HARI Jumat (20/2) siang itu, sejumlah pedagang di Pasar Legi Citra Niaga, Jombang, meributkan soal kehadiran batu yang kabarnya punya kekuatan menyembuhkan. Mereka sibuk bertanya kian kemari soal kabar temuan batu yang katanya bisa menangis dan bicara itu. Terakhir tentu mereka berharap pula batu itu punya daya linuwih buat mengobati seperti milik tabib cilik M Ponari (9).

Batu ketiga yang hadir di Jombang, setelah milik Ponari dan Dewi Setiawati (12), itu ditemukan seorang ibu rumah tangga di Perumahan Tambakrejo Asri, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, bernama Siti Nurrohmah (34). Harapan banyak orang soal kehadiran batu ketiga dengan dugaan punya daya penyembuh itu jadi kenyataan setelah Nurrohmah buka praktik sekalipun batu memang tak bisa menangis apalagi bicara.

Hingga Minggu (22/2), lokasi praktik Siti Nurrohmah sudah didatangi tak kurang 2.000 pasien. Lokasinya yang berada di dalam perumahan membuat suasana pengobatan terasa agak nyaman dan calon pasien pun tak perlu berdesakan.

Dengan cekatan, Siti Nurrohmah mencelup-selupkan batu temuannya yang berbentuk seperti kulit kerang itu ke dalam wadah-wadah air yang dibawa para pasien pada Minggu siang itu. Sesekali wanita berkacamata dan berkerudung itu membalas salam yang diucap para pasiennya usai beroleh air dengan dugaan mengandung khasiat tadi.

Beberapa jam sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang KH Abdul Kholiq memberikan pencerahan di lokasi pengobatan itu. MUI Jombang yang beberapa hari sebelumnya juga mengunjungi lokasi praktik Ponari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, demi menghindari disorientasi keyakinan calon pasien soal kekuatan daya penyembuh, melakukan hal sama di lokasi praktik Siti Nurrohmah.

Karena itulah, dengan yakin para pasien seperti Ruhiyanto (44) yang datang dari Krian, Sidoarjo, meyakinkan dirinya berulang-ulang soal asal kesembuhan itu. “Insya Allah dengan air ini saya sembuh, terutama penyakit hati saya,” katanya sambil meneguk air dalam kemasan botol air mineral.

Ruhiyanto yang sehari-hari bekerja di industri farmasi mengaku senang dengan kemunculan banyaknya pengobatan alternatif ala Ponari. “Saya doakan semoga makin banyak muncul seperti ini, supaya para dokter sadar,” ujarnya.

Dalam pandangan Ruhiyanto, apa yang dilakukan dengan pengobatan seperti praktik Siti Nurrohmah, Dewi Setiawati yang praktik penyembuhan dilakukan oleh ayahnya bernama Slamet sudah dihentikan Kamis pekan lalu, dan Ponari adalah kegembiraan baginya. Pasalnya, di ketiga praktik pengobatan itu nyaris tidak dikenia biaya apa pun.

Ini berbeda dengan praktik layanan kesehatan medis dengan kebanyakan dokter yang bahkan menetapkan tarif konsultasi dan berobat yang tinggi. Karena itulah, Ruhiyanto yang sehari-hari berkecimpung dengan obat-obatan medis sungguh berharap ada kesadaran baru yang muncul di kalangan dokter.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi pada Minggu itu mengutarakan praktik pengobatan ala Ponari tidak bisa dilepaskan dari fenomena kemiskinan. Sekalipun banyak pula di antara para calon pasien datang menumpang mobil, sebagian besar profil pasien adalah kalangan masyarakat yang selama ini jauh dan diajuhkan dari akses layanan kesehatan.

Dalam pandangan Hasyim, layanan kesehatan formal yang disediakan pemerintah memang belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Karena itulah, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jobang KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah juga hanya geleng-geleng kepala tatkala diberi tahu bahwa ketiga lokasi praktik dengan media penyembuh air dan batu itu tetap ramai.

Mungkin sudah saatnya Jombang punya fasilitas layanan kesehatan di luar arus besar seperti Gesundheit! Institute yang dibangun Hunter Campbell “Patch” Adams dengan mengintegrasikan metode pengobatan dan sistem rumah sakit konvensional dengan berbagai metode pengobatan alternatif. Akan tetapi, itu semua tetap dikomandoi seorang dokter medis seperti Adams, yang terutama seperti kata Ruhiyanto tadi, supaya para dokter tersadar. (Ingki Rinaldi)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/23/14443043/.menanti.gesundheit.di.jombang

Kompas: Senin, 23 Februari 2009