Budaya Kopi

Author: Agusti Anwar.

Saya peminum kopi. Bagaimana dengan anda? Mungkin bukan soal kopi bermerek atau yang demikian eksotik; kalau saya, sekedar seharum wanginya kopi sejenis merk Kapal Api pun sudah cukup.

Cuma, kalau anda ingin tahu cerita penggemar kopi yang sesungguhnya, anda perlu menonton film “Bucket List“-nya Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Ini bukan untuk promosi film yang tidak ikut heboh dalam nominasi Oscar bulan Februari 2008 ini. Akan tetapi, tidak lain karena di dalam film tersebut disebut-sebut tentang kopi luwak (civet coffee), yang dilafalkan oleh lidah baratnya milyuner Edward Cole (Nicholson) sebagai “coffee luwek”.

Ada rasa senang juga menyimak dialog cerita tentang kopi khas, “the rarest beverage in the world“, yang berasal dari wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) itu. Terlepas dari bagaimana sebagian orang menilai asal muasal kopi luwak, yang terang-terang menempuh proses alam yang unik, Indonesia tetap diuntungkan oleh film itu, sekalipun secara tidak langsung.

Bagi penggemar kopi sejati, bagaimana proses musang bulan menelan biji kopi terbaik dan akhirnya mengeluarkannya kembali sebagai bagian dari kotoran yang disisih dan diolah, bukanlah menjadi faktor penjengah. Seperti penggemar durian yang tahu persis bahwa durian yang telah melewati perut gajah adalah yang paling enak, penggemar kopi pun maklum bahwa kopi luwak istimewa justeru karena kekompleksan prosesnya. Itu pula sebabnya mengapa ia menjadi sangat mahal ketika sampai ke tangan konsumen di Eropa atau Amerika.

Paul Watson, wartawan Los Angeles Times yang bertugas di Jakarta, sempat menulis sebuah artikel panjang tentang kopi luwak di halaman pertama harian AS yang sangat bergengsi itu: $600-a-Pound Coffee. Ini memang kopi yang di Lampung pun sulit diperoleh; bayangkan lagi setelah diekspor ke luar negeri. Bayangkan harga hampir Rp 6 juta hanya untuk satu pon atau 0,45 kg kopi luwak. Menurut Watson—yang kalau menulis tentang politik Indonesia masih diwarnai stigma, tetapi sangat mengalir ketika mengulas soal kopi luwak—secangkir hidangan kopi ini dilabel harga $30 di hotel bintang lima di Hongkong. Bayangkan mahalnya harga menyeruput secangkir kopi.

Karena alasan higienis asal muasalnya kopi luwak, sebagian peminum kopi bisa saja hilang suka terhadap kewangian dan pesonanya. Kendati demikian, namanya tetap absah tertera dalam jajaran kopi terlangka yang digemari. Marsino Marconne, pakar kopi dari Universitas Guelph di Ontario, bahkan dengan susah payah mendapatkan seberat 4,5 kg kopi luwak yang disimpannya sebagai acuan standar emas (gold standard) dalam menguji keaslian kopi asal Lampung ini. Dalam mengukur budaya kopi, barangkali dedikasi Marconne dapat cukup bernilai. Ia mengklaim bahwa kebanyakan apa yang dipasarkan sebagai kopi luwak secara internasional ternyata tidak asli.

Anda tahu, konsumen kopi terbesar dunia adalah AS, yang menyerap 1/3 dari seluruh suplai kopi yang beredar di pasar dunia. Jadi, jangan heran kalau Starbuck yang malang melintang merajai dan menentukan trend penyuguhan kopi di dunia, adalah berbasis AS. Memang ada nama-nama lain, tetapi siapa yang mampu menyaingi jaringannya secara global? Saking kuatnya, sampai-sampai Starbuck bertekad membangun outlet-nya dalam jarak yang sangat berdekatan antara satu dengan lainnya. Ini pula yang disebut stand-up comedian Lewis Black sebagai salah satu ciri betapa sudah hilang akalnya bangsa Amerika.

Kalau anda simak website serba-serbi kopi terlengkap di dunia, talkaboutcoffee.com, anda akan diberitahu bahwa setelah AS, adalah Jerman negara penyeruput kopi terbesar kedua. Sedangkan Finlandia, negara yang relatif kecil dengan populasi hanya 5 juta orang lebih, memiliki statistik teratas dalam hal rasio konsumsi kopi per kepala.

Jangan heran, bahwa ternyata untuk Asia adalah Indonesia yang memiliki budaya kopi terkuat. Kalau Jerman dominan dalam hal kopi dibanding Inggeris yang pecinta teh; Indonesia mendominasi pasar kopi Asia, dibandingkan RRC, Jepang dan Korea yang budaya minum tehnya sudah sangat tersofistifikasi. Memang, RRC yang berpenduduk 1,3 milyar itu, secara kuantitatif dapat menjadi pangsa pasar kopi paling besar. Bagi penjaja kopi global seperti Starbuck barangkali ini merupakan peluang yang sangat menantang, meskipun akan sangat sulit ditembus mengingat tradisi tehnya yang telah disempurnakan dari dinasti ke dinasti sejak ribuan tahun yang lalu.

Di negeri kita, teh memang juga punya ruang sendiri, bahkan menjadi minuman kemasan yang populer. Hebatnya, persintuhan antara teh dan kopi di negeri kita tidak menganut matematika zero sum game yang kalah mengalahkan. Teh berkembang, tetapi kopi pun demikian kuat. Untuk lebih meresapi budaya kopi kita, ergilah sampai ke pelosok-pelosok, adalah seduhan kopi kental dari biji gilingan sendiri yang mudah ditemukan. Apakah itu kopi tubruk atau sekedar kopi instan lokal, baunya wangi, rasanya nikmat.

Kita pun memang termasuk salah satu negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Berbagai jenis kopi kita, termasuk kopi Padang Sidempuan, ikut masuk dalam daftar suguhan kopi hotel-hotel berbintang. Menu Starbuck internasional pun mencantumkan seduhan kopi kita, decaf atau bukan. Explore every cup, kata Starbuck. Bagi peminum kopi, maknanya ini bisa sangat dalam. Apa pun kopinya.

LA, 14 Feb 2008

Sumber: Kolom-kolom Agusti Anwar
penulislepas.com

Budaya Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top