Sekitar 1.000 guru dari penjuru tanah air akan berpartisipasi dalam Konferensi Guru Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27-28 November di Jakarta. Sepuluh guru yang terpilih akan mempresentasikan makalah mereka pada sesi paripurna di konferensi itu (Jakarta Post, 15 November).
Acara ini membutuhkan dukungan dari masyarakat umum terkait bahwa para guru kini sedang menuju ke suatu paradigma baru yang melihat pengajaran sebagai suatu pekerjaan yang professional. Kita perlu menyadari bahwa banyak guru, jika bukan mayoritas, di negeri ini belumlah memiliki standar professional. Menikmati kegiatan mengajar adalah penting, tetapi menjadi guru professional memerlukan sesuatu yang lain lagi.

Mengajar adalah perkerjaan yang begitu sulit dan penuh tuntutan, tapi sayangnya mereka yang mempunya profesi ini tidak dibekali pelatihan yang memadai. Belum lagi, mereka sering kekurangan dukungan dari orang tua dan masyarakat, yang merupakan stakeholder lain dalam dunia pendidikan nasional. Disamping peran penting mereka, para guru pada umumnya ada di ranking bawah dalam strata sosio ekonomi, dan lebih dari semua itu, mungkin, mereka kekurangan kesempatan untuk berkembang.

Kami gembira mendengar bahwa tujuan dari konferensi ini adalah untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, serta rasa percaya diri para guru dalam mengekpolrasi pendekatan baru untuk mengajar, sebagaimana dikatakan oleh Kenneth J Cock, director dari Sampurna Foundation Teachers Institute yang menangani konferensi ini. Lebih lagi, kita bisa belajar dari negara-negara maju tentang bagimana untuk meningkatkan kemampuan mengajar. Para guru Amerika, China, dan Jepang menyatakan bahwa mereka sengaja memilih guru sebagai sebuah profesi.

Mengapa mereka memilih karir di bidang pengajaran sebagai pilihan pertama? Alasan yang mendasar adalah karena kebudayaan di tiga negara itu menghormati mereka yang punya perhatian pada anak-anak. Gaji, kebanggaan, kondisi kerja, dan liburan musim panas dilihat sebagai hal yang kurang penting. Para guru semata-mata mencintai mengajar anak-anak.
Guru yang baik itu terlahir, bukan dibentuk. Pengajaran yang baik terjadi jika guru punya kepandaian khusus dalam mengajar murid dan tetap menjaga perhatian dan antusiasme mereka tentang pembelajarannya. Ini secara umum diterima di banyak kejuruan pendidikan, bahwa mengajar adalah seni yang tidak bisa diajarkan. Dalam kaitannya dengan hal ini, diasumsikan bahwa para guru akan mendapatkan sedikit dari pelatihan tentang bagaimana untuk merancang dan mengajarkan pelajaran yang efektif berdasarkan kebutuhan murid. Kursus-kursus dalam metode pengajaran didesain untuk melayani tujuan-tujuan yang berbeda.

Dalam satu sisi, kursus semacam itu menyuguhkan teori pengajaran dan pengembangan kognitif. Walaupun hal-hal ini memungkinkan bagi para guru untuk mengutip teori-teori terbaru, tetapi teori tetaplah generalisasi yang luas dan susah untuk diterapkan di dalam kelas. Dalam sisi ekstrim yang berlawanan, pelatihan ini menyedikan saran-saran yang khusus tentang kegiatan dan materi yang mudah digunakan, dan para murid pasti menyukainya. Sebagai contoh, tidak satupun dari kita akan membiarkan diri kita dirawat oleh seorang dokter yang belum berpengalaman di sebuah rumah sakit selama beberapa tahun dan dibawah pengawasan dokter ahli yang berpengalaman.

Kita belum akan rela untuk mempercayakan anak-anak kita pada guru, yang sesudah menyelesaikan pelatihan kerjanya, hanya mempunyai pengalaman mengajar yang singkat. Biasanya, pelatihan-pelatihan yang diikuti banyak guru di Asia dilaksanakan pada masa kerja sesudah kelulusan dari universitas. Para lulusan program pendidikan guru masih dianggap sebagai novis yang perlu bimbingan dan dukungan dari rekan-rekan sejawat yang berpengalaman.

Sayangnya, pengalaman ini tidak pernah dipertimbangkan sebagai prasyarat utama bagi pengajaran di Indonesia. Para guru kami biasanya punya sedikit pendidikan formal saja, karena masyarakat tidak mengharapkan pelatihan guru sebagai satu program pokok di universitas. Mereka menganggap program pendidikan guru sebagai proyek yang insidental saja, ketimbang sebuah studi yang serius.

Kompetisi, untuk pekerjaan mengajar di Asia jauh lebih tinggi disbanding dengan di AS. Di Jepang, sekitar 200.000 orang mengambil bagian dalam ujian sertifikat yang sulit tiap tahunnya, tetapi hanya sekitar seper-limanya akan mendapatkan pekerjaan mengajar. Keinginan akan profesi mengajar di Jepang adalah bukti bahwa para calon yang gagal pada usaha mereka yang pertama akan mencoba lagi untuk kedua-kalinya supaya lulus ujian. Di AS, kondisinya berlawanan, para guru yang bersertifikat hampir dipastikan bisa mendapatkan pekerjaan jika mereka mau untuk ditempatkan.

Di Indonesia, sertifikasi guru tidak berlangsung dengan baik oleh sebab banyaknya aspek yg menyimpang dalam prosesnya. Sertifikasi ini lebih seperti alat untuk menyeleksi ketimbang alat yang produktif dan strategis dalam pengembangan kualitas guru. Sarjana kita juga ragu-ragu untuk memilih mengajar, takut akan kesulitan keuangan yang mungkin mereka hadapi nantinya. Apa yang kita perlukan untuk mengembangkan pengajaran dan pembelajaran adalah sebuah profesi yang nyata untuk menyegarkan martabat.

Sulitlah untuk mendefinisikan guru yang ideal. Persayaratannya banyak. Di Asia, guru yang ideal adalah seorang penyaji yang punya ketrampilan. Sebagaimana seorang aktor atau musisi, substansi dari kurikulum menjadi skenario atau notasi; adapun tujuannya adalah untuk menyajikan permainan itu se-efektif mungkin. Ketimbang mengekskusikan kurikulum sebagai sesuautu yang rutin, guru yang terampil berusaha keras untuk menyempurnakan presenatsi dari tiap pelajaran.

Di AS, para guru dipandang sukses jika mereka inovatif, inventif, dan orisinil. Presentasi yang terampil dari sebuah pengajaran tidaklah cukup, dan bahkan mungkin diolok-olok karena mengindikasikan kurangnya bakat inovatif. Banyak standar muncul untuk mengatakan apakah seorang guru ideal atau tidak. Ini berbeda di tiap Negara. Dalam pendapat saya, guru-guru kita haruslah memenuhi empat syarat, yakni kemampuan untuk bisa menerangkan seuatu dengan jelas, kepekaan terhadap kabutuhan dan karakteristik individu dari masing-masing murid, antusiasme dalam mengajar, punya standar yang tinggi untuk murid, dan sabar. Saya pikir para guru perlu untuk menunujukkan dan menerapkan syarat-syarat itu dalam pengajaran mereka.

Abdullah Yazid adalah program officer di Sekolah Masyarakat Madani Averroes (Civil Society School Averroes) Malang. Dia bisa dihubungi melalui abdullahyazid@yahoo.com .

Artikel yang diumuat The Jakarta Post: (27/11/07)

Sumber: http://www.sampoernafoundation.org/content/view/909/126/1/2/lang,id/