Belajar Fenomenologi, Menunjukkan dan Membuktikan (13)
Posted on 17. Jun, 2009 by ave in Fenomenologi
Klaim bahwa ada-sebagai-manusia haruslah didefinisikan sebagai eksistensi, sebagai ada-yang-sadar-dalam-dunia, tidaklah dapat dibuktikan dengan pengertian logis secara ketat. Mendefiniskan manusia dengan jalan ini menjadi sah hanya di atas dasar sebuah pandangan yang tak bisa direduksikan menjadi sebuah pandangan yang lebih umum. Seorang filsuf hanya dapat “menunjuk” pada definisi. Ini tentu saja merupakan sesuatu yang amat disayangkan, [...]
Antara Monisme Materialistik dan Spiritualistik (12)
Posted on 07. Jun, 2009 by ave in Fenomenologi
Fenomenologi dalam perkembangannya menuju sebuah ontologi atas manusia telah membuka pada pandangan kita sebuah jalan tengah antara monisme materialistik dan monisme spiritualistik (Dondeyne).
Kegigihan Jaspers dan Marcel (11)
Posted on 05. Jun, 2009 by ave in Fenomenologi
Bias anti-saintifik dari eksistensialisme berlanjut dalam pemikiran Jaspers dan Marcel. Pemikiran ini berada dalam kontradiksi yang konstan dengan dirinya sendiri sepanjang pemikiran itu secara implisit berusaha untuk menjadi lebih dari sekedar monolog. Membaca pemikiran anti-saintifik Jaspers dan Marcel secara harfiah belaka hanya akan berarti bahwa pemikiran seorang eksistensialis akan kehilangan validitasnya dalam semua situasi kecuali [...]
Manusia sebagai Eksistensi (10)
Posted on 31. May, 2009 by ave in Fenomenologi
Fenomenologi memandang kesadaran sebagai suatu modus ada-nya-manusia dan melukiskannya dalam istilah intensionalitas. Deskripsi kesadaran ini dengan mudah membawa ke sebuah ontologi dimana manusia dilihat sebagai sebuah keterbukaan, sebagai eksistensi. Husserl sendiri tidak berjalan sejauh itu namun kita bisa menemukan perkembangan ini dalam Being And Time-nya Heidegger. (Kita secara sementara waktu akan meninggalkan pertimbangan atas fakta [...]
Sartre Bukanlah Seorang Fenomenolog, tetapi Seorang Pemikir Cartesian (9)
Posted on 22. May, 2009 by ave in Fenomenologi
“Jika ada Tuhan, Dia haruslah Tuhan-bagi-aku” (Jolivet).
Sartre memberikan deskripsi yang luas mengenai dunia-dalam-dirinya-sendiri (monde-en-soi). Namun, deskripsi ini sama sekali tak bermakna apa-apa, dan dengan sedikit usaha kita bisa setidaknya mempelajari sumber ketidakbermaknaan ini. Sartre melukiskan “dalam-dirinya-sendiri” dalam pengertian sesuatu yang yang sangat padat, yang positivitasnya lengkap, sebagai sesuatu yang sepenuhnya diisi dengan dirinya sendiri, dsb. [...]



Komentar Terbaru