BEBERAPA hari setelah peristiwa 11 September 2001, presiden Amerika George W Bush bersama negara-negara Eropa memaklumatkan perang terhadap terorisme. Sementara Jurgen Habermas dan Jacques Derrida Merasa Gundah dengan maklumat itu. Habermas menilai seruan perang terhadap terorisme salah, baik secara normatif maupun pragmatis.  Derrida menilai harus ada upaya dekonstruktif terhadap istilah terorisme, bagi Derrida terasa latah ketika Amerika memaklumatkan perang terhadap terorisme. Seolah-olah terorisme menjadi konsep yang jelas dan gamblang dan mengandung entitas politis.

Secara normatif perang terhadap torerisme salah karena pelaku kenjahatan teror dianggap sebagai penjahat perang. Sementara secara pragmatis salah karena perang terhadap terorisme adalah perang terhadap jaringan yang tidak jelas. Habermas menolak penggunaan kata perang, dengan tetap pada pendiriannya bahwa manusia harus menggunakan komunikasi untuk mengatasi berbagai permasalahan dunia. Karena dengan demikian akan tercipta masyarakat yang komunikatif dan tercipta relasi antar manusia dengan rasa saling pengertian.

Buku ini adalah hasil dialog Borradori bersama Jurgen Habermas dan Jacques Derrida mengenai masalah teror dan terorisme. Boraddori berupaya untuk berfilsafat bersama Habermas dan Derrida menuju pada analisis filosofis tentang peristiwa 11/9 dan terorisme global. Dengan menyoroti argumentasi filosofis yang dipaparkan Habermas dan Derrida yang diaktualisasikan dari jantung teori filsafatnya.

Borradori yang menyaksikan langsung peristiwa 11/9 meyakini bahwa mereka yang menyaksikan kekerasan 11/9 ini memiliki cerita dan pengalaman khas sendiri. Sebagai pengajar filsafat ia ingin menceritakan bencana global ini sesuai dengan disiplin yang digelutinya yaitu filsafat. Yaitu kisah dialognya mengenai terorisme bersama Habermas dan Derrida yang berfokus pada “filsafat dalam masa teror”.

****

Dengan tujuan apa? Mengapa penghancuran maha dahsyat itu dilakukan? Oleh siapa teror itu dilakukan? Situasi kebingungan ini adalah wacana yang tercipta setelah peristiwa 11 September 2001. Penduduk dunia dibuat bertanya-tanya mengenai tragedi itu. Situasi ketidaktahuan ini membuat orang tidak bisa lagi meramalkan apa selanjutnya yang akan terjadi. Dengan filsafat Borradori menanyakan kiranya jawaban apa yang akan dilontarkan oleh filsafat mengenai tragedi 11/9 ini? Bagaimana reaksi para filosof terhadap peristiwa teror tersebut? Siapa yang bertanggung jawab atas teror tersebut?. Yang semua pertanyaan itu ia dialogkan dengan dua filosof yang menjadi kiblat filsafat Barat saat ini yaitu Jurgen Habermas dan Jacques Derrida.

Dengan sudut pandang yang berbeda Habermas dan Derrida memberikan jawaban atas permasalahan tersebut. Dengan optimisme teori komunikasi dan pembelaan terhadap warisan aufklarung menjadi sudut pandang Habermas. Sementara bagi Derrida mendekonstruksi terhadap konsep terorisme menjadi satu-satunya jalan yang dapat dipertanggung jawabkan, dengan tidak menolak terhadap pencerahan.

Meskipun Habermas dan Derrida menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menanggapi permasalahan teror dan terorisme, namun keduanya memiliki kesetiaan terhadap pencerahan. Sehingga isu toleransi yang menjadi isu pokok pencerahan menjadi pembahasan dalam cahaya dialog dengan Borradori, termasuk juga isu-isu terkini seperti fundamentalisme dan demokrasi menjadi bagian dari pembahasan dalam dialog.

Dalam ranah filsafat Habermas dan Derrida bersepakat bahwa yang bertanggung jawab atas persoalan terorisme adalah bangunan filsafat warisan aufklarung (filsafat pencerahan). Hal ini atas asumsi bahwa sistem peradilan dan politik yang menstrukturkan hukum internasional dan institusi-institusi multilateral berakar pada tradisi warisan filsafat Eropa yaitu pencerahan (hal. 3). Di mana pencerahan mencita-citakan terciptanya masyarakat yang bebas dan dewasa, sementara ideologi yang dibangun terorisme adalah melawan modernisme dan sekularisasi yang dalam tradisi filsafat diasosiasikan dengan konsep pencerahan.

Baik Habermas maupun Derrida berpendapat bahwa terorisme adalah istilah yang sulit dimaknai dan diterangkan. Bagi keduanya terasa latah ketika Barat mengkampanyekan perang terhadap terorisme. Seakan negara-negara Eropa memiliki konsep terorisme yang jelas, gamblang, dan dapat dipertanggung jawabkan. Istilah terorisme masih menjadi fenomena yang kompleks, atas dasar apa misalnya teririsme sianggap bermuatan politis? Apakah teorirsme sama dengan perang? Apakah terorisme tindakan kriminalitas murni? Yang semua itu masih butuh penjelasan dan konsep yang mendasar.

Habermas sendiri merekonstruksi muatan politis terorisme sebagai suatu fungsi realisme tujuan-tujuannya demikian sehingga hanya secara retrospektif terorisme memperoleh muatan politisnya (hal. 11). Maka tidak heran jika Habermas membenci dan merasa gundah ketika negar-negara Eropa mengkampanyekan perang terhadap terorisme, karena ini memberikan legitimasi politis terhadap terorisme dan secara sistematis akan terekspos pada tindakan perlawanan yang berlebihan terhadap musuh yang tidak jelas (teroris). Bagi Habermas dunia tidak boleh menggunakan kekerasan untuk memecahkan suatu masalah, dunia harus menggunakan komunikasi untuk mengatasi masalah tersebut. Karena dengan demikian akan tercipta masyarakat yang komunikatif dan tercipta relasi antar manusia dengan rasa saling pengertian.

Derrida meyakini bahwa harus ada langkah dekonstruktif terhadap konsep tororisme, karena bagi Derrida penggunaan istilah terorisme yang seolah-olah menjadi konsep yang jelas dan gamblang dengan sendirinya di mata publik, justru memiliki kerancuan. Derrida menyangkal bahwa terorisme memiliki arti, agenda, dan muatan politis, yaitu dengan menolak predikat apa-pun yang dianggap sebagai substansi terorisme.

Tesis dari dialog Derrida dengan Borradori bahwa jenis terorisme global dibalik serangan 11/9 bukanlah simtom pertama krisis otoimun, melainkan manifestasinya yang terkini (hal. 32). Derrida terorisme merupakan gejala elemen traumatis yang intrinsik terhadap pengalam modern. Sementara bagi Habermas terorisme merupakan efek trauma modernisasi yang telah menyebar ke seluruh dunia dengan suatu kecepatan patologis.

Sementara itu globalisasi bagi Habermas maupun Derrida memainkan peran besar mengenai vis a vis terorisme. Habermas menilai vis a vis itu akibat dari adanya ketidaksetaraan yang diakibatkan oleh akselerasi modernisasi, sementara Derrida menafsirkan bahwa globalisasi justru menjadi alat demokratisasi terhadap negara-negara eropa timur. Dan proses demokratisasi ini bagi Derrida menjadi hal yang baik bagi bangsa-bangsa lain.

Penulis: Moh. Yasin

Naskah ini dimuat di Kolom Ide Tempo edisi 11 Sept 2005
sumber: http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/29/terorisme-menurut-habermas-dan-derida/#more-412