Konflik Pengarang dan Cerita: STA dan Novel-novelnya

PADA 29 Mei 2008 Akademi Jakarta menyelenggarakan STA Memorial Lecture di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Salah satu pemberi kuliah adalah Ignas Kleden, khusus menyoroti Sutan Takdir Alisjahbana dengan novel-novelnya. Novel Kalah dan Menang tidak dimasukkan ke dalam pembahasan di sini karena penulis belum selesai membacanya ketika menulis esai ini. Lembar Bentara menyiarkan kuliah Ignas tersebut dalam dua penerbitan. Bagian pertama pada terbitan hari ini. Bagian kedua pada terbitan Agustus. Untuk keperluan penerbitan ini, semua anotasi dihilangkan.Tahun 1950 Asrul Sani mengajukan kritik bahwa Sutan Takdir Alisjahbana (seterusnya: STA) adalah seorang guru dengan banyak jasa, tetapi kedudukannya secara artistik tidak kita ketahui. Posisi dan pendirian kesenian STA tidak begitu jelas, tidak sejelas pendiriannya tentang pendidikan dan kebudayaan misalnya.

Asrul memang agak berlebihan karena pendirian STA tentang sastra sangat jelas dalam esai-esainya, misalnya dalam pandangan yang secara kategoris membedakan puisi lama dan puisi baru; tetapi pendirian itu tidak begitu jelas kalau diimplementasikan dalam karya sastra yang dihasilkannya sendiri, khususnya dalam penulisan novel.

Berulang kali dikatakan bahwa sastra tidaklah bisa bermewah-mewah dengan keindahan untuk mencapai kepuasan seseorang dalam mencipta, tetapi harus dilibatkan secara aktif dalam seluruh pembangunan bangsa, meskipun kata pembangunan itu sendiri belum banyak digunakan pada masa STA memaklumkan pendirian-pendiriannya.

Dalam esai yang sama Asrul juga menulis bahwa STA termasuk dalam generasi yang sibuk dengan kesusastraan amtenar. Dikatakan secara sosiologis, STA hanya memerhatikan kesusastraan kelas menengah yang dipenuhi para guru, dokter, wedana, gadis cantik, dan barangkali juga mertua yang kaya dan memaksakan kehendak.

Pernyataan-pernyataan Asrul tersebut seakan meramalkan masa depan penulisan novel STA, tetapi tidak seluruhnya benar kalau kita mengikuti penulisan novel STA semenjak awal. Perlu ditambahkan bahwa apa yang tak seluruhnya benar ini tidak hanya berlaku bagi pernyataan Asrul, tetapi juga pada pernyataan-pernyataan STA sendiri. Kalau sastra dan seni umumnya dianggap harus membuat orang lebih optimistis dan menghadapi kehidupan dengan semangat juang yang tinggi untuk mengatasi berbagai masalah dan situasi kritis, maka keinginan STA tersebut tidak juga terlihat pada beberapa novelnya.

Dalam novel Tak Putus Dirundung Malang, misalnya, kita bertemu dengan dua bersaudara, Mansur dan Laminah, yang sepanjang hidupnya selalu mengalami kesulitan dan nasib sial, dan seakan keduanya tak berdaya mengatasi kesialan tersebut. Kesulitan-kesulitan dilukiskan sebagai kondisi-kondisi obyektif yang tidak bisa diatasi oleh keduanya dengan kemauan dan kekuatan sendiri. Novel ini bertentangan dengan keinginan STA karena cenderung memperlemah semangat, membuat orang mengucurkan air mata, tetapi tidak melecut orang untuk berjuang dengan gembira menghadapi dunia.

Juga, ini bukanlah novel yang melukiskan dunia amtenar, tetapi dunia orang-orang kecil yang terlunta-lunta nasibnya, tanpa kesempatan untuk menaiki tangga mobilitas sosial yang menjadi ciri utama dari kehidupan kelas menengah.

Kecenderungan STA seperti ini terlihat juga dalam novel Dian yang Tak Kunjung Padam. Ini cerita tentang romantisisme si pungguk merindukan bulan. Tema utama adalah masalah yang muncul dari jarak sosial karena perbedaan keturunan, perbedaan kota desa, dan perbedaan kelas ekonomi. Novel ini pun penuh dengan suasana sedih diselang-selingi peristiwa-peristiwa melodramatis.

Novel lainnya berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun berisi cerita yang secara psikologis hampir mustahil karena seorang anak dara ditangkap dan dibawa ke teratak penyamun setelah orangtuanya dirampas hartanya dalam suatu perjalanan. Ayah gadis itu, Haji Sahak yang kaya, mati dalam perampokan itu, dan ibunya yang selamat menjual rumahnya yang besar di Pagar Alam, dan kemudian hidup miskin di sebuah pondok di ujung kampung.

Setelah suatu perampokan yang gagal dan menewaskan beberapa rekannya, kepala penyamun itu, Medasing, dapat diyakinkan oleh si Sayu, gadis itu, untuk pulang ke Pagar Alam dan hidup sebagai orang baik-baik. Ibu Sayu meninggal ketika berjumpa lagi dengan anaknya itu, dan cerita tidak diteruskan sampai tiba-tiba pembaca diberi tahu bahwa Pagar Alam diperintah oleh seorang hartawan yang bijaksana dan istrinya yang cantik jelita dan pemurah. Hartawan tersebut adalah Medasing, bekas kepala penyamun, dan istrinya tentulah Sayu, perempuan yang termasyhur kecantikannya di seluruh Pagar Alam.

Hal yang tak meyakinkan ialah bahwa selama berada dengan para penyamun di teratak mereka di tengah hutan rimba, Sayu, dara yang jelita itu, tak sedikit pun menarik hati para penyamun itu, kecuali informan yang bolak-balik dari desa ke hutan untuk memberi kabar tentang orang kaya yang akan lewat dan dapat dijadikan mangsa perampokan. Pengarang memberi keterangan bahwa para penyamun itu terlalu lama hidup di hutan, hampir tak mengenal perempuan, dan perhatian mereka hanya tertuju kepada pembinaan tenaga fisik untuk menyabung nyawa dalam tiap perampokan. Inilah sebabnya, mereka tidak belajar tertarik kepada seorang wanita selagi berada di rimba.

Dapat dipastikan bahwa ketika menulis novel tersebut, STA belum banyak membaca buku-buku psikologi, khususnya psikologi yang menyangkut kehidupan seksual. Pengarang tampaknya belum mengenal teori-teori Freud, yang menjelaskan bahwa dorongan seksual bukanlah sesuatu yang dipelajari dari masyarakat, tetapi berasal dari suatu tenaga yang disebut ID, yang tumbuh bersama kematangan psikofisik seorang individu. ID tidak bersifat baik atau buruk dan sering bekerja secara tidak disadari oleh manusia.

Masyarakat dan norma-normanya menjadi SUPEREGO, yang harus menjaga agar tenaga tersebut tidak merusak kehidupan EGO. Dengan demikian, mengatakan bahwa para penyamun itu tidak tertarik kepada gadis jelita, Sayu, karena berada jauh dari masyarakat adalah keterangan yang tidak meyakinkan secara psikologis karena ID sebagai energi selalu aktif apakah seorang berada di desa, di kota, di hutan rimba, dan bahkan kalau seorang berada seorang diri di kamar atau di tepi pantai.

Kalau novel ini bermaksud mendidik pembaca agar menghormati kaum perempuan, maka inilah contoh soal tentang pendidikan yang memberikan ilusi karena tidak berdasarkan pada kenyataan dan hanya berdasarkan angan-angan pengarang yang tidak bisa dibenarkan dalam kehidupan manusia.

Ketiga novel tersebut rupanya ditulis ketika paham STA tentang sastra yang mendidik belum matang dalam pemikirannya. Ketiga novel itu adalah sanggahan dalam praktik literer terhadap apa yang dikehendaki oleh STA tentang peran sastra dan seni dalam mendidik masyarakat, dan menyanggah pula kritik Asrul Sani bahwa novel-novel STA adalah sastra amtenar, sastra kelas menengah, atau sastra borjuis.

Sifat amtenar dalam novel STA baru muncul dalam novel Layar Terkembang karena lingkungan tempat cerita itu bermain adalah lingkungan amtenar. Tokoh utama cerita itu adalah sepasang gadis bersaudara bernama Tuti dan Maria, anak bekas wedana Banten, Raden Wiraatmaja, yang melewatkan masa pensiunnya di Jakarta. Maria adalah siswa HBS dan Tuti sudah bekerja dan aktif sebagai orang pergerakan yang turut memimpin organisasi perempuan bernama Puteri Sedar. Lingkungan pergaulan mereka adalah siswa dan guru-guru Belanda di satu pihak dan orang-orang pergerakan di lain pihak.

Maria jatuh cinta kepada Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran di Jakarta, yang sedang menyiapkan ujian doktoralnya. Ayah Yusuf adalah demang Munaf di Martapura di Sumatera Selatan. Maria, gadis santai yang agak manja, suka akan kembang dan tanam-tanaman, membaca buku-buku tentang cinta, dan gemar akan baju-baju bagus yang dipilih dengan selera tinggi. Tuti, kakaknya, tampil sebagai perempuan intelektual yang sibuk dengan buku-bukunya, tegas dalam sikap-sikapnya, dan terlibat aktif dalam pergerakan untuk memajukan kaum perempuan.

Yusuf memang jatuh cinta kepada Maria dan keduanya saling merindukan setiap saat. Meski demikian, dia sangat menghormati dan mengagumi pikiran dan pendirian Tuti, serta terkesan oleh sikapnya yang pasti dan penuh komitmen kepada cita-cita kaum perempuan.

Munculnya Yusuf dalam kehidupan dua gadis bersaudara itu menimbulkan efek berbeda. Maria merasa menemukan lelaki idamannya, dan tanpa ragu bersedia menyerahkan diri sebagai istrinya, apabila pelajaran keduanya telah selesai. Tuti dalam pada itu tetap dengan kesibukan dan cita-citanya, tetapi pada waktu-waktu tertentu merasa terganggu juga oleh kemesraan yang diperlihatkan Maria dan Yusuf.

Betapa pun pengarang terlihat sangat mengunggulkan Tuti, pada akhir cerita ternyata Tuti dapat ditaklukkan oleh tuntutan cinta ketika Maria yang mengidap penyakit TBC yang tak dapat disembuhkan menyampaikan amanat kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya jangan mencari peruntungan pada orang lain, tetapi saling menerima sebagai pasangan yang saling mencintai.

Akhir cerita ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Kepada pembaca tidak dijelaskan bagaimana Tuti yang keras hati dapat dengan mudahnya menerima permintaan adiknya untuk menjadi calon istri Yusuf dan apakah Tuti yakin kalau setelah menikah nanti, Yusuf masih menghormati cita-cita dan perjuangannya untuk kaum perempuan.

Hal ini perlu dipertanyakan karena masalah inilah yang menyebabkan Tuti telah menolak cinta dua laki-laki sebelumnya. Demikian pula Yusuf, apakah dia menerima Tuti karena menghormati permintaan Maria atau semata-mata karena merasa kasihan kepada Tuti? Ataukah sudah semenjak awal hatinya terbelah dua antara Maria dan Tuti meskipun hal ini tak terlihat dalam teks-teks novel ini?

Akhir cerita memang mengharukan, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tak memperoleh jawabannya. Akibatnya, ketika layar itu terkembang, tidak jelas pula apakah yang terkembang adalah cinta antara laki-laki dan perempuan ataukah terkembang cita-cita tentang meningkatnya martabat kaum perempuan yang dengan gigih diperjuangkan Tuti sebelumnya.

Dari sastra amtenar dalam Layar Terkembang STA meningkat menulis sastra yang benar-benar borjuis dalam Grotta Azzurra. Ini novel tentang orang-orang yang tidak pernah lagi mengalami persoalan uang dan masalah basic needs, tetapi yang tiap hari berdiskusi tentang berbagai topik politik, seni, filsafat, dan pandangan hidup di kota-kota di Eropa. Diskusi berlangsung dalam perjalanan wisata, atau di rumah seorang kenalan dengan makanan berlimpah disertai berbagai jenis anggur, di restoran hotel-hotel berbintang, atau di sebuah galeri tempat para pelukis memamerkan lukisan-lukisan.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Ahmad, seorang pelarian politik anggota Partai Sosialis Indonesia, yang terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintahan Soekarno, dan kemudian bertahan hidup di kota Roma dengan bekerja pada sebuah pabrik mobil. Dia berkenalan dengan Mercelin Janet, seorang perempuan 35 tahunan, berasal dari Paris, anak seorang profesor kesenian antik dan Abad Pertengahan. Keduanya berkenalan dengan dua orang lainnya, yaitu Conrad Weber, profesor ilmu politik dari Frankfurt, dan Evelin Turner, seorang perempuan Amerika, yang bekerja untuk tentara Amerika pada dinas hubungan tentara dan masyarakat di Frankfurt.

Ahmad dan Janet bertemu secara kebetulan ketika mereka naik kapal dari Sorrento ke Pulau Capri untuk melewatkan liburan di sana. Perkenalan mereka menjadi lebih dekat ketika keduanya mengunjungi sebuah goa yang terkenal karena airnya yang berwarna seperti zamrud hijau biru. Nama novel itu diambil dari goa itu yang dinamakan Grotta Azzurra (goa biru). Kisah cinta antara Ahmad dan Janet memang berkembang, bersama dengan hubungan yang semakin mesra antara Conrad dan Evelin.

Hal yang mengganggu ialah bahwa entah di Pulau Capri, di Napoli dan Firenza, atau di Frankfurt dan Lindau, kisah mereka bagaikan hanya sampiran untuk hal yang lain sama sekali, yaitu diskusi-diskusi yang panjang dan berlarut-larut tentang sejarah para kaisar Roma, tentang kesenian Romawi kuno, kemudian tentang partai komunis Italia dan peranan politiknya, tentang seni renaisans dan seni modern, tentang seks bebas dan perkawinan, tentang emansipasi perempuan dan agama, atau tentang perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Abad Pertengahan dan di zaman modern.

Memang mengagumkan melihat bagaimana pengarang menyiapkan diri dan bahan-bahannya tentang berbagai soal itu. Akan tetapi, soal-soal itu ditonjolkan sedemikian rupa sehingga seakan-akan menjadi kuliah privat yang diberikan oleh Janet kepada Ahmad atau Evelin kepada Janet atau Ahmad kepada Conrad. Lingkungan sekitarnya menjadi tidak penting. Akibatnya, kalau kita membuang semua tempat itu dari teks, maka diskusi-diskusi itu tetap berjalan dengan baik.

Sebagai contoh saja, di Pulau Capri hanya diceritakan tentang hotel tempat Ahmad dan Janet menginap, tentang pemandangan-pemandangan indah yang membangkitkan lagi hasrat melukis Janet yang telah mati bertahun-tahun, dan kemudian tentang diskusi-diskusi keduanya. Tak sepatah kata pun diceritakan kehidupan penduduk di Italia selatan yang terkenal miskin, dan bagaimana penduduk di sana berjuang untuk mempertahankan hidup mereka.

Demikian pun Ahmad diceritakan sudah mempunyai istri dan tiga orang anak, dan keluarganya inilah yang menjadi ikatan yang membuatnya selalu ragu untuk mengikat dirinya dengan Janet dalam hidup bersama di kota Paris, sebagaimana diinginkan oleh Janet, tetapi tidak kesampaian. Sayangnya, kita tak diberi informasi apa pun tentang keluarganya ini di Indonesia: apakah istrinya bekerja atau tidak, berapa usia anak-anaknya, apakah mereka anak laki atau perempuan, dan apakah mereka masih mengingat nama dan wajah ayah mereka. Bahkan nama istrinya pun tidak kita ketahui.

Ini bukanlah suatu strategi dalam bercerita, tetapi lebih merupakan kealpaan pengarang yang hanya sibuk dengan ide-idenya dan menjadikan semua konteks tidak sebagai setting cerita, tetapi hanya sebagai back drop yang boleh dibongkar pasang setiap waktu tanpa mengganggu jalannya diskusi.

Memang beberapa kritikus menamakan novel ini novel ide, tetapi persoalannya apakah ide itu digarap di sebuah ruang kuliah, dalam seminar akademis, atau dalam sebuah cerita. Di sinilah kesulitannya. Hal ini tidak diperhatikan dan bahkan tidak dipedulikan oleh pengarang. Akibatnya, buku ini akan berguna dan mengasyikkan kalau dibaca sebagai sebuah buku pengantar pelajaran tentang berbagai soal, tetapi susah dibaca sebagai sebuah novel yang menarik.

* Ignas Kleden, Sosiolog
Sumber: Kompas, Jumat, 11 Juli 2008

One thought on “Konflik Pengarang dan Cerita: STA dan Novel-novelnya”

  1. Sebagai ilmu, tambah tahu saja.
    Untuk kepuasan, tempe bacem kumakan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>