SETELAH ikut mengantre tiket dan berdesak-desakan selama satu jam, akhirnya saya berkesempatan menyaksikan film Laskar Pelangi di layar lebar, kurang lebih seminggu yang lalu.

Meski tak sampai berderai air mata seperti penonton di kanan kiri saya, dan juga sebagian besar penonton; saya merasakan keharuan yang luar biasa selama dua jam menyaksikan film itu; dan keharuan itu mendesak-desak hendak meledak menjadi tangisan. Lebih dari sekadar keharuan, saya menangkap pesan moral yang terlampau gamblang yang hendak disampaikan oleh film itu.

Laskar Pelangi adalah potret kehidupan masyarakat terpinggirkan yang dengan segala daya tersisa berusaha mengejar ketertinggalan sosial dan ekonomi lewat pendidikan. Dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer yang telah terpedaya oleh tipu muslihat materialisme, -sehingga segala bentuk kesuksesan diukur dari seberapa banyak materi yang dikumpulkan- film ini menawarkan cara pandang lain dalam memaknai arti keberhasilan, terutama, keberhasilan pendidikan.

Telah terlampau lama jerat-jerat paham materialisme melenakan masyarakat, sehingga pemenuhan segala sesuatu yang berdimensi material seolah-olah tujuan utama dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Pendidikan pada dasarnya penanaman dasar-dasar moralitas yang kukuh dalam pribadi-pribadi, sebuah pesan yang begitu nyata diungkap dalam film ini.

Di manakah relevansi pesan ini dalam kehidupan kita sekarang? Tentu saja pesan ini menjadi semacam tamparan bagi dunia pendidikan kita, manakala pendidikan lebih banyak memberikan penekanan pada aspek kecerdasan kognitif, sementara kecerdasan afektif dan psikomotorik terabaikan.

Buktinya, di lembaga-lembaga pendidikan justru terjadi banyak pelanggaran menyangkut akuntabilitas publik. Atau setidaknya pengkhianatan terhadap hak-hak publik yang semestinya dipenuhi tanpa memandang latar belakang; apa pun latar belakang itu.

Laskar Pelangi menceritakan kondisi masyarakat Belitung pada dekade 1970-an. Tetapi, itu tak bermakna bahwa kondisi itu telah sepenuhnya hilang dari masyarakat kita. Laskar Pelangi adalah cerita tentang universalitas dan keabadian problem sosial yang tak kunjung selesai. Kesenjangan kualitas pendidikan adalah sesuatu yang terlampau mencolok dalam kamus kehidupan masyarakat Indonesia kontemporer. Sesuatu yang dengan sangat lugas disampaikan oleh film ini.

Hal ini menjadi problem serius dalam kehidupan masyarakat dan pada gilirannya akan menjadi faktor penghambat yang cukup serius bagi proses penciptaan kohesi sosial dalam masyarakat.

Kesenjangan kualitas pendidikan tidak hanya berhubungan dengan pendidikan semata-mata. Ia adalah cermin dari kesenjangan yang terjadi pada tingkat-tingkat mikro lainnya. Kesenjangan kualitas pendidikan juga dengan sendirinya bermakna kesenjangan akses ekonomi dan akses atas bidang-bidang kehidupan lainnya. Dalam banyak kasus, pendidikan telah kehilangan roh dan tujuan utama sebagai sarana pembentukan nilai, mentalitas, dan kepribadian.

Pendidikan kini adalah industri; karena terlalu banyak perhitungan untung rugi secara material; sehingga kelompok masyarakat tak berpunya dengan sendirinya tidak bisa menjadi bagian darinya.

Pendidikan adalah juga gaya hidup. Layaknya gaya hidup yang dengan cepat berubah, pendidikan dengan ragam corak yang begitu banyak tampil memesona dan membutakan mata masyarakat dari hakikat yang sesungguhnya hendak dicapai melalui pendidikan. Pendidikan adalah gaya hidup karena pemenuhan pendidikan tak lagi dimaksudkan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, tetapi untuk menutupi kebutuhan gengsi, martabat, harga diri, dan kelas.

Sekat yang Memisahkan

Industri dan gaya hidup adalah sekat yang memisahkan kelompok kaya dan miskin dalam masyarakat. Maka pendidikan yang semestinya menjadi sarana mobilitas sosial, kini justru menjadi media paling ampuh untuk mengotak-kotakkan masyarakat berdasarkan kemampuan material dan status sosial mereka. Pendidikan sebagai industri akan berjalan mengikuti logika pasar. Karena logika pasar yang berlaku, mengharap pendidikan murah, menjadi harapan yang pelan-pelan harus kita pendam dalam-dalam.

Logika pasar mengatakan: semakin mahal harga barang, semakin bagus pula kualitasnya. Pendidikan sebagai industri dan gaya hidup, mau tak mau berjalan segaris lurus dengan logika ini. Konsekuensinya, pendidikan berkualitas selalu identik dengan pendidikan mahal; meskipun pendidikan murah juga berpeluang untuk menjadi pendidikan berkualitas.

Sayang, tak sedikit para penyedia jasa pendidikan yang dengan kesadaran tinggi memainkan sentimen ini. Ironisnya, masyarakat sebagai konsumen pendidikan, justru mengamini kenyataan ini seiring dengan meningkatnya tingkat konsumerisme mereka. Karena itu, sekolah murah selalu dipandang sebelah mata; betapa pun berkualitas pendidikan itu.

Tragis. Hampir empat dekade berlalu dari potret Andrea Hirata itu, keterbatasan akses pendidikan kalangan miskin hampir tak mengalami pemecahan yang signifikan. Laskar Pelangi bukan hanya kisah pendidikan dan kemiskinan di Belitung, tetapi ia ada di sekitar kita. Dari jarak yang paling dekat dengan kehidupan kita, Laskar Pelangi berpendar-pendar dan berpijar-pijar menyilaukan mata kita yang pada akhirnya menjadikan kita abai akan fakta-fakta ini.

Laskar Pelangi di sekitar kita adalah masalah kita bersama dan tanggung jawab kita bersama. Maka tak ada gunanya tangis dan keharuan kita ketika menyaksikan film itu, sementara kita tak mampu menghadirkan keharuan dan tangisan itu dalam kehidupan Laskar Pelangi yang nyata di sekitar

Pradana Boy ZTF , alumnus sekolah Muhammadiyah dan aktivis Pemuda Muhammadiyah Kota Malang.
sumber : Jawa Pos