SEBAGAI seorang bartender dan pelatih di jaringan restoran nasional, Rebecca Brown meraih ribuan dollar dalam 1 pekan. Namun, sebagai penari telanjang di klub Pink Monkey, Chicago, Rebecca Brown dengan mudah mendapatkan penghasilan itu hanya dalam semalam.

Persaingan bursa kerja yang makin ketat di tengah krisis telah bermuara pada peningkatan jumlah perempuan di AS yang memilih menjadi penari telanjang di sejumlah klub, tampil di film porno atau berpose bagi majalah khusus kalangan dewasa seperti Hustler. Sejumlah majikan dari industri hiburan mengakui terdapat kenaikan aplikasi dari wanita yang terpikat menjadi penari telanjang karena iming-iming jadwal kerja fleksibel dan janji pendapatan besar dengan cepat.

Juru bicara klub Rick’s Caberet, Allan Prialux, menerangkan, sebanyak 20 hingga 30 wanita mengajukan lamaran kerja di klub yang terletak di New York itu dalam seminggunya. Ini berarti terdapat peningkatan hingga 2 kali lipat dibandingkan setahun lalu.

Sementara jumlah perempuan yang menjadi aktris di perusahaan film porno terkemuka, Vivid Entertainment, telah mencapai sekitar 800 atau meningkat 2 kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. “Industri ini bahkan  menjadi lebih kompetitif dibandingkan apa yang saya perhatikan 25 tahun lalu,” demikian diakui Steven Hirsch, salah ketua Vivid Entertainment Group.

Sebagian besar penari telanjang di AS saat ini menyandang gelar sarjana dan pengalaman kerja dengan keahlian khusus sebelum krisis menerjang AS. “Anda saat ini bisa menyaksikan lebih banyak wanita cantik dengan keahlian lebih banyak lagi,” kata Gus Poulos, General Manager Klub Sin City, New York City. Gus Paulos mengaku mendapatkan 85 respons di dalam satu hari terhadap lowongan yang ditawarkannya secara online melalui Craigslist.

Suka duka penari telanjang

Seperti diakui oleh mereka yang belum pernah terjun ke dunia ini, transisi kerja ke klub malam sebagai penari telanjang memang bukanlah hal mudah. Kesulitan itu bervariasi mulai dari belajar menari dengan sepatu berhak 5 inci hingga berhadapan dengan pelanggan pria yang terpukau dengan apa yang mereka saksikan.

Beberapa penari mengaku semula cemas sebelum berhasil mengatasi masalah ini dengan meneguk alkohol. “Seperti mau menyampaikan pidato di depan banyak orang saat membayangkan setiap orang telanjang dan kamu menjadi salah satu dari mereka,” kata Brown (29).  Sementara penari lain di Pink Monkey, Eva Stone (25), mengaku harus “bermuka tebal” menghadapi pelecehan verbal dari pelanggannya.

Beberapa penari di Pink Monkey mengaku pekerjaan yang mereka geluti di klub telanjang ini bukan merupakan pilihan karier utama. Namun, mereka mengaku telah mempertimbangkan keputusannya secara matang untuk menjejakkan kaki di bisnis itu.

Penari telanjang dinilai sebagai pekerjaan yang menjanjikan lebih banyak keleluasaan dibandingkan duduk di belakang meja dengan desain kantor yang tersekat-sekat. “Mudah, menyenangkan, dan kami saling peduli antara satu dengan lainnya,” kata Brown.

Pelarian sementara

“Dalam kondisi ekonomi seperti ini, tindakan penuh keputusasaan terkadang menjadi pilihan yang dapat lebih diterima,” kata Jonathan Alpert, fisioterapi yang biasa menangani klien dari kalangan industri hiburan kalangan orang dewasa itu.

“Pekerjaan ini hanya bersifat sementara, sebagai cara untuk membayar kuliah atau tagihan lainnya. Sementara beberapa penari telanjang lainnya mengaku menjadikan pekerjaan ini sebagai pengisi waktu luang,” ujar Albert.

Beberapa produser film porno telah menekankan agar para wanita itu tak terburu-buru mengambil keputusan menjadi bintang film porno tanpa memikirkan dampaknya terhadap kehidupan mereka. “Sekali Anda memutuskan menjadi aktris porno maka hal itu akan berdampak terhadap hubungan Anda dengan setiap orang,” kata Steven Hirsch.

Terguncang krisis meskipun menjanjikan

Penari telanjang klub Rick’s Caberet di New York City dan Miami dapat mengantongi antara 100.000 hingga 300.000 dollar AS per tahun meskipun kondisi ekonomi di AS terpuruk. Rick’s Caberet yang mengoperasikan beberapa klub penari telanjang meraup pendapatan 60 juta dollar pada 2008 atau terdapat kenaikan 32 juta dollar AS dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara New Frontier Media yang berbisnis sebagai distributor dan produser film porno meraih pendapatan lebih dari 400 juta dollar AS dari penjualan produknya setahun.

Namun, beberapa analis berpendapat industri ini tetap rawan dari hantaman resesi ekonomi. “Pada masa lalu, banyak orang berpendapat industri ini tahan dari guncangan resesi,” kata Eric Wold, direktur riset firma manajemen keuangan  Merriman Curhan Ford. “Saya justru tidak melihat hal itu, mungkin industri itu dapat memperlambat datangnya resesi,” tambahnya.

“Sudah jarang pelanggan yang boros,” kata Angelina Spencer, Direktur Eksekutif Association of Club Executives, sebuah himpunan industri klub malam penjaja tarian telanjang. “Sudah jarang pelanggan yang mendatangi sebuah klub dan menghabiskan uang mereka hingga 3.000 sampai 4.000 dollar AS per malam,” jelas Angelina Spencer.

“Bisnis hiburan di kalangan orang dewasa secara keseluruhan yang di antaranya mencakup film porno, klub penari telanjang, majalah porno, turun 30 persen,” kata Paul Fishberin, Presiden AVN Media Network, yang dikenal luas sebagai perusahaan publikasi media porno.

Sementara Larry Flint, pemilik kekaisaran Hustler yang menerbitkan majalah, memproduksi serta dan mendistribusikan film untuk kalangan orang dewasa, mengaku tetap meraih keuntungan. Namun, Larry Flint menjelaskan keuntungan usahanya itu tak bergantung semata-mata hanya pada bisnis film.

“Sudah pasti banyak studio kecil yang bangkrut saat ini,” kata Flynt. Menurut Flynt, saat ini sejumlah majalah porno harus bersaing dengan industri penerbitan yang lebih besar sehingga terpaksa mengurangi jumlah halamannya.

Kompas.com Senin, 23 Maret 2009 | 16:02 WIB

JIM
Sumber : AP

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/03/23/16025923%20/semakin.banyak.penari.telanjang.di.as