HINGGA saat ini masih ada saja anggapan yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang kaku, monoton, tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, dll. Begitu juga fenomena organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (ormas) berbasis keislaman yang akhir-akhir ini trennya mulai mengarah ke pemahaman sempit keagamaan, ekstrimis, fanatis, dan konservatif. Padahal, menurut saya, Islam sesungguhnya tidaklah menghendaki demikian. Islam merupakan agama yang fleksibel, terbuka, menghormati agama lain, serta tidak ada paksaan untuk masuk di dalamnya.

Permasalahannya, etos kejuangan ormas Islam tersebut –dengan asas dan latar belakang apapun– mau tidak mau akan memberikan citra tentang nilai, makna, dan ajaran-ajaran Islam sendiri. Islam sebagai fenomena sosial keagamaan menjadi besar, agung, terpuji atau terpuruk, dan kecil, terletak dari bagaimana Islam dicitrakan. Citra dan peran Islam dalam organisasi yang berbasis keagamaan dan kemasyarakatan amat penting untuk dicermati. Sehingga, pandangan dan penilaian apapun bisa ditakar secara obyektif-ilmiah.

Dalam kaitan dengan orientasi organisasi-organisasi keislaman ini, acapkali didapatkan citra Islam yang peyoratif sehingga akan dengan gamblang kita saksikan Islam seakan- akan bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mungkin menolak ilmu pengetahuan itu sendiri. Bukan hanya itu, tetapi sekaligus bahwa Islam merupakan agama yang berhadap- hadapan (bermusuhan dengan selain Islam).

Citra Islam semacam itu seringkali dapat dirunut pada kelompok Islamofobia sehingga citra Islam sama persis sebagai west against (melawan Barat) yang tidak pernah mengenal kompromi. Tentang hal ini, misalnya, terjadi ketika beberapa ormas Islam melakukan perlawanan terhadap Amerika, maka citra Islam menjadi sangat tidak enak didengar, Islam nyaris identik dengan terorisme.

Tantangan Ideologi Agama

Memang, semenjak suntuhnya komunisme di Eropa Barat dan terkoyaknya ideologi Marxis di Uni Soviet pada tahun 1990–an, bermunculan spekulasi para pengamat politik tentang musuh baru yang bakal dihadapi Amerika. Kekuatan ideologi apa yang akan menjadi penghalang bagi tegaknya demokrasi liberal di negara-negara Barat menuju pembangunan dunia secara global? Jawabnya ternyata fundamentalisme agama.

Kelompok-kelompok gerakan semacam ini biasanya berada dalam negara agamis (Iran, Srilanka, Afghanistan, Lebanon, Palestina, dll) yang umumnya bersifat revolusioner dan bertujuan untuk mengusir hegemoni asing yang akan berlangsung lama. Sebaliknya di negara-negara sekuler (seperti Amerika dan Eropa) bertujuan untuk mengubah kebijakan-kebijakan pemerintah.

Fundamentalisme agama, di samping memiliki potensi besar terhadap gerakan revolusi, juga memiliki potensi konflik antaragama bahkan intern agama. Hal ini terkait dengan doktrin agama yang mereka pahami dan adanya perbedaan yang tajam dalam memberikan penilaian terhadap suatu masalah yang berkaitan dengan politik, ekonomi maupun sistem nilai itu sendiri. Masing-masing kelompok mengklaim paling benar sendiri. Lihat saja misalnya konflik antar kelompok Hisbullah dan Amal di Libanon (sebelum digempur Israel), Syi’i dan Sunni, Hindu dan Budha di Srilangka, serta Yahudi dan Kristen di Israel.

Memang tidak mudah untuk menunjuk siapa yang memulai membangun image antagonisme ini. Di satu sisi, sebagian kaum Muslimin memandang Barat sebagai koloni yang harus dilawan, dan juga sebaliknya pada sisi yang lain, Barat memandang kaum Muslimin sebagai ancaman yang harus dihegemoni. Akhirnya munculnya terorisme dan isunya pun terus menggelinding hingga saat ini.

Hegemoni Barat terhadap Islam di Timur memang sudah sedemikian kuatnya, sehingga memasuki relung-relung kehidupan: ekonomi, politik, budaya dan agama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Binder (Khalid bin Sayyed, 1995: 5-6), bahwa tidak ada wilayah budaya yang mencemaskan mengenai ancaman penetrasi budaya dan peradaban, dan simbol sentral kegelisahan ini adalah Islam dan kelompok-kelompok Islam dengan otentisitas dan identitasnya.

Hemat saya, ormas-ormas Islam seyogianya tidak lagi memproduksi pemahaman agama yang rumit tapi kurang bisa memecahkan masalah, atau pemahaman sempit yang justru menurunkan nilai agama itu sendiri, serta pemahaman yang kaku sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan zaman. Yang dibutuhkan adalah penalaran yang jenius terhadap boleh dan tidaknya sesuatu berdasarkan kemaslahatan dan kemadlaratan dan sesuai dengan visi sosial merukunkan umat dengan tanpa melanggar nilai-nilai luhur agama.

Sudah saatnya ormas-ormas Islam berpikir dan bergerak berjuang melawan musuh bersama (common enemy). Ia adalah ideologi keagamaan yang konservatif dan berpotensi mengundang banyak musuh, baik internal maupun eksternal, bersifat lokal maupun global. Ada baiknya kita belajar dari sejarah organ-organ Islam terdahulu.

Misalnya, sejarah pernah mencatat, pada masa prakemerdekaan Indonesia, terdapat sebuah perkumpulan yang masuk dalam jajaran organisasi tertua di tanah air, yaitu Sarekat Islam (SI). SI adalah organisasi berasas Islam tetapi berwawasan kerakyatan, berbasis sosial ekonomi, namun juga berasas Pancasila. Bagi SI, asas yang disebut terakhir dan asas Islam merupakan landasan prinsip perjuangan dalam rangka memupuk, memperbaiki, dan mencapai kehidupan bangsa yang sejahtera, adil, dan makmur. Apakah perjuangan kita juga dilandasi semangat tersebut?

Abdullah Yazid, Peneliti FKIP Univ. Islam Malang, alumnus Ponpes Qomaruddin Bungah Gresik dan PUSPeK Averroes Malang