MATERI pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah selama ini masih didominasi oleh materi sejarah nasional, akibatnya pemahaman siswa terhadap sejarah lokal sangat minim dan dinilai masih bersifat Jawasentrisme. “Selama ini yang cenderung diajarakan adalah sejarah yang berorientasi Jawa (Jawasentrisme). Hal itu menjadi penghambat untuk pembelajaran ataupun pengenalan sejarah lokal di sekolah-sekolah,” kata Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Phil. Ichwan Azhari, di Medan, Rabu.

Menurut dia, Sejak Kurikulum Tingkat Satuan Pengajaran (KTSP) diperkenankan, sebenarnya telah memberikan celah untuk memasukkan materi sejarah lokal kedalam mata pelajaran sejarah baik tingkat SMA maupun SMP.

“Nama mata pelajaran tersebut bisa saja diberi nama sejarah lokal atau sejarah Sumatera Utara disesuaikan dengan wilayahnya masing-masing,” kata Ichwan yang juga menjabat sebagai ketua pusat studi sejarah dan ilmu-ilmu sosial (Pussis) Unimed ini.

Namun, kata dia, karena ketiadaan penelitian yang komprehensif terhadap kawasan ini, sekaligus minimnya buku-buku standar ajar, mengakibatkan sulitnya perluasaan materi sejarah lokal di sekolah.

Dengan demikian, dibutuhkan penelitian dan penyusunan buku standar tentang sejarah Sumatera Utara yang holistik dan komprehensif.

“Secara khusus, pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Unimed, mereka telah mendapat matakuliah sejarah Sumut sebagai awal untuk lebih mengenal sejarah Sumatera Utara,” katanya.

Ia mengatakan, demi mendukung adanya penjaraan sejarah lokal tersebut, Unimed juga telah menyiapkan modul pelajaran sejarah lokal yang akan dipakai oleh sekolah atau guru-guru.

“Modul itu telah dibuat sesuai dengan kapasitas kami dari sejarah pendidikan, tinggal menunggu pihak yang mau menerbitkannya saja,” katanya.

Sumber: http://oase.kompas.com/read/xml/2009/03/19/02580624/pelajaran.sejarah.masih.jawasentrisme

Kompas.com Kamis, 19 Maret 2009 | 02:58 WIB