Bobroknya Sistem Standardisasi UN

gambar

Ada 33 sekolah yang semua siswanya dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN). Fenomena ini sempat menggemparkan berbagai kalangan. Banyak pihak saling melempar prasangka. Ada yang menyebut itu terjadi lantaran ketidakjujuran siswa dalam mengikuti UN. Ada juga mengenai beredarnya pesan singkat (SMS) yang memberikan kunci jawaban salah. Selanjutnya

Politikus Perlu Belajar dari Pak Natsir

Kondisi politik Indonesia saat ini makin panas. Perang partai politik (parpol) pra dan pascapemilu legislatif April lalu masih terasa hingga saat ini. Gesekan-gesekan antarparpol makin keras. Bahkan tidak jarang ditemukan politikus yang membawa masalah partai atau golongan ke dalam masalah personal seperti saling membenci dan menjatuhkan satu sama lain. Selanjutnya

Pesona Wisata dan Budaya Malinau

Selama ini dunia intenasional hanya mengenal Bali sebagai salah satu tujuan utama pariwisata mereka. Padahal Indonesia tidak hanya Bali, masih banyak tempat-tempat lain yang memilki keindahan alam yang tak kalah cantiknya dengan Bali. Selanjutnya

Nafsu Politik Orang Indonesia Lampau Ambang Batas Rasionalitas

Realitas kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini ditandai besarnya arus nafsu berpolitik yang merasuki semua elemen, hingga terkesan melampaui ambang batas rasionalitas. Selanjutnya

Persekolahan dan Pendidikan

Ketiadaan visi pendidikan membuat pemerintah tanpa disadari mengidentikkan “persekolahan” (schooling) dengan “pendidikan” (education) dalam kebijakannya. Kebijakan ini semakin menyesatkan rakyat, karena di samping keliru identifikasi, bagian-bagian konstitutifnya, juga bolak-balik diubah secara fundamental, hingga membingungkan para pengajar, yaitu fungsionaris di lapangan yang langsung berurusan dengan anak didik. Selanjutnya

Siswa Miskin Tak Perlu Mimpi RSBI

Di negara ini, siswa tak boleh atau ”diharamkan” miskin. Kalau miskin, nyaris mustahil mereka bisa memenuhi keinginan atau cita-cita besarnya. Jika pun ada di antara siswa miskin mampu memenuhi ambisinya atau berhasil menuai prestasi gemilang, itu terbilang kelangkaan atau bagian dari cerita ”mencari jarum” di tengah lautan.

Memang, ada saja cerita soal anak miskin berprestasi atau masuk sekolah atau perguruan tinggi ternama. Tapi, mereka bisa sampai ke sana tidaklah dengan gratis. Mereka bisa berprestasi cemerlang didukung oleh semangat atau kegigihan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa dirinya mampu mengisi ranah sejarah sebagai ”orang”. Selanjutnya

Belajar Fenomenologi, Menunjukkan dan Membuktikan (13)

Edmun Husserl

Edmun Husserl

Klaim bahwa ada-sebagai-manusia haruslah didefinisikan sebagai eksistensi, sebagai ada-yang-sadar-dalam-dunia, tidaklah dapat dibuktikan dengan pengertian logis secara ketat. Mendefiniskan manusia dengan jalan ini menjadi sah hanya di atas dasar sebuah pandangan yang tak bisa direduksikan menjadi sebuah pandangan yang lebih umum. Seorang filsuf hanya dapat “menunjuk” pada definisi. Ini tentu saja merupakan sesuatu yang amat disayangkan, karena memang tak ada jalan keluar dari itu. Kita semua harus memulai dengan menunjuk kepada sebuah realitas yang dimaksud; tanpa itu kita tak akan pernah tahu tentang apakah yang kita bicarakan. Membicarakan berarti telah “menghadirkan sebuah realitas ke pandangan dan ke cahaya”. Jika pembicaraan gagal melakukan hal ini, kita hanya akan memiliki bunyi yang hampa. Filsuf berbicara dan pembicaraan itu menghadapkan kepada pandangan apa yang telah terlihat. Husserl mengatakan “adalah tidak mungkin untuk mencapai kesepakatan dengan seorang individu yang entah tak bisa ataupun tak mau melihat.” Selanjutnya

Selanjutnya →