facebook_cartoonJUDUL di atas sengaja aku pilih sebab teringat buku-buku sekolah anakku hampir semuanya memiliki judul serupa. Seperti “Asyiknya bermain Angka”, “Asyiknya Mewarnai”, “Asyiknya Belajar Bahasa Inggris”, dll. Setelah kubuka-buka, isi di dalamnya, secara mengejutkan, ternyata juga emang sangat mengasyikkan. Bahkan untuk seorang yang berusia tak lagi muda ini. apakah betul sesuatu yang mengandung ke-asyik-an itu bersifat universal dan menerabas usia, jenis kelamin, etnisitas dan kelas?

logo_facebook

Semenjak beberapa tahun terakhir ini dunia tengah tenggelam dalam keasyikan baru yang bernama Facebook. Kalau dilihat secara kuantitatif sebenarnya Facebook tidaklah memiliki angka yang fantastis. Member yang tercatat dalam Facebook saat ini [hanya] 90 juta (data dari Zeta Interactive, Peanut Labs Media dan Hinger Media 2009) . Terutama di bandingkan penguna layanan surat elektrik (Email) Yahoo yang mencapai 260 juta. Tapi tentu saja Anda akan menyangkal bahwa antara Yahoo dan Facebook itu beda spesies. Okey, lalu kalau kita bandingkan dengan Friendster, ternyata Friendster juga memiliki angka yang sama yaitu 90 juta (TIME 27 Okt 2008).

Lalu mengapa Facebook sekarang terkesan lebih “poweful”? Masih dari TIME, ternyata sejak berdiri hingga sekarang Friendster hanya berhasil menembus pasar Asia saja (90% pengguna Friendster adalah Asia), sementara Facebook, baru satu tahun belakangan ini menembus Asia. Sehingga bila Facebook berhasil menembus 50% saja market-share Asia (aku perkirakan market-share untuk bisnis ini sampai 300 juta), jumlah membernya akan menjadi dua kali lipat dibandingkan Friendster (dan ingat dalam bisnis ini multiple-account sangat dimungkinkan). Berapa banyak duit yang dihasilkan Mark Zuckerberg dkk dengan bisnis Facebook ini? Akhir Tahun 2008 total kekayaan Facebook adalah US$ 516 million atau bekisar Rp. 50 Trilliun! Jauh lebih besar dari total APBD Prov. Jatim yang cuman Rp. 20-an Triliun. Bisa dibayangkan bila target minimum 50% pasar Asia bisa tercapai sampai tahun 2010, total kekayaan Facebook bisa separuh dari APBN Indonesia! Sebuah lembaga tanpa minyak, tanpa tanah bisa bikin uang sebanyak itu.

Aku baru saya menikmati asyiknya bermain angka-angka Facebook, sekarang bagaimana dengan asyiknya ngerasani Facebook.

Harvey Jones (2008), peneliti dari MIT, dan juga sebagaimana dilansir banyak media, mengatakan bahwa ternyata selama ini sistem keamanan Facebook tidaklah kokoh. Hal ini membuat data-data yang terdapat dalam Facebook dapat dengan mudah diakses untuk kepentingan-kepentingan memata-matai (survelliance). Beberapa gosip juga beredar bahwa ternyata source code dari situs ini juga telah bocor ketangan beberapa orang, terutama agen-agen CIA.

Bayangkan bila Anda memiliki akses atas data 100 juta orang, lengkap dengan profil, hobby, siapa saja kawan-kawannya, bahwa perasaan apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Sempat terbayang dibenakku untuk membuat semacam time-series table dinamis tentang perubahan perasaan 100 juta orang dari hari-kehari.. hmm.. Jadi singkatnya, membuka account di Facebook sama saja menelanjangi diri kita sendiri untuk diekspose ke muka publik. Begitulah kira-kira hasil dari riset Pak Harvey.

Hal mutakhir yang menarik tentang Facebook adalah soal foto-foto gambar ibu lagi menyusui. Tim sensor Facebook belakangan ini ‘memberedel’ foto-foto ini karena diangap cabul (obscene). Ribuan protes berdatangan, utamanya dari masyarkat Amerika (Utara, Tengah, Selatan) dan Eropa. Tapi ternyata Facebook tetap menyensornya, kenapa? Karena Facebook sudah mulai sadar dan menempatkan posisinya konteks internasional. Ingat, bahwa pelanggannya juga ada di Timur Tengah, Asia Tenggara dan Selatan. Dan konon, untuk memutuskan ini telah terjadi perdebatan yang sangat sengit. Lucu sekali, masalah buah dada seorang ibu yang lagi menyusui saja bisa jadi masalah besar dalam sebuah insitusi berskala puluhan triliun rupiah.

Kampanye-kampanye politik di dalam situs ini yang tidak terorganisr dengan rapi juga bertebaran di mana-mana. Barrack Obama juga menggunakan situs ini sebagai media kampanye politiknya adalah salah satu contoh. Sekarang di Indonesia kita sudah mulai melihat bagaimana beberapa caleg juga, secara amatiran, manfaatkan Facebook sebagai media kampanye gratis (hmm.. perlu diteliti berapa banyak penguna Facebook yang nyoblos dalam pemilu).

Beberapa negara, seperti Syiria, Burma, Bhutan dan Iran, juga telah memblokir peredaran Facebook di negaranya sebagaimana Prof. M. Nuh pernah memblokir Youtube bebera bulan lalu. Hal ini mereka anggap karena situs ini membuka peluang terbangunnya aliansi dan komunikasi para pemberontak sebab memang keadaan politik internal di negara-negara sedang kacau. Khusus bagi Iran, tentu dengan membawa-bawa wacana agama, mengatakan bahwa Facebook adalah budaya barat – Amerika – dan ehm.. kafir.

Sekarang Facebook sudah mulai menjalari Indonesia, bahkan aku sendiri berhasil menemukan teman SMP yang sudah puluhan tahun tak bersua. Lagi-lagi penyesalan hanya satu saja terbesit, identitas kita di maa dunia hanya dilihat sebatas market-share. Kita hanyalah angka dan prosentase di mata mereka.

Sekarang Facebook sudah mulai menjalari Indonesia. Kawan-kawan di Averroes, teman-teman kuliah, teman se-perbeasiswaan, bahkan saudara-saudara ku semuanya telah ter-digitalized keberadaannya. “Nafsu” untuk pulang dan bertemu makin menipis, sebab kabar mereka dan muka-muka mereka, muka anak-anak mereka bisa kuupdate setiap saat.

Berapa menitkah aku telah menghabiskan waktu di depan halaman cyber berwarna biru ini hari ini? Asyik bukan?

Fadillah Putra, 1st year LBJ School of Public Affairs Student University of Texas at Austin.