Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger

//Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger

Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger

MASYARAKAT Suku Tengger merupakan salah satu masyarakat yang hidup di pegunungan Bromo di Kawasan Probolinggo – Pasuruan – Lumajang – Malang. Konon asal mula cerita masyarakat Tengger terbentuk dari pelarian prajurit dan penduduk Majapahit ketika suatu ketika kerajaan tersebut diserang oleh Demak. Untuk mempertahankan diri jalan satu-satunya bagi mereka adalah melarikan diri, dan sampailah mereka di pegunungan Tengger.

Perjalanan selanjutnya, sebagai suku pelarian dan membentuk suatu masyarakat dengan berbagai pranata sosialnya mereka memiliki berbagai karakteristik sosial, budaya, politik dan agama. Berbagai aspek karakteristik tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Agama memiliki keterkaitan dengan politik dan sosial dan demikian pula sebaliknya.

Namun demikian mainstream besar yang menjadi bahan perbincangan menarik dalam hal ini adalah soal bagaimana masyarakat Tengger melakukan resitensi atas berbagai “serangan” dari kebudayaan lain. Sebagai suku yang memiliki kebudayaan cukup unik, mereka merasakan memiliki sesuatu warisan budaya yang harus dipertahankan.

Orang Tengger memiliki petunjuk yang mengarah kepada keharminisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yakni setya budaya (taat dan hormat kepada adat), setya wacana (kata harus sesuai dengan perbuatan), setya semaya (selalu menepati janji), setya laksana (bertanggungjawab terhadap tugas) dan setya mitra (selalu membangun kesetiakawanan). Dengan kata lain orang memiliki bekala-bekal hidup untuk menjadi diri mereka sendiri.

Untuk mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger wajib menjauhi malima: maling (mencuri), main (main judi), madat (menghisap candu), minum (mabuk karena minuman keras), madon (main perempuan); sekaligus wajib menjaga walima: waras (sehat jasmani dan rohani), wareg (cukup makan), wastra (cukup sandang), wasis (cukup ilmu pengetahuan) dan wisma (memiliki tempat tinggal yang layak).

Dalam hal ini legenda Ajisaka adalah cerita rakyat Tengger sebagai salah satu bentuk resistensi tersebut.

Artikel yang pernah ditulis oleh Dr. Bisry Effendy, Direktur Lembaga Kebudayaan Desantara dan peneliti dari LIPI ini menyangkut bagaimana masyarakat Tengger melakukan resistensi dengan menciptakan legenda Ajisaka.

Konon cerita hidup sepasang suami istri di pegunungan Tengger, Kyai dan Nyai Kures. Mereka hidup miskin dan pekerjaan utamanya adalah mencari kayu bakar. Ia memiliki anak bernama Dursila yang bertabiat buruk.

Suatu hari Kyai Kures bertemu dengan ular besar bernama Antaboga. Kyai Kures dililit tapi lalu dilepaskan ular tersebut dengan perjanjian Kyai Kures mau menyerahkan 2 kaleng susu setiap hari pada Antaboga. Karena sering merasa kesulitan akhirnya Antaboga bersikap iba dan justru memberikan emas yang sangat banyak yang dimuntahkan dari mulutnya. Seketika Kyai Kures kaya mendadak, dan hal itu membuat anaknya si Dursila iri hati. Diam-diam Dursila menemui Antaboga dan memaksa agar Antaboga memuntahkan emas. Antaboga tidak suka dipaksa, ia marah dan menelan Dursila hidup-hidup.

Antaboga menghibur Kyai Kures agar tidak bersedih dengan kematian Dursila, terutama karena ia akan memiliki anak kagi yang lebih elok. Dan betul tak lama kemudian ia memiliki putra yang sangat ganteng, yang bernama Ajisaka. Atas saran Antaboga agar Kyai Kures menghantarkan Ajisaka berguru kepada Nabi Muhammad di Mekkah. Di Mekkah Kyai Kures bertemu dengan Sayyidina Ali, Abu Bakar, Utsman dan sahabat-sahabat nabi lainnya.

Setelah selesai menimba ilmu kepada nabi Muhammad, Ajisaka lalu pulang. Nabi memberikan oleh-oleh berupa lontar dan alat tulis. Tetapi salah satu hadiah Nabi itu (lontar) ketinggalan di Mekkah, dan Ajisaka baru ingat ketika sudah sampai di Tengger. Maka Ajisaka mengutus abdinya bernama Ana untuk mengambil tanda mata tersebut. Di sisi lain Nabi pun mengutus pembantunya Alif untuk mengantarkan lontar tersebut. Sesampai di tengah jalan kedua abdi bertemu. Karena keduanya saling berebut, akibatnya kedua dari mereka meninggal dunia.

Ketika Ajisaka mendengar kabar tersebut, ia lalu bersajak, “Ana Caraka Data Sawala Pada Jayanya Maga Batanga”. Sajak tersebut sampai sekarang menjadi abjad Jawa. Orang-orang Tengger memperingati kematian kedua cantrik tersebut dengan upacara Karo. Sampai sekarang.[1]

Makna Legenda Ajisaka

Legenda Ajisaka sangat terkenal di masyarakat Jawa dan terutama masyarakat Tengger. Cerita tersebut cukup kontroversial didengar, dan bisa menjebak kita untuk menafsirkan bermacam-macam soal. Karena itu banyak yang meragukan kisah tersebut berasal dari leluhur orang Tengger. Karena itulah Tengger amat menarik perhatian para peneliti. Cukup banyak penelitian dilakukan di Tengger, sepeti Meinsma (1879), Hefner (1985), Sutarto (1997).

Singkat kata, cerita tersebut memang cukup merepresentasikan bahwa masyarakat Tengger amatlah problematik. Tidak sesederhana yang kita lihat. Ada banyak intrik politik, intervensi mainstream asing, pola resistensi dan berbagai kejadian yang menarik perhatian. Misalnya pembantaian massal tahun 1965 yang mengambinghitamkan masyarakat Tengger sebagai antek komunis.

Dalam kaitannya dengan mata kuliah yang sedang kita ikuti ini, dinamika masyarakat Tengger berkaitan dengan Legenda Ajisaka tersebut bisa menunjukkan pada kita akan perubahan sosial dari suatu pranata sosial. Misalnya berbagai kearifan lokal masyarakat Tengger yang sekarang sudah mulai hilang sedikit demi sedikit karena tertelan arus perubahan zaman.

Perubahan Pranata Sosial Masyarakat Tengger

Dari Legenda Ajisaka kita bisa memetik beberapa perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Tengger dewasa ini, mulai dari pertarungan antara mainstream besar sampai upaya resistensinya sendiri.

1. Dari segi keagamaan masih tidak jelas posisi agama yang dianut masyarakat Tengger, apakah mengikuti agama Hindu, atau Islam. Karena agama Tengger tidak termaktub dalam kamus resmi agama-agama di Indonesia, maka masyarakat Tengger lalu menjadi obyek rebutan agama-agama resmi. Misalnya pemaksaan nama agama dalam KTP, pencatatan data statistik dan seterusnya. Agama animismenya sudah mulai ditinggalkan karena masyarakat sudah melihat perubahan sosial melalui televisi dan media massa lainnya.

2.Dari segi sosial, beberapa pranata, seperti upacara-upcara adat sudah mulai ditinggalkan oleh generasi penerusnya. Mereka yang masih memelihara adat tersebut hanya sedikit, itupun dari kalangan tua. Mereka yang muda dan berpendidikan umumnya sudah menilai warisan leluhur kurang penting. Kaum muda cenderung ahistoris.

3. Dari segi struktur sosial, masyarakat Tengger tampaknya sering terganggu dengan aturan-aturan formal pemerintah seperti dalam UU Pemerintah Desa yang harus ada “ini” dan “itu”. Karena itulah kendati struktur sosial di mana masyarakat Tengger dipimpin oleh dukun turun temurun yang dibuktikan dengan keahliannya melindungi masyarakat sudah kurang diperhatikan.

4. Dari segi ekonomi, terdapat peningkatan yang cukup signifikan bukan hanya karena di daerah Tengger terdapat kawasan wisata Gunung Bromo, melainkann juga karena produktivitas yang meningkat dalam pertaniannya, serta adanya usaha-usaha lain. Di kalangan masyarakat kita terdapat asumsi kuat bahwa mereka adalah masyarakat yang cukup berada.

5. Dari segi budaya dan adat terdapat pergeseran menuju hal-hal yang lebih komersial (generasi muda) di tengah upaya sebagian kecil generasi tua untuk terus melestarikan warisan leluhurnya.

***

HEFNER (1990) menyatakan segi-segi masyarakat Tengger yang damai, sejahtera tanpa adanya konflik. Namun penelitian Hefner 20 tahun yang lalu saat ini sudah kurang relevan mengingat perubahan yang sangat drastis dialami oleh penduduk Tengger.

Proses hinduisasi oleh Parisada Hindu Dharma atau islamisasi oleh kelompok-kelompok tertentu, serta pembantaian yang dilakukan rezim kepada warga Tengger yang dikomuniskan merupakan unsur-unsur dendam yang bisa meledak kapanpun. Kaum elit Tengger, dalam berbagai penelitian, menyatakan bahwa mereka tidak beragama Hindu, begitu pula cukup repot menghadapi proses islamisasi kelompok tertentu. Begitu pula proses budhaisasi yang memasukkan secara “paksa” orang-orang Tengger menjadi penganut Budha Mahayana melalui SK No. 00/PHB Jatim/Kept/III/73. Akibatnya tradisi lokal masyarakat Tengger semakin lama semakin tercerabut dan hanyan menjadi cerita sejarah saja.

Rujukan

Effendy, Bisry. 2003. Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger. Majalah Ngaji Budaya, Desantara dan PUSPeK Averroes.

Hefner, W. Robert. 1990.Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Yogyakarta: LKiS.Sutarto, Ayu. 1997. Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang. Disertasi. *

Review, ditulis dan disadur oleh Saiful Arif, Freelance, di Malang (www.saifularif.com)

[1] Untuk nama Alif dan Ana, ada yang bercerita Seco dan Setuhu. Sedangkan upacara Karo adalah upacara besar masyarakat Tengger selain Kasodo. Yang pertama lebih pada komunitas Islam dan berikutnya lebih pada komunitas masyarakat Tengger.

By | 2009-01-20T12:50:34+00:00 December 12th, 2007|Categories: Review|24 Comments

About the Author:

Lembaga Kajian, Membangun Wacana Kritis Rakyat

24 Comments

  1. b.smaradahana March 24, 2010 at 3:45 am - Reply

    Wah, saya baru pertama kali mendengar kalau Ajisaka berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Terus terang cerita ini agak membingungkan, karena kalau dirunut dari segi waktu, bukankah orang tengger adalah pelarian dari majapahit, yang berarti baru ada pada abad 14 saat keruntuhan Majapahit, sedangkan Nabi hidupnya pada tahun 600an M? Di samping itu, kalau cerita ini benar, berarti ada kemungkinan Islam telah masuk ke Jawa pada jaman Nabi (dibawa oleh Ajisaka). Menurut pendapat saya cerita ini baru muncul belum terlalu lama (tahun 1500M ke atas), mungkin oleh orang Islam yang hidup di sekitar tengger itu.

  2. gendon May 4, 2010 at 9:22 am - Reply

    cerita ini tidak nyambung,dari mana jalannya ajisaka ketemu nabi muhammad ?ngaco!!!!!!

  3. yanti November 30, 2010 at 5:02 am - Reply

    ceritannya ngaco yg saya tahu. Aji saka bukan murid nabi MUHAMmad. tapi salah satu resi dan ajisaka mempunyai pengikut dua orang yaitu dora dan sembada.keduanya mati karna mengemban tugas yg di berikan

  4. Joyokencono June 16, 2011 at 4:34 am - Reply

    Sebagai keturunan Aji Soko, saya sangat galau dengan info yang ngaco karena dikutip dari sumber yang nggak jelas. Seperti yang dituturkan oleh eyang putri kepada ibu dan diteruskan oleh ibu kepada saya. Aji Soko adalah seorang raja dipesisir asia selatan(persisnya Thailand sekarang). Pada saat itu beliau melarikan diri dari kerajaannya karena diserang oleh bala tentara china, hingga tiba dipulau Jawa. Pada saat itu penduduk asli pulau jawa adalah ras melanesia(seperti negro dan masih tersisa dari NTT sampai Papua/Irian jaya). Karena pada zaman dahulu yang kuat yang menang, maka mereka basmi penduduk asli yang di anggap buto(raksasa pemakan daging). Beliau sampai ditanah Jawa berkisar tahun 190 – 200 Masehi. Aji Soko bukanlah nama melainkan gelar yang diberikan oleh penduduk karena nasehat Aji Soko jika ingin belajar ilmu, belajarlah kepada tiang (soko) rumah. Dari keterangan di atas amatlah tidak relevan
    jika di katakan bahwa Aji Soko berguru kepada Bangsa Arab, Justru sebaliknya bangsa Arab datang ke Indonesia berdagang dan belajar ilmu dari KETURUNAN AJI SOKO,sebab pada saat itu
    belum ada pedagang Arab yang datang ketanah Jawa, barulah +/- 500 tahun berikutnya bangsa Arab datang ke pulau Jawa dan berguru pada keturunan Aji Soko( buktinya coba anda bandingkan kalender Jawa dan Arab, bandingkan setiap bulannya, ambil beberapa tahun dan anda akan melihat ketidak konsistennya bangsa Arab dalam menentukan jumlah hari dan nama bulan kalender hanya beberapa saja yang dirubah tapi konteksnya tetap sama seperti bulan rahmadan, jawa puasa dan orng arab juga berpuasa). Memang sudah lazim kalau bangsa ini lebih menghargai bangsa asing dibanding bangsa sendiri, mereka lupa dengan pesan moral Aji Soko untuk belajar sama tiang, tujuannya agar bangsa ini tidak dibohongi oleh bangsa asing, yang akhirnya terbukti bangsa ini sampai sekarang terjajah secara spritual oleh bangsa India, Jahudi dan Arab, setiap tahunnya bangsa ini harus menyetor upeti kepada Bangsa Arab sebesar Rp. 6.000.0000.000.0000.-(enam triliyun)!!!!!! belum lagi biaya perjalanan religi yang lain, termasuk ke India dan Israel. Bagaimana negara dan rakyat sebahagian besar bisa menjadi kaya kalau uang yang seharusnya ditabung disetorkan sebagai upeti kepada bangsa asing dengan alasan mengunjungi tanahTuhan, apakah anda tidak ingat perbuatan yang meng kramatkan benda mati maupun tanah adalah perbuatan SYIRIK. perbuatan yang menentang Tuhan. Bukan itu saja,, bangsa asing telah meracuni bangsa ini untuk menentang Tuhan Sang Pencipta yang TIDAK BERNAMA DAN DINAMAKAN.
    Bagaimana kalau seorang memanggil nama orang Tuanya ? Anak tersebut adalah anak KURANG AJAR yang tidak menghormati orang tua, sementara bangsa asing mengajari bangsa ini untuk memanggil nama Tuhan ( lebih mulia orang tua anda atau Tuhan ???). demikian sedikit gambaran tentang Aji Soko, agar diplesetkan demi kepentingan kelompok tertentu. Pada kesempatan ini saya juga meminta bantuan para pembaca. Saya mau mencari pakde Saya yang bernama NASIR, beliau adalah putra SUPINA SUPINI, lahir di PURBALINGGA . ibu saya bernama RAWI dan UDEK UDEK(buyutny buyut) saya bernama MANGUN REBOWO
    beliau berhasil MOKSHA( tidak meninggal tetapi hilang secara gaib). Pada usia 12 tahun pakde saya berjuang melawan kompeni(tentera Belanda), SUNGAI/KALI SERAYU merupakan saksi bisu pada saat pakde saya dikejar kompeni, beliau bergantung di rel kereta dijembatan kali serayu untuk melarikan dari kejaran kompeni. Pada saat usia 15 tahun pakde ditangkap Kompeni dan dibawa ke Belanda dan eyang putri bersama ibu mengungsi ke pulau sumatera, dan terputuslah hubungan dengan pakde. Bagi yang mengetahui keberadaan pakde saya ataupun keturunannya dapat menghubungi saya di face book joyokencono’
    Saya mohon maaf bila ada tulisan yang menyinggung kelompok, karena demi meluruskan yang harus saya luruskan. dan demi kejayaan BUMI JAVADWIPA dimasa depan. Akal sehat, kejernian berpikir, kepintaran dan ketangguhan bangsa ini yang dibutuhkan untuk menghadapi ancaman BAHAYA KELAPARAN dimasa depan, karena bertambahnya penduduk tetapi bumi semakin sempit, akibat gerusan air. terima kasih

  5. Joyokencono July 4, 2011 at 4:00 am - Reply

    Sebagai keturunan Aji Soko saya ingin meluruskan cerita yang tidak masuk akal ini. Seperti yang dituturkan oleh eyang putri kepada ibu dan oleh ibu kepada saya. Aji Soko adalah seorang raja dipesisir Asia Selatan (persisnya Thailand sekarang). Pada thn 190 S/d 200 Masehi beliau mengungsi ke tanah Jawa akibat serangan bala tentera Cina, pada saat itu penghuni tanah jawa adalah seperti keturunan negro(rasnya masih tersisa mulai dari NTT s/d PAPUA). yang konon katanya mereka adalah manusia kanibal. Pada zaman dulu berlaku hukum rimba yang kuat yang menang, maka penduduk aslinya habis dibunuh Aji Soko dan pengikutnya. AJI SOKO bukanlah NAMA, melainkan gelar yang diberikan masyarakat karena ajaran beliau
    jika ingin BELAJAR AGAMA belajarlah kepada tiang rumah (SOKO).
    Tujuan beliau agar keturunan dan rakyatnya tidak DI TIPU oleh bangsa ASING yang meng atas namakan TUHAN untuk membodohi rakyat Jawa. Kecemasan beliau kini terbukti bahwa bangsa ini telah menjadi BUDAK BANGSA ASING. Setiap tahun bangsa ini menyetor upeti kepada bangsa Asing, seperti bangsa INDIA, JAHUDI DAN ARAB. Mungkin lebih dari 7 TRILIYUN rupiah yang dihamburkan untuk kegiatan RELIGI yang jelas-jelas adalah perbuatan SYIRIK yang di HARAMKAN Tuhan (menganggap suatu tempat adalah rumah Tuhan, Tanah Suci, Tempat Keramat dll yg merupakan perbuatan yang MEN DUA KAN TUHAN !!!). Perlu saya jelaskan lagi yang berguru bukanlah Aji Soko melainkan bangsa ARAB kepada KETURUNAN AJI SOKO(coba anda buktikan sendiri, bandingkan KALENDER ARAB DENGAN KALENDER SAKA, anda akan melihat bukti sejarah siapa yang jadi PLAGIAT).
    Pada kesempatan ini saya ingin minta bantuan pembaca yang msungkin mengetahui keberadaan PAKDE saya yang bernama NASIR, beliau adalah putra SUPINA SUPINI, lahir di PURBALINGGA, BUYUTNYA BUYUT BELIAU bernama MANGUN REBOWO, yang berhasil menyempurnakan diri( meninggal secara GHOIB tanpa meninggalkan JASAD.) Pada usia 12 Thn pakde sudah berjuang melawan penjajah, kali serayu merupakan saksi bisu, yang melihat pakde bergantungan di jembatan kali serayu pada saat kereta sedang melintas untuk melarikan diri dari kejaran tentera Belanda, pada usia 15 Thn pakde DITANGKAP BELANDA, dan eyang putri membawa ibu (RAWI) mengungsi ke pulau Sumatera dan sejak saat itu hingga sekarang terputus hubungan ibu dengan pakde. Jika para pembaca mengetahui keberadaan Pakde saya maupun keturunannya dapat menghubungi saya di face book an. Joyo Kencono. Saya mohon maaf jika tulisan ini menyinggung pribadi maupun kelompok, karena demi meluruskan cerita yang sebenarnya. agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan orang yang tidak bertanggung jawab. Terima kasih.

  6. Joyo kencono July 23, 2011 at 8:12 am - Reply

    Komentar sy mana?

  7. Joyo kencono August 7, 2011 at 7:56 pm - Reply

    Aji Soko hidup tahun tahun 180 – 250 masehi. Muhammad di abad ke- 7. gimana bisa berguru pada orang yang moyangnya saja belum lahir ? ngaco.

  8. Joyo kencono August 7, 2011 at 8:00 pm - Reply

    Aji Soko hidup pada tahun 190 – 250 Masehi, sementara Muhammad hidup tahun 600 -700 masehi, bagaimana Aji Soko berguru kepada orng yang moyangnya saja belum dilahirkan, jangan memutar balikkan fakta, sejarah membuktikan siapa yang menjadi plagiat, bandingkan kalender jawa dengan arab. anda akan tahu jawabannya.

  9. odet November 14, 2011 at 12:38 am - Reply

    cerita ini sangat ngaco, dasar apa membelokkan cerita ajisaka kaya begini? mana ada cerita ajisaka pergi ke mekah ketemu nabi muhamad?? dasar sinting!!

  10. guli March 8, 2012 at 5:39 pm - Reply

    Budaya Jawa lebih unggul dari pada Arab, buktinya: pada saat di jawa sudah ada Raja-raja bijaksana, di arab masih zaman Jahiliah, sehingga perlu diturunkan seorang Nabi untuk memperbaiki m,asyarakatnya.
    Cuma karena kebiringasan ajaran Muhamad lah yang memporak porandakan kebudayaan Jawa yang adiluhung, buktinya : memanipulasi ceritera Aji Saka dengan mengatakan berguru kepada Muhamad di mekah,Majapahit runtuh tahun 1478, rayat majapahit melarikan diri ke tenger pasti sekitar tahun 1478, Aji saka berguru kepada Muhamad yang mana?

  11. gelandangantua April 16, 2012 at 4:06 am - Reply

    Cerita ngoyoworo nggak jelas dan cenderung provokatip. Terhadap kelestarian budaya tengger.

    Ajisaka (tahun saka) itu selisih 68 tahun dengan tahun Masehi Nabi Muhamad SAW baru tahun 625 Masehi.

    kalo ini baru bisa di tolerir

    MASYARAKAT Suku Tengger merupakan salah satu masyarakat yang hidup di pegunungan Bromo di Kawasan Probolinggo – Pasuruan – Lumajang – Malang. Konon asal mula cerita masyarakat Tengger terbentuk dari pelarian prajurit dan penduduk Majapahit ketika suatu ketika kerajaan tersebut diserang oleh Demak. Untuk mempertahankan diri jalan satu-satunya bagi mereka adalah melarikan diri, dan sampailah mereka di pegunungan Tengger.

    Perjalanan selanjutnya, sebagai suku pelarian dan membentuk suatu masyarakat dengan berbagai pranata sosialnya mereka memiliki berbagai karakteristik sosial, budaya, politik dan agama. Berbagai aspek karakteristik tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Agama memiliki keterkaitan dengan politik dan sosial dan demikian pula sebaliknya.

    Namun demikian mainstream besar yang menjadi bahan perbincangan menarik dalam hal ini adalah soal bagaimana masyarakat Tengger melakukan resitensi atas berbagai “serangan” dari kebudayaan lain. Sebagai suku yang memiliki kebudayaan cukup unik, mereka merasakan memiliki sesuatu warisan budaya yang harus dipertahankan.

    Orang Tengger memiliki petunjuk yang mengarah kepada keharminisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yakni setya budaya (taat dan hormat kepada adat), setya wacana (kata harus sesuai dengan perbuatan), setya semaya (selalu menepati janji), setya laksana (bertanggungjawab terhadap tugas) dan setya mitra (selalu membangun kesetiakawanan). Dengan kata lain orang memiliki bekala-bekal hidup untuk menjadi diri mereka sendiri.

    Untuk mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger wajib menjauhi malima: maling (mencuri), main (main judi), madat (menghisap candu), minum (mabuk karena minuman keras), madon (main perempuan); sekaligus wajib menjaga walima: waras (sehat jasmani dan rohani), wareg (cukup makan), wastra (cukup sandang), wasis (cukup ilmu pengetahuan) dan wisma (memiliki tempat tinggal yang layak).

    Bangsa kita sudah terseret jauh dari falsafah hidup seperti ini.

  12. George Sugeng May 18, 2012 at 2:03 am - Reply

    Saya setuju kalo cerita Aji Soko yg berguru pada Nabi Muhammad itu ngaco dan nglindur karena ga nyambung tapi untuk mencari mana yg lebih tua antara Budaya Jawa (Aji Soko) dng Budaya Arab dg membandingkan kedua kalender Jawa dan Arab juga ga bisa jadi pedoman karena ketika Sultan Agung Hanyakrakusumo (1593 – 1645) memerintah Mataram, beliau telah menyesuaikan kalender jawa dg kalender Islam, dimana perhitungan kalender jawa yg tadinya memakai luni-solar berganti menjadi kalender lunar murni (Islam, berdasar peredaran Bulan. dan jauh sebelum Islam ( Muhammad )lahir (571 M) budaya Arab juga sudah ada dan berkembang karena orang Arab kalau dilihat dari historinya adalah keturunan Ibrahim dng Hajar yg melahirkan Ismail mereka ini hidup jauh sebelum Isa Al Masih dimana saat kelahirannya (Isa) dihitung sebagai tahun ke 1 Masehi.
    Saya membedakan antara Budaya Arab dan Islam karena memang keduanya tidak sama tapi kebetulan Islam berkembang pertama kali di/oleh Bangsa Arab yg sebelumnya juga punya budaya sendiri, artinya kita jangan terlalu PD dan confidence bahwa Budaya kita Jawa) umurnya begitu tua, coba bandingkan dg budaya bangsa lain seperti China, mereka bahkan sudah maju dan berkembang sebelum tahun Masehi dan hal ini sudah banyak bukti yg menguatkannya…..

  13. irwan poncokusumo September 6, 2012 at 6:16 am - Reply

    Postin gan yang tidak ada dasarnya, aji soko itu jelas2 bukan orang muslim, dan adanya ana dan alif juga semakin ngaco. Aji soko dalam kisah legenda memiliki dua abdi kinasih bernama seco ( setia ? ) dan setuhu(patuh ? ) karena sama2 melaksanakan tugas dan sama2 bersikukuh dengan prinsip masing2, akhirnya terjadi perkelahian untuk memperebutkan pusaka aji saka dan keduanya sama2 saktinya dan tewan bersama. Makam seco setuhu dipercaya ada di daerah wajak kab malang. Aji saka adalah legenda yang dihubung-hubungkan denga aksara jawa hanacaraka, itu juga tidak masuk akal, huruf jawa adalah huruf palawa yang di sederhanakan, termasuk huruf dari rumpun brahmi india dan berkembang pada abad ke VIII ( sumber wikipedia). Jika ada yang mengaku keturunan aji saka, ini sangat luar biasa. Saya jadi pingin ketemu, apalagi jika ada di daerah tengger, saya juga orang tengger, jadi bisa ketemu dong!. Sayangnya sdr joyo kencono agak emosional dalam menanggapi postingan tentang ajisaka….sehingga cenderung memusuhi nabi, umat dan agama orang lain. jika sdr joyo kencono orang yang arif, tidak segampang itu menghujat umat islam yang pergi haji yang dia anggap memberikan upeti kepada orang arab. Itu perintah agama, seperti agama anda yang menyuruh berkurban dalam upacara peribadatan. Legenda adalah legenda, siapa yang mengawali cerita itu, adalah yang berhak untuk meluruskan dan membelokkannya termasuk terciptanyaketurunannya. Makam ajisaka saja sampai saat ini gak jelas tempatnya. Karena pada jaman dulu ada makam dan ada petilasan. Tapi semua diberi nisan.

  14. putune P. Aripah dokon Tengger January 9, 2013 at 11:38 pm - Reply

    memang gak masuk akal cerita di atas. itu hanya akal akalan untuk menyebarkan agama saja.karena cerita ini sudah diperputar balikkan para pengikut nabi itu. dan tidak ada bukti yang kuat tentang cerita itu. dan cerita yang asli Tengger diambil dari japa mantra tengger.” katuro maring setia lan setuhu (dora dan sembada/dugo lan prayugo)lan katuro maring ratu aji saka kang pinundi ing Tengger mriki katuro kek omah nek omah sabdo dewo pandito ratu…………..”saya sebagai orang asli Tengger tau asal usul aji saka. aji saka itu adalah tokoh yang sangat terkenal di Tengger. jikalau aji saka adalah murid nabi itu,
    kenapa di Tengger Mayoritas beragama Hindu dan aji saka menciptakan Upacara Adat Tengger yaitu bari’an dan hari raya Karo yang pelaksana upacara tsb adalah orang TEngger yang beragama HIndu bagi pembaca jangan terkecoh dengan cerita ini karena cerita ini bukan berasal dari suku tengger.

  15. ayu August 24, 2013 at 10:26 am - Reply

    Betul postingannya rada ngaco diliat dari asal mula suku tengger yg katanya pelarian dari tentara majapahit yg lari ketika demak menyerang, itu jauh dari masanya Rasulullah, dan sedikit memberi koreksi buat sdr joyo, bahwa menduakan Tuhan itu percaya pada Tuhan yg lain selain yg kita sembah, nah kalo pergi ke tanah suci ato ke rumah Allah adalah bentuk cinta kita pada Allah, bukan menduakan,…akan tetapi saya setuju bahwa budaya kita sebagai kesatuan Nusantara (bukan hanya jawa) adalah adi luhung dan besar makanya harus kita Lestarikan

  16. yudirawan59@yahoo.co.id October 18, 2013 at 11:57 am - Reply

    ajisoko itu tidak ada, gak ada satu buktipun yg menguatkan keberada’anya,,

  17. adi November 14, 2013 at 9:58 pm - Reply

    Makam aji saka ?î ?????????? Ÿ??????????a?????a??????°º”?

  18. mustofa gusmus December 18, 2013 at 10:18 pm - Reply

    kulhu wae lek

  19. andik August 10, 2014 at 11:11 am - Reply

    aku tau makam ajisaka dan mbah setuhu aku pernah kesana.alamat makam beliao di malang..

  20. kechenk September 21, 2014 at 10:37 am - Reply

    Makam ajisaka..???dimalang sebelah mana ya,klo boleh tau….

  21. Mr_Yon January 12, 2015 at 1:41 am - Reply

    Hanya orang sableng yang mengatakan Ajisaka berguru ke Muhammad.Sebelum muhammad lahir ajisaka sudah ada.Jangan di percaya artikel seperti itu.

  22. dian January 14, 2015 at 12:19 am - Reply

    cerita ngawor

  23. Indah Wahyu February 19, 2015 at 7:30 pm - Reply

    Legenda Ajisaka yang kita kenal hingga sekarang memang ada beberapa versi, salah satunya adalah versi masyarakat Tengger ini. Legenda merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat, mereka bahkan meyakininya sebagai sebuah kebenaran sejarah. Tentu saja bagi kita yang sudah terbiasa dengan ilmu yang empiris dan positivis, legenda ini ngaco dan tidak masuk akal. Kita perlu ingat bahwa di dalam legenda, kadangkala ada unsur historisnya yang faktual, namun ada juga unsur khayalannya, seirngkali cerita dalam legenda juga anakronis (salah jaman). PR-nya adalah bagaimana kita berusaha memahami makna legenda tersebut secara historis. Caranya bagaimana? kita bisa mulai dengan memilih dan memilah bagian mana yang historis dan tidak. lalu melakukan identifikasi terhadap bagian-yangian yang historis dan menganalisisnya. Bagian yang tidak historis juga pperlu kita analisis, misalnya mengapa sampai ada pemutarbalikan fakta, mengapa anakronis, dan sebagainya. Misalnya dalam konteks Ajisaka yang belajar pada Nabi Muhammad, kalau kita fikirkan secara logis, tentu saja ini tidak mungkin, seperti beberapa komentar sebelumnya yg memandang bahwa Muhammad dan Ajisaka hidup di masa yang berbeda. Namun mengapa digambarkan Ajisaka belajar pada Muhammad? Kita perlu memahami bagaimana suasana batin masyarakat Tengger dalam menghadapi gempuran agama dan budaya yang baru. Mereka berusaha untuk memberikan tempat bagi unsur-unsur yang baru tanpa meninggalkan unsur yang lama. Dalam hal ini, nampaknya kekuatan unsur yang baru (kekuasaan kerajaan Islam) lebih dominan sehingga Ajisaka digambarkan berguru pada Muhammad. Ingat, masyarakat Tengger dipercaya sebagai sisa-sisa masyarakat Majapahit yang berusaha untuk mempertahankan diri dari kekuasaan kerajaan Islam yang menggempurnya. Bagi saya, legenda Ajisaka versi Tengger ini merupakan bentuk pewarisan memori mereka kepada anak cucunya bahwa mereka berusaha mempertahankan diri di tengah gempuran kekuasaan baru. Mereka melalukan resistensi melalui legenda karena meraka cukup sadar tidak mungkin melawan secara frontal. Meskipun mereka kalah, masyarakat Tengger berusaha menjaga harmoni yang merupakan nilai asli budaya mereka.
    Saya paham betul bahwa interptretasi saya akan ditanggapi dengan cara yang berbeda-beda. It’s OK. Bagi saya yang bergerak dalam dunia ilmu sosial dan humaniora, sudah terbiasa dg pandangan bahwa tidak ada kebenaran tunggal.

    Salam hangat,

  24. ujank cimande March 18, 2016 at 3:34 am - Reply

    saya ingin menceritakan apa yang diwejang kakek saya, karena kita adalah orang modern bukan nenek moyang jaman dulu, jadi cerita jaman dulu pastinya kita tau dari wejangan2 para leluhur,
    Bagi yg tidak suka cerita ini jangan dibaca dan jangan dicela. Cerita ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
    ini adalah sebuah kisah ajisaka saat bertemu dengan kanjeng nabi muhammad, kita semua tau siapa dua sosok hebat itu.. Ajisaka adalah asli pendekar dari tanah jawa, yang telah melindungi,menjaga,serta menanam ketentraman di pulau jawa yg kuat dengan aura gaibnya. Kanjeng nabi Muhammad adalah seorang nabi yang sabar,rendah hati,dan mempunyai akhlak yg sangat baik, beliau sangat berjasa menyebarkan agama islam yg santun dan cinta kasih.
    Kanjeng Nabi Muhammad dan Baginda Ajisaka adalah panutan umat,
    awal cerita:
    saat itu ajisaka sedang bertapa di dalam mulut naga besar, naga besar itu adalah kakeknya yg bernama Begawan Onto bugo atau Sang Hyang Nagasesa. Begawan ontobugo memerintahkan ajisaka untuk pergi ke mekkah arab saudi untuk menemui raja yang sakti mandraguna, karena raja itu sesumbar lanang sejati, dia bernama bethara guru. Dan begini cerita dialognya. **
    -raja* sopo jenengmu le..
    -Ajisaka* aku aji
    -raja* lapo koe ngalang2i lakuku, aku iki wong lanang sejati, ora ono sing nandingi kesaktianku.
    -ajisaka* wong lanang sejati iku koyok wong sing sembahyang kae loh.,sembahyang tangane dadi papat. (ajisaka menunjukkan tangannya ke arah nabi muhammad yg sedang sholat,yg dikatakan tanganya menjadi empat padahal itu adalah serban yang ada dipundak nabi Muhammad. Namun sang raja itu tertipu dengan perkataan ajisaka).
    -Raja* aku yo iso nek tangan dadi papat.(akhirnya raja itu merubah tangannya sendiri menjadi empat,namun dengan kesaktian ajisaka, empat tangan raja itu disabda oleh ajisaka yg tak bisa kembali seperti semula).
    -ajisaka* nek kowe pancen sakti balekno tanganmu dadi loro..
    (akhirnya raja itu merasa malu dan pergi, dan sampai sekarang bethara guru masih bertangan empat,itu adalah azab dari orang yg takabur).
    Akhirnya ajisaka sangat penasaran dengan orang yg sedang sembahyang kusuk itu (nabi muhammad). Dan ajisaka ingin mencoba menemui dan mendekati beliau dengan menjelma menjadi kupu2. ***
    (saat duduk taqiyad akhir,kanjeng nabi menunjukkan jarinya dengan membaca shahadat, jari yg ditunjuk kanjeng nabi tersebut mengarah tepat ke ajisaka yg menjelma kupu2. Ajisaka kaget dan menganggap kanjeng nabi adalah orang yang sakti).
    -nabi M* siapakah anda?bisa berubah menjadi kupu2 yang bisa bicara? (kanjeng nabi pun juga kaget melihat ajisaka berubah lagi menjadi manusia dan bersemedi diatas rumput sambil melayang).
    -nabi M* anda bisa melayang dan menjelma itu semua kuasanya siapa?
    -ajisaka* ini adalah kuasanya Gusti Yang Maha KUASA.
    -nabi M* kenapa anda bersembahyang dengan melayang?
    -ajisaka* ini adalah sembahyang alang-alang kumitir yg hanya fokus pada pikiran,jiwa,dan hati dalam mendekatkan diri pada Tuhan, tanpa memikirkan duniawi atau tidak menyentuh panasnya bumi ini.
    -nabi M* baiklah mulai sekarang kita sama2 mencari umat sebanyak2nya, melestarikan dunia ini agar tidak punah dan hancur.
    *** akhirnya nabi Muhammad dan ajisaka bertukar pengalaman dan sepakat dalam membangun bumi yang berbudi pekerti luhur.,kanjeng nabi membuat sifat 30 yg dihitung dari tekukan jari2 tangan yang berisi bacaan alif ba’ ta’ dst.. Sedangkan ajisaka membuat sifat 20 yg dihitung dari jumlah jari tangan dan kaki yg berisi bacaan ha na ca ra ka dst.., sifat 20 maupun sifat 30 sama2 mempunyai arti perjalanan hidup manusia lahir sampai meninggal dunia, dalam kesenian kanjeng nabi menciptakan dari bahan kulit kambing dan ajisaka menciptakan gamelan dari bahan kuningan, kanjeng nabi membuat nama2 hari dan ajisaka membuat nama2 pasarannya,dll.. ,dalam ajarannya kanjeng nabi menyebarkan agama islam terutama sholat namun ajisaka tidak menyebarkan agama melainkan tuntunan dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, apapun ajaran Nabi Muhammad dan ajisaka sangat berbeda tapi mereka tak pernah mempermasalahkannya, karena tujuannya hanya satu adalah sama2 kepada Tuhan dan untuk menjadikan manusia di bumi yg rukun dan damai. Hanya saja ajisaka lebih berfokus ke pulau tanah jawa karena tanah jawa dalam penerawangan ajisaka banyak jin yang berkuasa. Oleh karena itu pulau jawa adalah pulau yang gawat aura gaibnya, oleh sebab itu wajar jika di tanah jawa ini banyak acara ritual, mitos yang harus dihormati. Beda dengan kanjeng nabi yang slalu mengedepankan kerukunan antar umat beragama. Namun ajisaka dan kanjeng nabi sama2 memberi tauladan dan akhlak yang baik, kanjeng nabi menerapkan sikap yang sabar,peduli, kasih sayang, tidak sombong dan tidak menyukai kekerasan, kesimpulannya adalah semua ajaran beliau sangatlah mulia, kita sebagai umat entah agama kalian apa, suku apa, aliran apa yang penting kita harus cinta damai. Untuk kita yang beragama islam yang berada di tanah jawa janganlah kita saling menghina,mengharamkan ajaran orang kalau kita belum tahu asal usulnya, selama mereka tujuannya baik tak merusak bumi ini tak masalah. Jadilah islam seperti kanjeng nabi yang penuh kesabaran dan kasih sayang kepada semua umat, dan ajaran ajisaka juga perlu kita lestarikan jika kita berada di pulau tanah Jawa, karena baginda ajisaka adalah orang pertama yang mbabat tanah jawa ini, agar kita terlindung dari mara bahaya. Sholat/sembahyang dengan jiwa yang lapang, hati yang ikhlas, dan fikiran yang jernih.,kita satukan panutan kanjeng nabi Muhammad dan Baginda Ajisaka, karena beliau adalah sama2 utusan Allah yang dikaruniai mukjizat yang luar biasa

Leave A Comment