eksistesialisme-sartreEksistensi sebagai Esensi Manusia

Definisi atas manusia ini menyangkutkan dirinya dengan esensi manusia, dengan kodratnya, dengan keberadaannya yang terdalam. Namun, ada filsuf-filsuf eksistensialis yang menolak untuk berbicara tentang “kodrat” manusia. Hal ini bisa dimengerti sejauh filsafat eksistensial terlibat dalam perjuangan melawan kecenderungan dominan dalam filsafat dimana manusia ditampilkan sebagai hanya “sebongkah kodrat.” Kodrat di sini senantiasa dilihat dalam kerangka benda-benda, dan karenanya filsuf eksistensialis menolak menggunakan konsep “kodrat” dalam definisinya atas manusia. Lalu dia mengekspresikan penolakannya untuk meletakkan makhluk manusia dalam garis yang sama dengan makhluk pembuka surat (Sartre). Berbuat demikian akan mengabaikan subyektivitas yang bereksistensi, yang tak lain adalah manusia itu sendiri. Begitu kita memahami ini, kita tak akan lagi bisa berkeberatan dengan filsafat eksistensial yang melandaskan penolakannya atas “esensi yang tetap” dari manusia dan benda-benda. “Esensi manusia” (Dasein) terletak dalam eksistensinya” (Heidegger). Namun kita harus mencatat di sini bahwa beberapa eksistensialis telah mengembangkan sebuah epistemologi dimana amat sulit untuk menemukan tempat bagi esensi, jika kita mendefinisikan esensi sebagai “sesuatu, yang melaluinya, sesuatu menjadi seperti apa adanya sesuatu itu.”

Cogito yang Bereksistensi Secara Pra-Refleksif

Mengatakan bahwa ada-nya manusia itu adalah adanya-dalam-dunia merupakan perkataan yang terlalu terbatas. Materialisme juga bisa mengklaim perumusan semacam itu sejauh itu dapat mendefinisikan manusia sebagai sebuah partikel dalam sebuah evolusi kosmik yang tak terbatas. Kita juga tak bisa melihat manusia dengan cara yang sama dengan cara kita melihat sebatang rokok dalam bungkusnya, karena pandangan ini akan mengabaikan subyektivitas manusia. Dan tanpa subyektivitas, rokok akan tetap tak terlihat dan tak terpahami dalam kotak pembungkusnya.

Pernyataan: “rokok itu ada dalam kotak” sudah dengan sendirinya mengandaikan seorang subyek yang bisa mengambil jarak dari rokok dan bisa membalik ruang sisi-sisi pembungkus rokok dari muka ke belakang. Ada-nya-manusia adalah ada-dalam-dunia-yang-sadar, ada-yang-hidup, yang-mengalami-dunia (Welterfahredes Leben, Husserl). Karena ada-nya manusia adalah ada-yang-sadar, kita dapat berbincang dengan Heidegger bahwa manusia itu adalah ada yang dalam ada-nya itu memiliki perhatian dengan ada-nya. Kepedulian manusia atas ada-nya sendiri membentuk apakah manusia itu. Manusia itu secara hakiki dikarakteristikkan sebagai sebuah hubungan antara pengertian dengan ada (Seinsverständnis).

Adalah sesuatu yang keliru jika menyimpulkan dari sini bahwa kesadaran itu haruslah meliputi sebuah kesadaran yang lengkap atas segala yang dilingkupi oleh eksistensi sebagai suatu kesatuan implikasi timbal-balik dari subyek dan dunia. Ini tentu saja bukanlah pokok persoalannya. Mari kita andaikan saja bahwa aku ingin mengetahui berapa banyak rokok yang tersisa dalam kotak bungkus rokok. Aku mungkin berkata, “hanya ada enam yang tersisa.” Secara tematis aku hadir pada rokok, yaitu pada obyek penghitunganku. Tetapi pada saat yang sama, aku hadir pada sebuah cara bereksistensi yang di dalamnya obyek-obyek dapat dihitung; aku masuk menuju ke sebuah dunia kuantitatif. Namun, kehadiran kepada dunia yang kuantitatif ini bukanlah sesuatu yang tematik. Penghitunganku adalah “kesadaran (akan) penghitungan” (Sartre), bukan “kesadaran atas penghitungan.”

Tentu saja adalah mungkin untuk menjadi sadar akan penghitungan. Dalam hal itu, aku mencari arti spesifik dari sebuah cara bereksistensi yang disebut “penghitungan.” Pendekatanku di sini merupakan salah satu pendekatan tematis terhadap fenomena penghitungan dan salah satu dari pengungkapan secara jelas apa yang tampak di bagiku. “Serangan frontal” terhadap problem penghitungan ini hanyalah mungkin karena aku telah “mengetahui” apa itu menghitung yang merupakan kesadaraan (atas) penghitungan. Sartre berbicara dalam hal ini berkaitan keniscayaan dari semua refleksi untuk dilangsungkan melalui sebuah “pengetahuan” pra-refleksif.

Ini berlaku benar untuk semua modus dan modalitas eksistensi. Bereksistensi adalah kesadaran (atas) bereksistensi. Manusia sebagai Cogito yang bereksistensi adalah Cogito yang pra-refleksif. Refleksi berarti kembali ke “irréfléchi,” yaitu kepada kehidupan. Hal ini mungkin karena kehidupan adalah hidup-yang-mengalami-dunia (Welterfahrendes Leben). Kehidupan kita adalah kehidupan manusia sepanjang itu adalah kehidupan-dari-seorang-subyek yang mengungkapkan dirinya sendiri di saat berendam dalam sebuah cahaya tertentu. “Cahaya” ini adalah subyek yang bereksistensi itu sendiri; “cahaya” itu adalah lumen naturale yang secara pokok menciptakan kemungkinan pandangan apapun. Manusia tak dapat menempatkan dirinya di luar cahaya ini tanpa kehilangan segenap inteligibilitasnya. Penilaian kita dapat menjadi benar dan bermakna hanya sepanjang penilaian itu mendapatkan pendasarannya dalam “pengalaman kehidupan” (expérience vécue, Merleau-Ponty), dalam “pengetahuan” mengenai manusia sebagai ada-yang-sadar-dalam-dunia.

Bersambung

Img: http://www.ekosystem.org/0_Images/Streets/ukingdom/banksy_london_06.jpg