Perempuan Berkalung Surban Menyesatkan (?)

//Perempuan Berkalung Surban Menyesatkan (?)

Perempuan Berkalung Surban Menyesatkan (?)

FILM ”Perempuan Berkalung Sorban” besutan Sutradara Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop dinilai banyak mengandung muatan agama yang menyesatkan. Film yang diadopsi dari novel karya Abidah Al Khalieqy itu juga dianggap telah melecehkan Alquran dan Hadits, serta telah menjelek-jelekan pesantren.

Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, “Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar.”

”Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,” cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.

Ia menegaskan, penggunaan kata ”berdasarkan Alquran dan Hadits” dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ”Perempuan Berkalung Sorban” juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.

“Yang ada justru hadits yang sebaliknya,” tegas Kiai Ali Mustafa. ”Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),” ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ”Perempuan Berkalung Surban” telah menyesatkan. “Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan.”

Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ”Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,” tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ”Sebaiknya tidak usah ditonton.”

Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. “Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,” cetus Fitriyani.

Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. “Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,” tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.

”Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren,” kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ”Perempuan Berkalung Sorban”, Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. “Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,” kilahnya.

Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah.
Sumber:

http://www.republika.co.id
http://www.lintasberita.com/Lokal/Hati-Hati_Perempuan_Berkalung_Surban_Menyesatkan
http://www.dakta.com/dakta_ok.php?module=detailberita&id=887

By | 2009-02-04T02:13:47+00:00 February 4th, 2009|Categories: Hiburan|Tags: |23 Comments

About the Author:

Lembaga Kajian, Membangun Wacana Kritis Rakyat

23 Comments

  1. mey mey February 4, 2009 at 6:50 am - Reply

    tapi ko bisa lulus sensor???????

  2. king February 4, 2009 at 7:02 am - Reply

    lembaga yang nyensor film tersebut lg sibuk liat video mesum kali ya….sehingga tidak mikir yg begituan

  3. Banyubiru February 4, 2009 at 5:04 pm - Reply

    Wartawan: Anda sudah pernah melihat film Perempuan Berkalung Sorban sehingga lantas memfatwakan haram film ini?
    Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub: Belum. Saya belum menontonnya dan tidak akan menontonnya. Saya adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, pantaskah saya nonton?

    (Fatwa yang aneh!)

  4. Netral_boys February 5, 2009 at 8:58 am - Reply

    Mohon maaf sebelumnya. Sebenarnya film lepas itu tidak ada kaitannya dengan agama. Kecuali kalau memang film itu mengikutsertakan pendapat seorang ulama. Jadi kita tidaklah terlalu berlebihan menanggapinya. Lebih baik kita bertindak nyata untuk saudara kita di Palestina setidaknya kita do’akan mereka agar selalu dilindungi ALLAH. Janganlah mencari popularitas lewat statemen2 yang tidak perlu. Kalau apa2 film difatwakan kapan mau maju dunia perfilman Indonesia, kecuali kalau memang benar2 Film itu mengandung unsur maksiat barulah ulama bertindak. Lebih baik kita sama2 dalami Alqur’an dan Hadits demi kemaslahatan Umat. Ok itu saja komentar saya. Maaf apabila ada kata2 yang tidak bagus. Wassalam.

  5. luvuzz February 5, 2009 at 8:05 pm - Reply

    meskipun saya belum nonton, kalo realitasnya begitu.. ya memang pantas dperbaiki, dan komentar Netral_boys pada Februari 5th, 2009 saya kurang setuju, karena film adalah alat yang mampu merubah nilai-nilai yang dianut seseorang, dan kepentingan kita di sini adalah menghindarkan khalayak dari kesalahan-kesalahan seperti itu. kok orang ngomong tentang kebaikan dan ilmiah malah dianggap cuman mencari popularitas..? come ooon!!

  6. Vin February 8, 2009 at 5:16 am - Reply

    Klau menyesatkan sih tidak yah, karena memang film Hanung mungkin mempunyai dalih berdasarkan realitas. menurutku memang saat di Pondok Peantren aku melihat banyak kelakuan Gus yang kayak di film itu, suka godain santriwati yang cantik2 temanku bahkan sudah menjadi istri ke3 seorang Gus yang gak kerja hanya mengandalkan santunan wali santri.
    kalau melihat film jangan hanya jelek-jeleknya saja, film juga bisa menjadi kritik sosial. memang saat menontonnya, sebagai perempuan aku sempat misuh2 tapi memang begitulah kondisi kultur Pondok Pesantren pada umumnya, patriarkhis & Feodal.
    Tapi kuakui, film ini terlalu berat judulnya seperti Ayat-ayat cinta. ujung-ujungnya cerita cinta doang!!!

  7. dhana February 10, 2009 at 4:03 pm - Reply

    Saya sudah menonton filmnya
    menurut saya film ini penuh dengan kontradiksi, banyak al – quran, hadist yang di acuhkan
    klo menurut saya penulisnya beraliran islam liberal banget
    mengapa di film itu lebih percaya akan buku ketimbang Al – Quran / hadist yg sangat jelas sumbernya !
    Rosull mengirimkn wasiat untuk umat ISLAM yaitu Al – Quran dan As – sunah (hadist) klo tidak bertentangan dengan keduanya kita sah saja mengikutinya tpi klo di luar dari itu semua !
    Allahu’alam bishawab anda yang terima sendiri akibatnya

  8. Leo Kusuma February 11, 2009 at 2:42 pm - Reply

    Jika dikatakan menyesatkan, saya bisa memaklumi karena untuk membuat suatu filem yang baik membutuhkan biaya yang sangat mahal. Hanung di sini hanya mendasarkan fakta-fakta yg dituliskan pada novel semata. Sayang sekali, nama sutradara yg dikenal populer citranya harus tercoreng karena terlalu berani mengambil resiko. Tidak ada salahnya, tapi tidak ada salahnya pula jika Hanung pun tdk mengabaikan aspek2 dlm pembuatan filem. Hanung semestinya melakukan riset, survei, kajian, pengumpulan fakta dari wawancara, dan pendapat untuk menciptakan tokoh2 maupun membuat alur cerita. Itu tida dilakukan oleh Hanung ketika membuat filem ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Sayang sekali!

    • ave February 11, 2009 at 4:49 pm - Reply

      komentar yang bagus Pak Leo. Terimakasih

  9. Pandu February 12, 2009 at 3:24 pm - Reply

    @Leo Kusuma
    Bukannya memang Fakta yang ada seperti itu…

    justru sasay lebih setuju dengan Vin:

    “…tapi memang begitulah kondisi kultur Pondok Pesantren pada umumnya, patriarkhis & Feodal….”

  10. A. fathi Farhat Khan February 13, 2009 at 2:00 am - Reply

    Assalamu’alaykum…
    kalo menurut hemat saya, kita gak perlu ngebahas hal yang debatable dalam film PBS, cukup kita lihat hal2 yang qot’i (pasti dan jelas) dalam film itu dan kita bandingkan dengan dalil yang qot’i juga. Yaitu (salah satunya)adegan rajam itu, sudah jelas dan tak ada khilafiyah/ perbedaan pendapat bahwa tata cara rajam tidaklah se-sadis itu. rajam harus melalui proses, tabayun/klarifikasi, menghadirkan saksi yang sah, dll.Nah dari situ saja sudah jelas secara qot’i film itu distortif terhadap islam. Hal inilah yang kemudian menjadikan film itu anarkisme psikologis, ahistoris, tidak akademis, dan kontraproduktif, kecuali untuk kepentingan komersial dan propaganda anti islam.Mungkin niat hanung itu baik, yaitu untuk mengkritisi pondok pesantren, tapi akan lebih bijak dia menggandeng ulama yang faham islam, tidak mengkonfrontasikan 2 faham secara kasar dan anarkis seperti itu, sehingga tidak kontraproduktif dan terkesan tidak elegan….

  11. fajar February 13, 2009 at 7:39 am - Reply

    kenapa ya cuma makanan lahir saja yang dilabel haram/halal oleh tuhan kecil(MUI).tapi makanan bathin tidak pernah disentuh.kemana aja pak kiai?

  12. rahmi February 15, 2009 at 1:13 am - Reply

    lembaga yang nyensor film tersebut lg sibuk liat video mesum kali….sehingga tidak mikir yg begituan.

  13. G.Man February 18, 2009 at 2:34 am - Reply

    Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar didunia yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Mayoritas pemimpin negara, pemuka agama dan pelaksana negara adalah umat muslim. Dengan hal itu Seharusnya umat muslim sudah memiliki taraf pendidikan dan ekonomi yang jauh lebih baik dan mampu menilai serta menyikapi hal-hal yang berkembang di dalam kehidupan dengan intelektualnya. Kenyataanya masih sedikit umat yang terbiasa menerima perbedaan. Seringkali yang terlihat adalah sikap reaktif yang terlalu bersemangat pada hal yang seharusnya disikapi dengan dewasa,misalnya dalih membela agama,Nabi dan Allah SWT, padahal agama,Nabi dan Allah SWT. tidak pernah salah dan tidak butuh dibela oleh manusia.Harusnya sikap reaktif dan bersemangat itu disalurkan untuk umat yang masih kekurangan baik masalah ekonomi atau pendidikan agar tidak perlu lagi kita mendengar dan melihat antar umat yang saling pamer kebenaran versinya masing-masing, karena jika umat sudah lebih banyak yang memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi yang cukup maka mereka akan dapat menilai sendiri perkembangan kehidupan dan menyikapinya dengan lebih dewasa.”Hla urusan film saja diributkan dengan semangat 45, giliran masalah PHK,PKL atau masih banyak hal lain yang menimpa umat dan jauh lebih penting untuk dicarikan jalan keluarnya tapi tidak ada yang bersemagat 45″. Ada pepatah memang baik menjadi orang penting, tapi lebih penting lagi adalah menjadi orang baik.

  14. S.P. Utami February 18, 2009 at 7:09 am - Reply

    blum nonton sih..tapi dari sinopsisny.
    yg jelas tuntutan kesetaranan Gender cukup sudah, krn islam ga ada perbedaan gender.Msh banyak kisah emas perempuan islam yg bisa diangkat,bukan sekedar pemberontakan kecil atas nama kebebasan wanita.

  15. lel February 23, 2009 at 8:47 am - Reply

    menurt saya sama skali tdk meyesatkan..hanung sdh bgs skali mmbuat film,pesantren dulu dan skrng mngkn sdh brbeda skali.pd thn itu,dan mngkn sampai skarg,seperti yang dituliskan vin..kultur pasantren patriarkhis dan feodal msh berpikir konsrfatif,cnderung tidak bs menerima pendapat lain..ntah hanung melakukan riset,survei atau tidak saya rasa yang ada di film itu sdh fakta.tapi memang,tdk semua pesantrn begitu.pedoman kita tetap al quran dan hadits adapun bacaan lain itu hanya sebagai tambahan wacana untuk mmperkaya keilmuan kita,apa salah dan dilarang..?

  16. zy February 24, 2009 at 2:37 am - Reply

    kayaknya gak smua gitu dc

  17. The Hidden February 24, 2009 at 4:39 pm - Reply

    Wartawan: Anda sudah pernah melihat film Perempuan Berkalung Sorban sehingga lantas memfatwakan haram film ini?
    Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub: Belum. Saya belum menontonnya dan tidak akan menontonnya. Saya adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, pantaskah saya nonton?

    Setuju sdr Banyubiru, Emang Aneh kok

    Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub : Saya cukup menyuruh 2 asisten, saya tidak perlu menonton, kalau saya nonton bisa marrrah saya.

    Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub Balik bertanya ke pewawancara: Apakah Anda pernah ke jalur Gaza ?.

    Batinku : Jalur GAZA jauh Pak KH Ali Mustafa Yakub, memerlukan dana banyak masak smua mau pergi ke jalur GAZA ya tidak mungkin lah.

    Batinku : Tinggal Putar CD aja kok repot. Emang perlu dana besar apa ?.

    (Fatwa Yang Aneh)

  18. Ali Yusuf Daman Huri February 27, 2009 at 4:36 am - Reply

    Memang sedikt, film yang berkualitas di Indonesia…hiks…hiks..Sepakat, film harus ada riset, biar ga bermasalah…hiks…hiks

  19. Chalistha Charlie March 6, 2009 at 7:02 am - Reply

    Sebenarnya aq pingin… banget liat film Wanita Berkalung Surban ama Best Friend q Intan, gak taunya gak boleh ditonton ya…!!! Padahal film itu bikin aq penasaran lho… dari dulu thn 2008, bln Desember…!!! Lain kali klo mau bwt film alangkah baeknya dirundingkan dulu ama pihak2 yg bersangkutan, ya…
    Pokoknya dari q, tetap semangat aja bwt Kak Hanung Bramantio & mga sukses slalu.
    GOD BLESS U…

  20. pringgo March 11, 2009 at 5:00 am - Reply

    tidak ada mnusia yg smpurna mungkin hanung bramantyo tidak ada niat menghina islam.dia cuma menggambarkan kultur ponpes yg notebenya ralitisnya kya semua itu jadi hargailah asumsi orang bnyak.jgn kita lhat jeleknya saja dan memperpnjang masalah cuma ky gni banyak yg kita pikirkan dalam islam..jadi maknailah perbedaan untuk menyatukan umat muslim..maaf bila ada kesalahan2 kata2 saya

  21. spiderpig March 17, 2009 at 7:31 pm - Reply

    VERY BAD!! novel & filmnya sama aja. ganti aja judulnya, lbh cocok; “AYAT-AYAT GOMBAL” & “PEREMPUAN BERKALUNG CLURIT”.

    kok bisa jadi best seller di indonesia ya?? apa kata dunia??

    Mending juga nonton KUNG-FU PANDA. jauuh lebih religius gitu….

  22. puisi cinta March 25, 2010 at 10:16 pm - Reply

    Wah Keren postnya, thanks2

Leave A Comment