Akar Permasalahan Filsafat Yunani

SELAMA dua puluh minggu ke depan, di kantor diadakan Sekolah Filsafat Ilmu untuk Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang. Sekolah Filsafat ini diadakan selama 10 kali pertemuan, dua minggu sekali. Dosen tamu pada pertemuan perdana kemarin adalah salah satu profesor dari UNAIR Surabaya. Pembicaraan berkisar tentang sejarah lahirnya filsafat di Yunani. Dibicarakan pula asal usul terjadinya kategorisasi ilmu yang berkembang saat ini. Namun tulisan kali ini hanya menggambarkan satu fokus kecil yang menarik perhatian saya, yaitu pada kepercayaan kita yang amat sangat bahwa filsafat berakar dari peradaban Yunani.

Kemarin sempat tercetus kalimat, “Setiap peradaban memiliki kebijaksanaan dan pemikiran sendiri, namun Yunani merupakan peradaban yang banyak menuliskan hasil pemikirannya, sehingga saat ini filsafat yang berkembang adalah filsafat yang berasal dari bangsa Yunani”. Is it true? Does philosophy really take its roots from Greek? Before Greek, is the world really empty of empirical thoughts? Well, let’s see then ^_^ Greek, as we ‘know’ all this time, was ‘the Cradle of Western Civilization’, buaian atau ayunan (ungkapan lain dari tempat kelahiran) bagi peradaban keilmuan Barat (You can check this out in Microsoft Encarta ^_^).

Ungkapan ini sebenarnya lahir sebagai perlambang bagi supremasi peradaban Barat yang tidak hendak mengakui adanya sumbangsih peradaban lain dalam asal-usul peradaban dan filsafat Barat. Filsafat dianggap lahir begitu saja di Yunani disebabkan kecerdasan alami bangsa Yunani yang sangat tinggi, tanpa campur tangan peradaban lain yang jauh lebih tua, misalnya Mesopotamia dan Mesir, dua peradaban dengan rentang waktu jauh lebih panjang dan berusia sangat tua, yang terletak sangat dekat dengan Yunani (hanya dibatasi oleh Laut Tengah atau Mediterania).

Sebenarnya pandangan ini tidak memiliki dasar keilmuan yang kuat, atau melalui penelitian mendalam dengan berpegang pada asas obyektivitas. Walaupun begitu, karena dianggap sesuai dengan visi misi peradaban Barat yang berkembang kemudian, akhirnya pendapat ini menjadi populer, bahkan di dunia Timur saat ini. Barat mencoba menghapus utang budi dari dunia Timur dengan menyatakan bahwa tradisi keilmuan dan filsafat lahir pertama kali di Yunani melalui Thales, Plato, Socrates dan Aristoteles-nya. Yunani dianggap memiliki sangat banyak faktor internal, seperti keindahan alam, kebaikan iklim dan kecerdasan manusia, yang mengakibatkan timbulnya filsafat dengan tiba-tiba pada masa Thales, di dalam sebuah peradaban yang berusia jauh lebih singkat daripada peradaban Mesir dan Mesopotamia ini. Sebelum peradaban Yunani, pemikiran rasional dan penyelidikan teratur terhadap alam semesta tidak dikenal di dunia.

Peradaban Yunani memberikan sumbangan peradaban terbesar dalam hal pemikiran rasional dan penelitian ilmiah bagi peradaban-peradaban lain yang ‘kurang’ maju. Pandangan-pandangan semacam inilah yang sangat mempengaruhi dunia keilmuan sejak dulu hingga saat ini. T_T Walaupun demikian, ternyata tidak sedikit kalangan ilmuwan dari Barat sendiri yang tidak sependapat dengan hal ini. Paparan ini saya kutip secara bebas dari tulisan salah satu staf pengajar kuliyah sains di International Islamic University of Malaysia (IIUM), Adi Setia, Ph.D, di dalam salah satu Jurnal Islamia yang saya baca baru-baru ini. Judul tulisan itu adalah ”Melacak Ulang Asal-usul Filsafat dan Sains Yunani Kuno”.

Berikut ini adalah paparan singkatnya. Benjamin Schwartz dalam bukunya ”The World of Thought in Ancient China” menyimpulkan bahwa Yunani tidak dapat dikatakan mengawali pemikiran rasional dan logika, karena hal serupa dapat ditemui dalam sejarah intelektual China pada sekitar zaman yang sama. Hal ini menjadi sangat masuk akal, mengingat terkenalnya The Silk Road di masa lalu, yang merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan China, Mesir hingga Eropa.

Tentu saja dalam hal ini tidak hanya barang dagangan yang dipertukarkan, namun juga kebudayaan, tradisi-tradisi keilmuan dan pengetahuan masing-masing peradaban. Sebagai intermezzo, kita juga telah sangat memahami, bahwa tradisi minum teh yang sangat terkenal di Jepang hingga saat ini sebenarnya mereka pelajari dari bangsa China.

Karena itu, Adi Setia memaparkan, bahwa penguasaan intelektual, politik dan ekonomi Eropa dalam sejarah dunia modern hanya bisa dijelaskan secara rasional dan tepat apabila dirujukkan kepada pengaruh antar benua (intercontinental influences) yang menjalar dari perkembangan tertentu dalam peradaban-peradaban bertetangga, bukan akibat unsur-unsur internal semata. Prof. George GM. James dalam bukunya ”Stolen Legacy: Greek Philosophy is Stolen Egyptian Philosophy” memaparkan tesis bahwa para filosof Yunani seperti Thales, Pythagoras, Socrates, Plato dan sebagainya telah menerima pendidikan atau setidaknya meminjam buah pikiran para paderi dan pendeta Mesir.

Walaupun demikian, dalam perkembangan selanjutnya buah pikiran itu dibawa ke Yunani dan ditulis kembali secara besar-besaran dalam bahasa Yunani, tanpa menyatakan sumber asalnya secara terus-terang dan terperinci. Kita tentu telah mengetahui bahwa tradisi mencantumkan sumber secara terperinci baru berkembang setelah ulama-ulama Muslim dengan sangat hati-hati dan teliti mencantumkan seluruh narasumber dan sanad dari setiap hadits yang dituliskan. Dalam bukunya ini, Prof. James bahkan meringkas seluruh doktrin dalam filsafat Yunani yang setelah ditelusuri asal-usulnya, terdapat dalam batu prasasti Teologi Memphis dari abad ke-4 SM, jauh sebelum kelahiran Thales dan filsuf semasanya.

Selain itu, Martin Bernal dalam bukunya Black Athena, menyelidiki jalinan kesetaraan dan keserupaan kebudayaan dan intelektual antara peradaban Semit (Yahudi), Yunani dan Mesir. Bahasa Yunani, walaupun termasuk rumpun bahasa Indo-Eropa, banyak meminjam perbendaharaan kata bahasa Kan’an dan bahasa Mesir. Peradaban Yunani juga banyak terpengaruh oleh peradaban Mesir dan Funesia, akibat penjajahan selama 1500 tahun oleh kedua bangsa itu. Sementara itu, George Sarton menegaskan bahwa ’keajaiban’ Yunani dalam bidang sains sebenarnya telah didahului oleh ribuan tahun pencapaian sains di Mesir dan Mesopotamia, maka pandangan bahwa sains bermula dari Yunani adalah pemalsuan hakikat sejati yang merupakan sikap ’kekanak-kanakan’.

Sarton menyatakan bahwa sains Yunani sebenarnya lebih merupakan suatu ’pemulihan’ daripada ’penciptaan’. Lebih jauh, melalui pengamatan akan kaidah sejarah peradaban dunia secara menyeluruh, dapat kita ambil suatu pelajaran bahwa kemunculan-kemunculan filsafat dan sains di dalam setiap peradaban hanya dapat terjadi melalui suatu kesinambungan intelektual (intellectual continuity) dalam rentang masa yang panjang. Konsekuensinya, tradisi pengalaman amaliah (empiris) sebagai dasar pemikiran spekulatif Thales semestinya sudah ada dalam waktu yang cukup lama.

Namun, sejarah mencatat bahwa zaman sebelum Thales adalah the Dark Ages of the Greeks yang dipenuhi dengan berbagai bencana alam dan penjajahan. Hal ini berkebalikan dengan iklim keilmuan yang berkembang dalam peradaban Mesir dan Mesopotamia selama berabad-abad yang membuktikan adanya benang merah tradisi amaliah yang memungkinkan mereka merenungi pencapaian amaliah mereka demi mentajridkan prinsip-prinsip umum sebagai asas disiplin akliah seperti geometri, ilmu hisab, ilmu falak dan pengobatan. Sebaliknya, jika peradaban Yunani memang murni berasal dari bangsa Yunani sendiri, maka pencapaian amaliah apa pada masa kegelapan Yunani, yang dapat direnungi oleh Thales?

Sebagai kesimpulan, peradaban-peradaban dunia, baik itu peradaban Yunani, Islam, Kristen, Barat dan Modern sebenarnya memiliki dua faktor dasar yang mempengaruhi perkembangannya, yaitu faktor internal yang menyebabkan perkembangan internal dan faktor eksternal yang mendasari perkembangan eksternalnya. Dalam peradaban Yunani, worldview Yunani Kuno dibentuk melalui penggabungan unsur-unsur asli Indo-Eropa dan unsur-unsur non-Eropa, yaitu Mesir dan Funesia yang pernah menjajahnya. Hal ini dilanjutkan dengan masa kegelapan yang baru pulih sekitar tahun 700 SM, saat hubungan dengan Mesir dan Babilonia diperbaharui. Bangsa Yunani banyak merantau dan menyerap ciri-ciri kebudayaan Mesir-Babilonia yang sedikit banyak mengakibatkan pemikiran Yunani menjadi lebih rasional.

Sampai pada masa Thales, pemikiran rasional bangsa Yunani telah cukup matang untuk dapat menghargai nilai pencapaian pemikiran rasional dalam peradaban-peradaban kuno yang bertetangga dengannya dan jauh lebih maju dalam pencapaian filsafat dan sains, termasuk juga pencapaian teknologi.* *

Setia, Adi. 2006. ”Melacak Asal-usul Filsafat dan Sains Yunani” dalam Jurnal Islamia Vol. III, No. 1, 2006. Jakarta: Khairul Bayan

http://li3ka.multiply.com/journal/item/16/akar_filsafat_yunani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>