yang berada pada titik silang antara dua benua serta sekian laut dan lautan. Indonesia merupakan emporium yang memiliki keragaman kawasan tujuan wisata.
Peter Semone, seorang pakar wisata alumnus Universitas Cornell, dengan pengalaman puluhan tahun di bidangnya, dalam sebuah proposalnya kepada (ketika itu) Direktur Jenderal Pairiwisata, Andi Mappissameng (1995), mengungkapkan bahwa 85 persen dari responden survei CLIA (Cruise Line International Asssociation) mengatakan bahwa berwisata dengan kapal pesiar (cruising) adalah satu cara yang baik untuk mencicipi keindahan berlibur. Peter Semone berkesimpulan kawasan Asia Pasifik (baca: termasuk Indonesia) sudah terposisi sebagai pasar yang mampu memenuhi tantangan dan keperluan dunia pada abad 21.

Saling Melengkapi

Ini terbukti dengan kenyataan bahwa Singapura sudah lama menjadikan diri pusat pelayaran kapal pesiar di Asia Tenggara. Sudah lebih dari 25 tahun lalu Singapura memiliki terminal penumpang kapal pesiar dengan gaya terminal bandar udara internasional yang letaknya cuma berjarak 25 menit dari bandar udara internasional Changi dengan fasilitas-fasilitas senilai S$ 50 juta yang diakui sebagai gerbang utama bagi Asia Tenggara. Indonesia semestinya memetik manfaat paling utama dari keberadaan pelabuhan kapal pesiar Singapura yang harus kita lihat pula sebagai salah satu gerbang utama ke Indonesia.

Kita cukup menyadari bahwa di Asia Tenggara, kita tidak hanya bersaing dengan Singapura, tetapi juga dengan Thailand, Vietnam, Hong Kong dan Malaysia. Tetapi, posisi kompetitif itu juga dapat sekaligus sebagai posisi yang saling melengkapi. Seperti halnya dalam wisata jarak jauh yang menggunakan pesawat udara, negara-negara yang saling berdekatan menjadi pelengkap suatu negara tujuan wisata tertentu. Mahalnya biaya maka negara tujuan wisata kapal pesiar pun bisa tergabung dengan negara berdekatan. Apalagi sudah sejak puluhan tahun dunia wisata telah mengenal “fly and cruise” sebagai gabungan untuk mengefisienkan waktu bagi para pelancong dengan kapal pesiar yang banyak memilih keberangkatan atau kepulangannya menggunakan pesawat udara atau sebaliknya.

Makin banyak informasi diperoleh tentang suatu negara, tujuan pesiar makin menarik pula bagi negeri berdekatan untuk memperoleh luberannya. Ke Indonesia dan negara negara ASEAN tetangganya.

Puluhan negara yang mengutus para delegasinya ke WOC Manado melihat Nusantara tidak sekadar sebagai negara dengan kekayaan kelautan yang tak tepermanai yang dalam kaitan ilmiah biologis dan oceanologis merupakan ranah ilmu yang nyaris tiada batasnya untuk dirambah dan ditelaah. Sebagai tuan rumah, Indonesia harus pandai mengoptimalkan agenda WOC yang memberi manfaat bagi kepentingan nasional kita. Kita juga harus punya agenda nasional yang harus bisa kita menangkan di WOC.

Indonesia, khususnya Manado dan Sulawesi Utara, tentu menggamit perhatian selama berlangsungnya konferensi kelautan dunia. Ia harus menjadi titik penting dalam peta dunia wisata bahari, termasuk yang dengan kapal pesiar itu.

Winarta Adisubrata

Penulis adalah wartawan senior dengan kekhususan di bidang pariwisata

Sinar Harapan 08 Mei 2009
Sumber: http://sinarharapan.co.id/berita/0905/08/opi01.html