Pasrepan, Kabupaten Pasuruan– “Pondok pesantren merupakan gudang atau sumber konten yang perlu dioptimalkan oleh teman-teman dalam dunia digital,” ujar Fairouz Huda di depan forum saat menjadi narasumber pelatihan pertama Program Community Capacity Development in the New Normal Era di Kabupaten Pasuruan.

Senin, 24 Januari 2022, bertempat di Madrasah Aliah (MA) Abu Amr, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, Komunitas Averroes melangsungkan kelas perdana dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di pesantren sebagai pelaku pengembangan konten media digital, sebagai sumber informasi dan aktivitas pesantren di era new normal. Pertemuan ini merupakan rangkaian dari program kerjasama antara Komunitas Averroes dengan Sampoerna Untuk Indonesia.

Kehadiran Komunitas Averroes disambut baik oleh pihak MA Abu Amr, lembaga formal naungan Pondok Pesantren Ar-Roudloh Berbaur. Hal tersebut disampaikan saat pembukaan kegiatan, “Saya tahu Averroes, Averroes selalu melakukan pemberdayaan hingga sangat mendalam. Komunitas Averroes akan membuat bagaimana santri-santri di sini menjadi lebih paham dan tahu tantang keilmuan masing-masing khususnya dunia digital pesantren,” jelas Fisona, Kepala Sekolah MA Abu Amr.

Aktivitas ini dihadiri oleh para santri pilihan yang telah memiliki berbagai keahlian, dari desain grafis, fotografi, jurnalistik, editing video, hingga kemampuan dalam membuat skenario film pendek.

“Banyak potensi yang dimiliki para santri, tinggal bagaimana pengasuh dan pendamping (baca: fasilitator) mengoptimalkan hal tersebut,” sambut Fairouz Huda setelah melihat komposisi tersebut.

Dalam rangka mengoptimalkan peran santri dalam proses menyongsong perubahan pesantren di bidang digital, Fairouz menekankan para santri untuk melakukan lompatan kreativitas gagasan lebih ke depan. “Teman-teman harus melakukan lompatan kreativitas, berpikir jauh ke depan (out of the box) bagaimana kemampuan atau keahlian teman-teman bisa menghasilkan manfaat,” terangnya

Selain itu, Fairous juga berpesan kepada para santri untuk terus bereksplorasi dan memaksimalkan potensi yang ada, “Santri itu punya potensi ekonomi luar biasa yang tidak dikelola, punya jaringan yang luar biasa, siapa yang gak tau pesantren. Politisi itu datang hanya butuh suara, pejabat-pejabat siapa yang gak butuh pesantren, butuh semuanya, tapi ketika momentum pemilihan. Sekarang harus di balik, mereka harus datang kesini karena mereka tertarik terhadap produk atau bisnis digital yang dikembangkan oleh pesantren, pada akhirnya mereka memodali, membesarkan, membimbing atau bahkan mendirikan pabrik.”

Pada akhir sesi, peserta melakukan pemetaan potensi individu yang kemudian dihasilkan dua tim terdiri dari, tim jurnalistik dan content creator. Sembari menutup aktivitas kelas peserta ditanya, “Apakah teman-teman siap menjadi pelopor perubahan digital di pesantren?” Dengan serentak peserta berteriak lantang, “Siap!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.