Salah satu masalah besar yang harus ditangani oleh pendidikan adalah hubungan antara pembelajaran umum (general studies) dan kejuruan yang meliputi spesialisasi profesional di bidang keilmuan dan spesialisasi vokasional di bidang kerja teknis. Hal ini masalah besar, karena solusinya menyangkut selektivitas dalam “apa yang harus diajarkan” dan berdampak serius di tingkat nasional dan individual.

Di tingkat nasional, suatu bangsa bisa kehilangan kesempatan emas ketika memilih membelajarkan hal-hal yang salah kepada para warganya, mungkin dengan mempertahankan jenis pengetahuan yang tidak relevan lagi atau keliru memprediksi kecenderungan kebutuhan dan arah kejadian. Kesalahan dan kekeliruan ini berpeluang besar terjadi, mengingat dominasi dromokrasi yang terus mempercepat tempo perubahan. Masa depan menjadi lebih berupa teka-teki ketimbang pada masa-masa sebelumnya, membuat sekolah-sekolah sangat berhati-hati hingga menjadi lembaga yang konservatif.

Di tingkat individual, kebingungan dan ketidakpastian mendasari pilihan yang seringkali harus diputuskan pada usia yang terlalu dini. Sementara media massa tidak henti-hentinya meramalkan perubahan yang lebih drastis berkat invensi teknologis. Akibatnya, sejumlah besar orang telah membuat pilihan yang keliru di jenjang pendidikan menengah dan tingkat universitas. Sedangkan kebanyakan patos dan tragedi manusia berasal dari kekeliruan tersebut berhubung pilihan dan keputusan tidak mungkin diulang guna diperbaiki.

Walaupun sekolah kejuruan dan pembelajaran spesialis menawarkan skills dan pengetahuan yang tepat sebagai respons terhadap kebutuhan teknis sesaat, kebajikan itu tidak lagi selanggeng dahulu. Dahulu, pendidikan formal bisa membekali anak-anak didiknya paling sedikit dengan keterampilan dan kepandaian yang terkirakan stabil sepanjang usia kerja mereka. Dengan pemunculan otomatisasi, sekarang ini, keseluruhan dari proses industrial dan kehidupan ekonomi bisa ditransformasikan begitu rupa, hingga pembekalan yang tadinya tepatguna menjadi usang sebelum separuh jangka hidup dijalani.

Maka ada kecenderungan pendidikan formal menyerahkan tugas penyiapan vokasi spesifik kepada komunitas industrial itu sendiri. Hal ini sungguh wajar, karena bagaimanapun industri itu sendiri yang mengetahui keterampilan teknis khas yang dibutuhkannya dan job-training seperti apa yang terkait dengan itu. Ia seharusnya menyadari pula bahwa hak kepemilikan bisnis punya fungsi sosial di samping fungsi ekonomis.

Banjir pengetahuan baru, di mana keseluruhan bidang baru studi saling menyusul dalam waktu yang relatif singkat, mempersulit para spesialis untuk bisa mengetahui pada waktunya penemuan-penemuan di bidangnya sendiri yang bahkan kian menyempit. Mereka yang berkarya di perbatasan aneka disiplin merasa kewalahan untuk menjelaskan kepada pemerintah, apalagi kepada orang-orang awam, apa yang sudah ditemukan. Buku-buku teks yang memuat ilmu pengetahuan dalam artian produk cepat menjadi usang dan bisa direvisi hanya oleh orang-orang yang dekat dengan penciptanya sendiri dalam disiplin yang bersangkutan.

Pendidikan formal di mana pun pada awalnya bersifat umum, diadakan demi membebaskan pikiran dari generasi yang sedang tumbuh/generasi penerus. Hal ini dapat dicapai hanya dengan memperkenalkan dan membiasakan mereka dengan nilai-nilai terbaik yang pernah dipikirkan dan ditulis pada masa lalu.

Dengan kata lain, pendidikan pertama dan terutama demi pemahaman, baru sesudah itu untuk tujuan-tujuan pragmatis dan vokasional. Artinya, spesialisasi diperlukan baik bagi persiapan memenuhi posisi teknis di masyarakat yang kian kompleks maupun untuk mendorong mundur batas-batas pengetahuan dari berbagai disiplin. Namun, tujuan sekunder ini tidak boleh mengaburkan, apalagi menyisihkan, maksud abadi dari pembelajaran umum, yaitu pembebasan pikiran bagi warga yang bertanggung jawab dan demi kehidupan yang layak.

Dua Kejadian

Pendidikan spesialis, termasuk kejuruan, sangat dipicu oleh dua kejadian. Pertama, kenaikan hasrat untuk menguasai ilmu-ilmu kealaman, khususnya ilmu terapan, yang mengintroduksikan spesialisasi yang semakin lama semakin besar ke dalam sistem persekolahan. Kedua, kehendak untuk menganggap pendidikan sebagai means untuk mengontrol kegiatan bisnis dan industrial, serta sebagai jalan ke arah keberhasilan finansial di Amerika dan Eropa sejak awal abad XIX. Begitu dominan kehendak publik ini hingga sejak itu pendidikan spesialis dan vokasional dianggap wajar mendampingi pendidikan umum secara setara.

Harus diakui, betapa mendesaknya keperluan kita, dewasa ini, akan spesialisasi sebagaimana organisme individual memerlukan oksigen. Eksistensi masyarakat kita memang membutuhkan keberadaan sejumlah besar spesialis, baik berupa teknolog pada aneka bidang kehidupan dan teknisi pada aneka kegiatan produktif maupun yang berdedikasi di bidang riset murni. Namun, pendidikan umum yang mencerahkan tetap sangat diperlukan baik bagi spesialis maupun bagi orang-orang awam, untuk mencegah para spesialis menjadi “prisoner” dari keahliannya sendiri, diasingkan oleh disiplin spesialitasnya, hingga tidak mampu berkomunikasi dengan masyarakat luas.

Kita memerlukan pendidikan umum untuk membuat kehidupan “kaya” dan supportable, serta mampu memecahkan masalah sosial yang serba kompleks. Masalah human yang luas itu bukan bersifat teknis, tetapi umum. Solusinya memerlukan kearifan praktis, bukan technical know-how, karena memprihatinkan tujuan eksistensi manusia, bukan means eksistensi tersebut.

Jika kaum terpelajar kita mau menjadi warga yang efektif dari negara Indonesia yang demokratis, bisa cerdas berbicara dengan sesama warga yang nonspesialis dan sekaligus lancar berdialog dengan sarjana asing, mereka dituntut lebih dari sekadar pakar dalam disiplin mereka sendiri. Kita sekarang memang memerlukan lebih banyak pengetahuan dari yang kita pedulikan. Hasrat mengetahui tidak dengan sendirinya inheren sedalam kebutuhan absolut untuk mengetahui keterkaitan-keterkaitan demi keberadaan kita dan masyarakat.

Unsur Penyelamatan

Orang-orang yang merasa terpanggil untuk mengurus bidang pendidikan dan mengarahkan pembelajaran formal-politikus, birokrat, guru, intelektual, agamawan-sebaiknya merenungi unsur-unsur penyelamatan pendidikan melalui pemahaman yang berbeda dengan tanggapan umum pada abad-abad yang lalu tentang pendidikan umum dan pendidikan spesialis.

Dewasa ini, pendidikan spesialis, termasuk kejuruan dan vokasional, hendaknya tidak membelajarkan pengetahuan/keahlian tertentu sebagai suatu konsentrasi pada sejenis mata pelajaran yang sempit, tidak memberlakukannya secara isolasi dan abstraksi dari konteksnya yang konkret dalam pengalaman. Artinya, jangan sekali-kali ditanamkan dalam imaji anak didik suatu ilusi bahwa “keahlian” yang sedang didalaminya itu merupakan satu-satunya pegangan hidup. Pendidikan spesialisasi, dewasa ini, adalah suatu state of mind yang, paling sedikit, tetap mengingatkan anak didik adanya aneka opsi setelah dapat menguasai suatu “keahlian”. Ia bukan akhir, tetapi awal dari pencarian pegangan yang lain dengan tetap mengingat kaitan-kaitan potensial yang dikandungnya.

Pada setiap bidang pembelajaran, memang terdapat sejumlah besar materi yang harus dicernakan dan ditransform menjadi pengetahuan, sebelum ia dapat dikuasai. Banyak di antaranya bersifat rutin dan sangat teknis, bila terisolasi menjadi tidak berarti atau tidak edukatif bagi orang awam, tetapi penuh dengan kemungkinan dan peluang bagi orang spesialis. Mengingat hal semacam ini semakin berlipat ganda, beban belajar semakin menekan bagi anak didik dengan semakin tinggi jenjang persekolahan.

Beruntung, sekarang sudah diinvensi alat pembelajaran yang canggih, seperti komputer. Alat canggih ini dapat dimanfaatkan untuk membantu memori informasi, penghitungan jumlah dan lain-lain kerja intelektual. Maka diperlukan guru-guru yang excellent untuk menuntun anak didik, selagi masih bersekolah, memaksimalkan kapasitas menangkap prinsip umum, mendeteksi relevansi dan keterkaitan yang belum diketahui dan menciptakan skema-skema baru.

Bila demikian, semua masalah teknis, yang selama ini memisahkan spesialisasi, dapat berangsur-angsur diserahkan penanganannya pada komputer. Semua orang terpelajar lalu punya lebih banyak waktu untuk mempelajari “bahasa” yang bisa dipakai bersama-sama. Jadi, secara esensial pendidikan umum dan spesialisasi adalah komplementer. Semua lembaga pendidikan diharapkan berusaha mengomunikasikan secara benar pengetahuan umum dan spesialistis kepada semua anak didik.

Yang benar adalah bahwa pendidikan umum bukan lagi berupa akumulasi informasi di banyak bidang dan menjejalkannya ke pikiran anak didik. Pendidikan umum, dewasa ini, adalah pencarian prinsip-prinsip yang mendasari aneka disiplin dan korelasi serta sintetisnya. Pendalaman prinsip-prinsip ini dan penerapannya ke dalam praktik yang dapat memberikan pemahaman, pegangan, dan kemungkinan kearifan dalam sikap dan tingkahlaku warga terdidik.

Daoed Joesoef

Penulis adalah alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne
Sumber:
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=9470