Dalam bagian yang lalu, kita sebenarnya telah menemukan sebuah jalan baru mengungkapkan metode fenomenologi eksistensialis. Fenomenologi adalah metode filosofis yang berusaha untuk mempenetrasi ke akar-akar yang tak terbantahkan dari pemikiran kita. Metode yang demikian itu mengandaikan sebuah gerak kembali ke “pengalaman kehidupan,” kepada dunia pengalaman asli kita. Memotong koneksi dengan dunia “dunia-yang-kualami” berarti meletakkan individu melampaui makna. Pengalaman asli menunjuk pada manusia sebagai ada-yang-sadar-dalam-dunia, sebagai subyektivitas yang bereksistensi, sebagai “cahaya alami” (lumen naturale). Kita harus mulai dari subyektivitas (Sartre). Apapun yang dimaksudkan dalam penilaian apapun yang kita buat, hal itu senantiasa sudah “diketahui” dalam cahaya eksistensi. Filsuf mengungkapkan “pengetahuan” ini, dia mentransposisi pengalaman kehidupan menjadi konsep-konsep.

Realitas dari yang tak terefleksikan (l’irréfléchi) itu sendiri merupakan tanah subur yang darinya filsafat bertumbuhkembang. Sebuah penilaian filosofis adalah pengeksplisitasian Cogito yang reflektif. Cogito yang pra-refleksif, karenanya, adalah sumber yang darinya segenap kebenaran muncul mengalir. Kemunculan kebenaran ini merupakan sebuah even historis. Setiap sejarah baru dari kebenaran bermula dari setiap subyek baru. Subyek yang bereksistensi adalah yang membiarkan mengalir (Seinlassen) dunia. Kebenaran muncul dalam pengaliran-dunia. Manusia tak dapat melepaskan dirinya sendiri dari kesatuan-nya dengan dunia: sebagai manusia, dia ditentukan oleh relasinya.

Refleksi filosofis mendapatkan pendasarannya dalam kehidupan pra-refleksif. Kehidupan pra-refleksif ini haruslah tidak dianggap baik sebagai sebuah pengalienasian dari diri ataupun sebagai sebuah tahap persiapan yang akan berakhir begitu subyek berubah-arah-kembali kepada dirinya sendiri dalam refleksi. Manusia secara hakiki adalah subyek yang bereksistensi. Subyek yang bereksistensi adalah akses menuju kebenaran. Tak ada akses lain yang mungkin. Jadi adalah masuk akal untuk mendefinisikan eksistensi sebagai sebuah akses kepada kebenaran, sebagai berdiri-dalam-obyektivitas, sebagai “yang-sedang-memandang” realitas. Tentu saja, “yang-sedang-memandang” ini haruslah diinterpretasikan dalam maknanya yang seluas mungkin. “Yang-sedang-memandang” di sini haruslah menunjuk pada kehadiran seorang subyek terhadap realitas apapun. “Yang-sedang-memandang” ini adalah kriteria kebenaran. Upaya-upaya filsuf untuk mengekspresikan secara benar makna terdalam dari realitas, dari kehidupan. Pengamatan dan penilaiannya adalah benar dan obyektif sejauh dia “betul-betul melihat” hal-hal yang dia bicarakan. Apa yang terlihat tak bisa dibantah.

Abstraksi dan Pengabstraksian

Para ahli fenomenologi, yang berusaha untuk memahami eksistensi, menolak untuk memakai apa yang dia sebut “abstraksi.” Dalam hal ini dia tidaklah menolak pentingnya predikat-predikat abstrak. Sebaliknya, dia mencoba merumuskan struktur hakiki dari eksistensi dan dalam perumusan ini, dia menggunakan predikat-predikat abstrak dan umum. Fenomenolog tidak berkeberatan dengan hakekat abstrak dari intelligere, namun dia memberontak terhadap penggunaan konsep-konsep abstrak yang telah kehilangan segenap relasinya yang riil dengan pengalaman hidup kita. Filsafat dapat memalsu pengalaman dan karenanya dapat memalsu realitas. Tugas sejati filsafat adalah untuk mengekspresikan Cogito pra-refleksif tanpa distorsi. Manakala filsafat kehilangan sentuhannya dengan pengalaman kehidupan kita yang asli, kita menyebutnya sebagai “abstraksi-astraksi.”

Sikap Subyek

Begitu kita memahami makna subyektivitas, kita memahami bagaimana bagaimana penampakan dunia kita sebagian bergantung pada Einstellung (Husserl), pada sikap (Merleau-Ponty) atau kerangka berpikir. Dunia “melekat” pada subyek yaitu manusia. Namun, tak ada satu hal yang disebut dunia-dalam-dirinya-sendiri (monde-en-soi), tetapi lebih merupakan sejumlah tak terbatas dunia yang melekat dengan sikap subyek yang jumlahnya tak terbatas pula. Apakah yang bisa menjadi makna dari hal ini?
Di atas segalanya, jelas bahwa ke-tubuh-an kita terdiri atas sebuah Gestalt dari sejumlah sikap yang kepadanya dunia terlekat. Bagaimana bisa ada sebuah dunia yang tampak? Sebagian dari jawaban ini ditemukan dalam fakta bahwa aku memiliki mata. Ada sebuah dunia yang terlihat yang berhubungan dengan mata saya, dan dalam dunia yang berhubungan dengan telinga saya, tak ada sesuatu yang bisa terlihat.

Telinga saya berkorelasi dengan sebuah dunia yang terdengar. Dunia yang halus berlekatan dengan ujung-ujung jariku, dan dunia yang bergerak melekat dengan kakiku. Dunia yang bisa digenggam dan dipegang tak memiliki makna manakala aku melihatnya dalam hubungannya dengan kakiku. Kakiku adalah “Aku-yang-sedang-berjalan” atau “Aku-yang-dapat-berjalan.” Makna dunia sebagian dikonstitusikan oleh ke-tubuh-anku.

Praksis juga memainkan peran dalam menentukan makna dunia. Dunia seorang salesman berbeda dari dunianya seorang ahli kimia atau seorang politisi; dunianya seorang pendidik berbeda dari dunianya seorang arsitek. Adalah tidak mungkin untuk membentuk makna dari banyak dunia dunia tanpa mempertimbangkan perbedaan bentuk-bentuk praksis. Kita haruslah mendefinisikan praksis dalam maknanya yang seluas mungkin yang di dalamnya akan menunjuk pada setiap modus bereksistensi sejauh eksistensi itu dilihat sebagai sebuah ada-“di”-dunia. Preposisi “di” di sini menunjukkan kualitas dinamik dari bereksistensi yang tidak membolehkan kita untuk memandang di-dalam-dunianya manusia dengan cara yang sama yang kita mungkin lihat pada “ada-dalam-kotak-pensil”-nya sebuah pensil. Menjadi manusia berarti menjadi dinamis, aktif. Banyaknya dunia manusia tak akan bisa dipahami tanpa sebuah pemahaman atas praksis. Sebuah menara gereja memiliki makna yang berbeda untuk pemeluk agama daripada yang dimiliki oleh pendusta agama yang membunyikan lonceng gereja dengan menendang-nendang. Pilot pesawat terbang mungkin melihat menara itu sebagai sebuah penghalang untuk naik ke ketinggian, sementara seorang wisatawan mungkin menggunakannya sebagai sebuah tujuan wisata. Bagi semua orang ini, menara ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda-beda.

Ketiga, kita harus memandang cinta sebagai sebuah yang melaluinya beberapa aspek tertentu dari realitas menjadi dapat terlihat. Makna sejati yang-lain-sebagai-yang-lain, yaitu makna yang-lain sebagai subyek hanya dapat terlihat melalui cinta. Sebuah sikap yang asyik dengan diri kita sendiri, dengan kehendak-kehendak dan interes-interes kita, menghalangi akses kita kepada makna sejati dari yang-lain.

Akhirnya, kita haruslah memandang sebuah fase sejarah yang partikular sebagai sebuah Einstellung atau sikap yang di dalamnya sebuah realitas partikular menjadi dapat terlihat. Seorang ahli fisika haruslah mencapai sebuah fase yang lebih tinggi dari perkembangan sebagai seorang ahli fisika, jika dia berusaha untuk memahami perkembangan teori terakhir dalam teori nuklir. Orang-orang Yahudi dalam kisah Perjanjian Lama memahami immoralitas obyektif dari poliandri, namun moralitas itu belumlah mencapai fase progresif dari sejarah, sehingga keimmoralitasannya tidak bisa dimengerti. Kehidupan orang-orang Yahudi pada saat itu belum mencapai monogami.
Banyak para pembaca akan berkeberatan dengan hal ini dan mengingatkan kita bahwa berkaitan dengan orang-orang Yahudi dalam kisah Perjanjian Lama, matrimoni itu adalah bersifat monogami, bahkan meskipun mereka sendiri tidak memahami ini. Walaupun begitu, penekanan semacam itu didasarkan pada sebuah fase yang lebih maju dalam sejarah moralitas.

Mengkaitkan pemikiran ini dengan orang-orang Yahudi kuno berarti sama dengan sebuah pemalsuan sejarah. Sesuatu yang sama terjadi manakala kita bersikeras bahwa sebuah dunia yang bisa dipegang akan eksis bahkan meskipun semua manusia memiliki bentuk seperti bola biliar. Manakala kita membicarakan dunia yang dapat dipegang semacam itu, kita secara diam-diam menyamakan tangan-tangan kecil pada bola-bola biliar. Kata “ada” tidak memiliki makna selain menunjuk pada seorang subyek-dengan-sebuah-sikap-tertentu.