MATAHARI tinggal sekitar sepenggalah hendak ke peraduannya. Di tengah kicauan suara burung yang merdu, Arif, 22, mahasiswa di Kota Padang asyik membaca sebuah buku. Duduk di bangku sederhana yang terbuat dari bambu, halaman per halaman buku silat karangan Khu Lung, pengarang asal China, itu terus dipelototinya.

Di samping Arif, banyak anak muda seusianya sedang asyik dengan bacaan mereka masing-masing. Beberapa pelajar yang masih mengenakan seragam sekolah menengah atas dengan santai membaca serial Lupus. “Daripada langsung pulang, lebih baik mampir dulu di sini,’ ujar salah seorang dari mereka.

Taman bacaan yang terletak di lantai II Kompleks Pertokoan Padang Teater, Pasar Raya, Padang, Sumatra Barat itu berdampingan dengan toko-toko yang menjual berbagai jenis burung, unggas, dan barang loak.

Kicauan suara burung menambah betah para pengunjung taman bacaan berlama-lama membuka-buka buku bacaannya.

Setiap hari ratusan pelajar, mahasiswa, atau warga lainnya di Kota Padang selalu membanjiri taman bacaan meski hanya sekadar membaca satu atau dua buku silat. “Yang paling disukai, buku silat,’ kata Arif.

Namun, Arif menyayangkan, untuk mencapai lokasi tersebut para penikmat taman bacaan itu perlu perjuangan tersendiri. Mereka harus melewati deretan salon kecantikan.

Biasanya, menurut Arif, pekerja salon yang relatif berusia muda itu sering menggoda atau malah memaksa setiap orang yang lewat untuk mampir. “Salon itu hanya kedok, sebab sering digunakan untuk tempat berbuat mesum,” jelasnya.

Arif dan para pengunjung taman bacaan lainnya mengaku risih jika harus melewati belasan salon karena selalu digoda para pekerja salon. Padahal, niat mereka hanya ingin membaca buku di taman bacaan yang berdampingan dengan salon-salon itu.

Tidak seperti teman seusianya yang lebih senang menghabiskan waktu di warung internet (warnet), Arif malah lebih suka datang ke taman bacaan. “Lebih ekonomis,” ujarnya.

Bagi Arif berjam-jam menyelesaikan satu buku cukup merogoh Rp500 dari koceknya. Jika datang ke warnet, biayanya lebih mahal, Rp5.000 per jam saja..

Iswendi, penjaga Taman Bacaan Danny, mengaku dalam satu hari kiosnya dikunjungi 120 orang. Satu orang biasanya membaca sekitar dua sampai empat buku.

Dihitung-hitung, dalam satu hari dia mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp50 ribu. Untuk menarik pengunjung, setiap pekan Iswendi menambah koleksi baru.

“Sekali seminggu biasanya ditambah tiga sampai empat koleksi baru,” katanya. Pengunjung, menurutnya, lebih menyukai buku-buku komik, terutama buku silat.

Di sekitar lokasi itu, ada 10 taman bacaan yang sehari-hari menampung ratusan pembaca.

Taman-taman bacaan di Padang umumnya tidak hanya menyediakan buku-buku yang bisa dibaca di tempat. Pengelola juga menyewakan buku kepada pengunjung yang hendak membaca buku yang mereka sewa itu di rumah atau di tempat lain. Satu buku disewakan Rp700 dengan jangka waktu penyewaan tiga sampai empat hari. Namun, umumnya, pengunjung lebih asyik memilih membaca di lokasi taman bacaan berada.

Apalagi, bagi mereka yang tergolong pengunjung baru, menyewa buku untuk dibawa pulang cukup repot urusannya. Selain meninggalkan kartu tanda penduduk atau identitas diri lainnya, penyewa harus membayar uang jaminan sebesar harga buku yang mereka sewa.

Iswendi menuturkan, di Kota Padang taman bacaan hanya terpusat di lantai dua pertokoan itu. Sedikit taman bacaan atau kios yang menyediakan aneka buku bacaan tersebar di berbagai sudut kota berpenduduk 800.000 jiwa itu.

Selain kios buku, di Padang juga tersebar ratusan pedagang koran yang sengaja menggelar dagangan mereka di trotoar-trotoar. Biasanya mereka juga menaruh kursi panjang yang bisa diduduki beberapa orang yang berminat baca koran di tempat. Untuk satu kali baca koran, dipatok harga Rp500. (Joni Syahputra/O-2).

Sumber: Media Indonesia, 3 Desember 2005