Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi sosial yang mempunyai jumlah massa paling besar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Basis massa NU tersebar luas di seluruh pelosok bumi Indonesia dan mengakar kuat di lingkungan rakyat kecil (grass root) bangsa Indonesia. Akan tetapi dengan jaringan yang luas, basis masa yang kuat dan usia yang tidak tergolong muda lagi, sampai sekarang NU belum bisa menonjolkan prestasi gemilang yang akan semakin mengharumkan namanya.

Di mana dengan prestasi tersebut bendera NU akan lebih berkibar di bumi nusantara. Selain itu, organisasi ini juga dianggap belum mampu dalam mensejahterakan warganya. Dalam sejarahnya warga nahdhiyyin (warga NU) menjadi masyarakat yang terpinggirkan dan tersisih. Hal ini tentu saja menjadi sesuatu yang sangat ironis, mengingat NU adalah sebuah organisasi yang memiliki basis masa yang kuat dan juga usianya yang sudah cukup lama jika dihitung semenjak NU dilahirkan, yaitu tanggal 31 Januari 1926 sampai dengan 31 Januari 2008, maka organisasi sosial keagamaan ini telah mencapai usia 81 tahun. Jika dihitung sampai pada 31 Januari 2026, maka organisasi NU berusia 100 tahun atau satu abad.

Dengan demikian, seiring dengan usia NU yang semakin tua, maka semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi oleh NU. Menurut penulis paling tidak ada dua tantangan besar yang akan berhadapan langsung dengan eksistensi NU sendiri, pertama globalisasi neoliberal yang telah merubah dan mengendalikan tata dunia baru, dan kedua adalah munculnya organisasi-organisasi baru di luar NU yang masuk di wilayah kantong-kantong NU, seperti Ikhwanul Muslimin (IM) yang meminjam wajah PKS, Hizbut Tahrir (HTI) dan Jama’ah Islamiyyah (JI). (hlm:2).

Globalisasi neoliberal adalah ideologi lanjutan dari kapitalisme yang diusung oleh Negara-negara maju yang saat ini tengah diadopsi oleh sebagian besar negara-negara berkembang. Ideologi ini disupport oleh pilar-pilar raksasa badan dunia, seperti IMF, Bank Dunia, WTO dan perusahaan-perusahaan transnasional. Globalisasi neoliberalisme ini merupakan wujud lain dari globalisasi imperialisme Barat ke Negara-negara belahan bumi selatan di abad 19 sampai dengan abad ke-20. Baik globalisasi neoliberal maupun globalisasi imperialisme sama-sama dimotori oleh bangsa barat.
Selain oleh bangsa barat, globalisasi imperialisme juga dilancarkan oleh kelompok-kelompok islam seperti HT (Hizbut Tahrir), Ikhwanul Muslimin yang meminjam wajah PKS dan kelompok-kelompok sejenis yang mencoba menghembuskan angin ideologi wahabi di bumi nusantara. Bahkan di jantung-jantung wilayah masyarakat NU.

Menjelang satu abad usia NU, guna merespon tantangan neoliberalisme, maka seluruh jajaran kaum NU harus mau dan serius dalam merespon tantangan neoliberalisme. Jika hal ini tidak dilakukan, maka NU akan terpinggirkan dan menjadi pemain yang kalah di kandangnya sendiri. Dengan demikian, implikasi kekalahan NU dalam melawan arus neoliberalisme akan berdampak langsung pada masyarakat kecil. Yakni semakin termarjinalkanya masyarakat bawah (grass root) NU dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi.

Satu hal yang perlu menjadi catatan bagi masyarakat NU, adalah mereka harus bias membedakan antara respon-respon yang bersifat reaktif-pasif dan yang bersifat kreaktif-aktif. Dengan kata lain, dalam merespon arus neoliberalisme yang tengah mengalir di seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat NU, mereka seharusnya tidak hanya menyerahkan perbaikan nasibnya kepada Tuhan dan individu-individu NU. Karena respon jenis ini tidak memiliki cara pandang dan narasi yang mengkat kerja individu dan kelompok-kelompok sektoral di kalangan masyarakat NU. Selain itu, respon jenis ini juga tidak memikirkan desain jangka panjang, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi serta persiapan-persiapan yang sedini mungkin harus dibuat.

Sebaliknya, respon kreatif-aktif akan menciptakan kerja-kerja yang akan diproyeksikan untuk memperjuangkan kerangka besar imajinasi masyarakat NU tentang Indonesia dan tata dunia yang adil. Selain itu, komunitas NU juga harus menciptakan pembaruan internal dan persiapan-persiapan menghadapi tantangan masa depan. Meskipun tidak semua pilar masyarakat NU harus satu suara dalam menggemakan spirit perjuangan demi kerangka besar yang penting diperjuangkan, paling tidak ada kelompok yang memperjuangkan nasib masyarakat basis NU secara serius, simultan dan konsisten. (hlm:144)

Dari berbagai penjelasan di atas, buku ini hadir untuk ikut memberikan semacam pandangan yang mungkin bisa menjadi bahan renungan demi menyongsong satu abad NU di tengah ganasnya hempasan globalisasi neoliberal. Buku ini ingin memaparkan problem mendasar tentang apa itu neoliberalisme beserta implikasinya terhadap masyarakat NU apabila ideologi semakin mencengkramkan kukunya di bumi Indonesia. Melalui buku ini, masyarakat NU diajak untuk memandang lebih mendalam terhadap posisi mereka yang kini sedang dimainkan dalam hubunganya dengan neoliberal; modal-modal sosial yang dimiliki dan hambatan-hambatan yang menghadang masyarakat NU untuk merespon neoliberal serta kerangka besar dan langkah taktis apa saja yang perlu diambil masyarakat NU menjelang usianya yang ke-100 tahun (satu abad) seiring dengan semakin canggih dan gencarnya arus neoliberalisme.

Judul Buku : NU dan Neoliberalisme, Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad
Penulis : Nur Kholiq Ridwan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xix + 204 Halaman
Peresensi : Ahmad Bahaudin, Pustakawan Hasyim Institute. Berdomisili di Yogyakarta. Minggiran MJ II / 1482 B, 55141 Yogyakarta

http://www.gp-ansor.org