Melawan Kaum Nekrofilia

Terorisme merupakan sebuah paham yang mencintai kematian, kerusakan, kehancuran atau apa yang sering kita dengar sebagai nekrofilia.

Kaum teroris membenci kehidupan (biofilia) yang tidak sesuai dengan harapannya dan merasa hanya memiliki satu cara untuk menghadapinya, yakni menghancurkan segala sesuatu.

Paham nekrofilia

Seperti pernah dikatakan F Budi Hardiman, teror adalah sebuah politik kematian. Ketakutan akan mati tidak hanya bisa dilenyapkan, tetapi juga bisa diperbesar. Teknik ini yang disebut sebagai teror. Semakin membesarnya paham-paham terorisme, sama halnya dengan membesarnya paham penghancuran atau nekrofilia.

Mereka ingin merebut sebuah citra kehancuran dengan menyebarkan segala ketakutan terhadap kehancuran itu sendiri. Citra yang mengerikan terhadap bayang-bayang kematian direproduksi sedemikian rupa sehingga menumbuhkan perasaan takut yang sulit dilukiskan, dan itulah tujuan utama aksi teror.

Kehancuran itulah ide utama terorisme. Karena itu, orang yang masih memendam cinta terhadap keberlangsungan hidup secara damai mengutuk keras terorisme. Ia tidak bisa dibenarkan dengan ide agama mana pun dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kaum teroris akan selalu mengintai dan berusaha mencari kelemahan untuk terus membumihanguskan. Karena itu, menghadapi kaum teroris tidak hanya membutuhkan kewaspadaan aparat keamanan dan masyarakat, tetapi juga mawas diri. Untuk menghentikan pemahaman yang menghancurkan, seharusnya diimbangi upaya memperbaiki ketidakimbangan yang terjadi dalam kehidupan dalam ranah sosial, ekonomi, politik.

Terorisme dilakukan berlandaskan sebuah pemikiran. Karena itu, menghadapi terorisme tidak bisa hanya dengan langkah fisik semata. Menangkap pelaku terorisme memang penting sebagai shock terapy bagi teroris lain, tetapi menangkap orangnya tidak sama dengan menghentikan pemikirannya. Penanganan terorisme yang masih sporadis dan monumental akan sering mengalami kegagalan, dan kaum teroris terus berusaha mengincar kelengahan kita.

Kata kunci dari terorisme adalah penyebaran ketakutan atas kehancuran yang dicitrakan oleh tindakan dengan penggunaan instrumen-instrumen kekerasan, baik bom, sabotase, intimidasi, penyiksaan, dan sebagainya. Efek ketakutan yang ditimbulkan dari aksi teror menggemakan rasa takut dan cemas kolektif, ketidaknyamanan, dan perasaan selalu terancam keselamatannya.

Penggunaan instrumen-instrumen kekerasan dalam aksi teror sebenarnya lebih disebabkan besarnya gema ketakutan yang dapat dimunculkan dari aksi kekerasan.

Kekerasan selalu menjadi awal dari kematian, bahkan kematian itu sendiri merupakan bentuk lain, sekaligus akhir, dari kekerasan. Ketika kematian masih menjadi momok nomor satu dalam kehidupan manusia, maka dengan demikian telah melanggengkan ketakutan manusia untuk menerima bentuk-bentuk kekerasan selama hidupnya. Signifikansi antara ketakutan akan kematian dan kekerasan inilah yang menjadikan aksi teror menemukan media tumbuhnya sebagai cara terpintas meraih tujuan-tujuan tertentu.

Spiral kekerasan

Fenomena kekerasan dalam masyarakat merupakan fenomena dengan realitas ganda, ditolak secara moral tetapi lazim terjadi dalam realitas sosial. Arendt dalam On Violence (1970) menggarisbawahi betapa masyarakat telah menjustifikasi perilaku kekerasan dalam kebudayaannya.

Baginya, kekerasan adalah sebuah instrumen sebagai bagian dari kekuatan yang penggunaannya dapat melipatgandakan kekuatan manusia. Kekerasan sebagai instrumen utama terorisme ternyata merupakan fitrah manusia. Thomas Hobbes bahkan mengklaim, manusia adalah seperti serigala yang memangsa sesamanya (Homo homini lupus).

Perang melawan terorisme menjadi agenda mendesak untuk membangun kualitas peradaban dunia yang bermartabat. Kehancuran peradaban ini jelas di depan mata sebab yang berbicara sering bukan pikiran waras.

Kini dalam diri umat manusia tersimpan tanda tanya besar, masihkah ada damai di bumi? Masih adakah keinginan menciptakan perdamaian? Maukah mereka menciptakan perdamaian bukan dengan kekerasan, bukan dengan dendam serta prasangka?

Dom Helder Camara mengurai apa yang disebut ”spiral kekerasan”. Katanya tak satu pun perdamaian di muka bumi ini yang bisa diciptakan melalui kekerasan. Johan Galtung juga menyatakan, kekerasan hanya menghasilkan kekerasan. Katanya, menghentikan kekerasan hanya bisa dilakukan dengan membangun komitmen perdamaian.

Hanya dengan perdamaian, manusia membangun peradaban bermartabat. Ada dua dimensi perdamaian: dalam konteks spirit dan manifestasi, keduanya saling terkait. Menghadapi dunia yang kian tercekam peperangan, kita mempertanyakan masih adakah dua dimensi itu.

Jika spirit perdamaian sudah ditelan angkara murka kesombongan, di mana manifestasi perdamaian bisa diciptakan? Spirit perdamaian kian mengecil, menyusut, dan mengkristal menjadi spirit kebencian. Maka, awal mula kehancuran adalah matinya spirit perdamaian, yang lantas disusul matinya perdamaian itu sendiri di muka bumi ini.

Kekerasan terorisme telah membutakan mata hati kemanusiaan. Kekerasan yang digunakan oleh mereka yang antiterorisme juga mengakibatkan hal yang sama. Intinya kekerasan menutup pintu dialog sebagai cara terbaik menyelesaikan persoalan. Kekerasan akan menimbulkan soal baru yang lebih berat bobot penyelesaiannya. Kekerasan akan mengembalikan manusia kepada kejayaan kaum barbar masa lalu, yang mencintai penghancuran khas kaum nekrofilia.

Melihat dinamika global yang semakin rumit, amat perlu diingatkan kepada semua pihak bahwa jalan kekerasan tidak pernah memecahkan masalah dan pasti menciptakan masalah baru. Kekerasan yang dilakukan dengan cara menghancurkan barang-barang publik dan nyawa masyarakat sipil adalah cermin tindakan yang amat bodoh dan biadab.

Benny Susetyo Pemerhati Sosial dan Sekretaris Dewan Nasional Setara

sumber: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/29/03223451/melawan.kaum.nekrofilia

Melawan Kaum Nekrofilia

One thought on “Melawan Kaum Nekrofilia

  1. Menurut saya karena banyak orang indonesia yang salah dlam mengartikan jihad itulah yang jadi penyebab banyaknya teroris di sini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top