Di Balik Sertifikasi AWS: Bukan Sekadar Lencana

Di dinding ruang resepsionis korporasi, sertifikasi sering kali berakhir sebagai benda mati. Terbingkai rapi dalam kaca, ia menjadi simbol bahwa serangkaian prosedur telah dipenuhi, audit telah dilalui, dan kotak-kotak checklist telah dicentang. Bagi mata awam, sertifikat seolah menjadi garis finis: sebuah tanda bahwa pekerjaan telah selesai dan perusahaan dapat kembali berkonsentrasi pada urusan bisnis.

Namun, pengelolaan air tidak pernah sesederhana itu.

Bagi mereka yang bekerja di lapangan, Alliance for Water Stewardship (AWS) justru lebih tepat dipahami sebagai titik awal dari sebuah komitmen yang jauh lebih panjang. Air tidak mengenal pagar beton pabrik, batas kepemilikan tanah, ataupun batas administratif sebuah wilayah. Ia mengalir, meresap, menguap, kembali turun sebagai hujan, masuk ke sungai, mengisi tanah, dan pada akhirnya digunakan oleh banyak pihak yang tidak selalu memiliki hubungan langsung satu sama lain.

Karena itu, persoalan air tidak pernah benar-benar menjadi persoalan satu pihak. Apa yang terjadi di dalam kawasan industri dapat memengaruhi masyarakat di luar pagar, sebagaimana kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat di sekitar kawasan juga dapat memengaruhi keberlangsungan industri.

Lebih dari Sekadar Kepatuhan

Ketika sebuah perusahaan memutuskan mengikuti standar AWS, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya kepatuhan terhadap sebuah standar internasional. Ada sesuatu yang jauh lebih abstrak, tetapi sangat menentukan keberlangsungan operasi: social license to operate.

Lisensi sosial bukanlah izin yang diterbitkan pemerintah dan tidak memiliki stempel resmi. Ia tumbuh dari penerimaan masyarakat, dari rasa percaya warga terhadap keberadaan perusahaan, dan dari keyakinan bahwa aktivitas industri tidak mengabaikan lingkungan tempat mereka hidup.

Karena itu, kepatuhan terhadap regulasi hanyalah batas paling dasar. Regulasi memastikan perusahaan tidak melanggar hukum, sedangkan water stewardship mendorong perusahaan untuk bertanya lebih jauh: apa yang seharusnya dilakukan ketika hukum belum tentu mampu menjawab seluruh persoalan di lapangan?

Bayangkan sebuah fasilitas industri dengan teknologi pengolahan limbah yang sangat baik. Secara teknis, air buangan telah memenuhi standar. Secara administratif, seluruh izin tersedia dan tidak ada persoalan yang dengan mudah dapat disebut sebagai pelanggaran.

Namun, beberapa meter dari pagar perusahaan, masyarakat masih menghadapi drainase buruk, sanitasi yang tidak layak, sumur yang bermasalah, atau banjir yang berulang setiap musim hujan.

Secara hukum, perusahaan mungkin dapat mengatakan bahwa persoalan tersebut berada di luar kewenangannya. Tetapi secara sosial, persoalannya tidak sesederhana itu.

Ketimpangan seperti ini dapat menjadi sumber ketidakpercayaan. Masyarakat akan melihat adanya jarak antara kemajuan industri dan kondisi lingkungan yang mereka alami sehari-hari. Pada titik tertentu, persoalan lingkungan dapat berubah menjadi persoalan hubungan sosial.

Karena itu, AWS mendorong perusahaan untuk melihat wilayah tangkapan air secara lebih luas. Industri tidak hanya dilihat sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sebuah sistem yang saling terhubung.

Ketika Tiga Dunia Harus Bertemu

Kompleksitas pengelolaan air semakin terlihat ketika melihat para pihak yang terlibat di dalamnya. Setidaknya terdapat tiga dunia yang memiliki bahasa dan cara berpikir berbeda: industri, pemerintah, dan masyarakat.

Industri berbicara tentang target, efisiensi, risiko, biaya, KPI, dan keberlanjutan bisnis. Air diterjemahkan menjadi angka: berapa banyak yang digunakan, berapa biaya pengolahannya, bagaimana efisiensi ditingkatkan, dan apa risiko terhadap keberlangsungan produksi.

Cara berpikir tersebut bukan sesuatu yang salah. Industri memang membutuhkan ukuran yang jelas agar sebuah program dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi.

Persoalannya muncul ketika semua persoalan dianggap dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis.

Membangun fasilitas sanitasi, misalnya, tidak otomatis menyelesaikan persoalan sanitasi jika tidak ada pihak yang memastikan fasilitas tersebut dirawat dan digunakan dengan baik. Demikian pula pembangunan drainase tidak otomatis menghilangkan banjir apabila persoalan sedimentasi, sampah, tata kelola, dan perilaku masyarakat tidak ikut diperhatikan.

Pemerintah memiliki bahasa yang berbeda. Ada pasal, kewenangan, peraturan, zonasi, kebijakan, dan program pembangunan. Persoalan air bahkan dapat bersinggungan dengan banyak institusi sekaligus: lingkungan, pekerjaan umum, kesehatan, hingga pemerintahan wilayah. Akibatnya, persoalan yang sebenarnya saling berkaitan dapat berjalan dalam jalur yang terpisah.

Sementara masyarakat memiliki bahasa yang jauh lebih sederhana, tetapi sekaligus paling dekat dengan realitas. Mereka berbicara tentang sumur yang mulai sulit digunakan, bau selokan ketika siang, air yang masuk ke rumah ketika hujan deras, atau rasa cemas ketika langit mulai gelap.

Bahasa masyarakat adalah bahasa pengalaman.

Air bagi mereka bukan sekadar komoditas atau angka dalam laporan. Air adalah sesuatu yang digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, bertani, dan menjaga kehidupan keluarga.

Ketiga dunia tersebut sama-sama memiliki kepentingan terhadap air, tetapi tidak selalu memiliki cara yang sama dalam memahami persoalannya. Di sinilah persoalan pengelolaan air menjadi lebih dari sekadar persoalan teknis.

Averroes yang Menerjemahkan

Dalam situasi tersebut, posisi Averroes menempati posisi yang khas. Ia bukan pengambil keputusan perusahaan, bukan regulator, dan bukan pula representasi masyarakat. Namun, ia berada di antara ketiganya.

Posisi tersebut berfungsi sebagai jembatan sekaligus penerjemah.

Keluhan warga tentang banjir, misalnya, tidak cukup berhenti sebagai cerita bahwa air masuk sampai semata kaki. Informasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi gambaran tentang lokasi titik rawan, penyebab genangan, potensi gangguan terhadap operasional, kebutuhan normalisasi, dan bentuk intervensi yang memungkinkan.

Sebaliknya, bahasa industri juga perlu diterjemahkan kembali kepada masyarakat. Istilah seperti konservasi akuifer mungkin terdengar terlalu teknis, tetapi ketika diterjemahkan menjadi upaya menjaga agar sumur tetap tersedia dan tidak semakin sulit digunakan oleh generasi berikutnya, persoalan yang semula abstrak menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Begitu pula dengan pemerintah. Perlu memahami bagaimana kepentingan perusahaan dapat ditempatkan dalam kerangka kebijakan dan program yang sudah dimiliki pemerintah, sehingga inisiatif perusahaan tidak berjalan sendiri, tumpang tindih, atau justru menimbulkan persoalan baru.

Karena itu, perannya bukan sekadar menghubungkan satu pihak dengan pihak lain. Yang lebih penting adalah memastikan agar masing-masing pihak dapat memahami persoalan dari sudut pandang pihak lainnya.

Pekerjaan ini membutuhkan empati ganda. Averroes harus memahami tekanan bisnis perusahaan, tetapi tidak kehilangan kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Harus mampu bekerja dengan birokrasi tanpa terjebak dalam kerumitannya, sekaligus mampu membawa suara masyarakat ke ruang pengambilan keputusan tanpa menghilangkan substansinya.

Pada akhirnya, ia tidak berada di sebuah ruang yang tidak selalu nyaman: di tengah kepentingan yang berbeda, ekspektasi yang tidak selalu sama, dan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.

Tetapi justru di situlah nilai strategisnya.

Sertifikasi AWS mungkin dapat menjadi bukti bahwa sebuah standar telah dicapai. Namun, memastikan standar tersebut benar-benar hidup dalam hubungan antara perusahaan, pemerintah, lingkungan, dan masyarakat membutuhkan kerja yang jauh lebih panjang.

Averroes berada di antara proses tersebut—membaca persoalan, menerjemahkan kepentingan, mempertemukan pihak-pihak, dan membantu memastikan bahwa komitmen terhadap air tidak berhenti sebagai dokumen.

Sebab pada akhirnya, sertifikasi boleh dipajang di dalam gedung. Tetapi keberhasilan water stewardship justru diuji di luar pagar.

Di Balik Sertifikasi AWS: Bukan Sekadar Lencana Konsultan External Relation AWS PT HM Sampoerna Tbk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top