SEPANJANG sejarah, kita mengenal berbagai tradisi besar yang membentuk perilaku umat manusia, kebudayaan, dan peradabannya. Tradisi-tradisi besar itu mempengaruhi gerak langkah dan juga alam pikiran sekian banyak manusia, dan juga menjadi pembentuk susunan kehidupan sosial yang ada. Dampaknya tak bisa diingkari begitu besar, sehingga terkadang berlanjut hingga bergenerasi-generasi. Mulai masyarakat kelas bawah hingga kelas atas, semua tersapu oleh pengaruhnya.

Tradisi-tradisi besar itu terentang mulai dari agama-agama primitif yang berkembang pada masyarakat manusia primitif sampai dengan ideologi-ideologi besar modern, seperti Kapitalisme dan Komunisme. Begitu banyak cerita sejarah yang tercipta di atas dasar tradisi-tradisi besar itu. Juga peninggalan-peninggalan materialnya yang terwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari rumah tempat tinggal sampai bangunan monumental.

Bahkan cerita sejarah kitapun sekarang sebenarnya tak bisa lepas dari pengaruh tradisi-tradisi besar tersebut. Kita merasakan pengaruhnya pada alam pikiran yang masih kuat pada masyarakat sekeliling kita, terutama pada masyarakat yang masih tradisional. Atau pada peninggalan-peninggalan material yang masih kita nikmati sampai sekarang, seperti tempat-tempat ibadah, perkebunan-perkebunan negara, pabrik-pabrik dan sebagainya.

Semuanya adalah efek yang tercipta dari gerak langkah tradisi-tradisi besar, baik yang pernah maupun yang masih dan sedang berlangsung. Semenjak kita lahirpun, mungkin kita telah “dipersiapkan” untuk menjadi bagian dari sebuah tradisi besar.

Jadi sebenarnya kehadiran kita bukanlah kehadiran di atas “bumi” yang kosong. Juga bukan kehadiran yang berakar dari kehampaan. Kita adalah pewaris tradisi-tradisi besar itu. Kehidupan kita tepat berdiri di atas endapan-endapan yang dicipta oleh tradisi-tradisi besar.

Secara sederhana, tradisi-tradisi besar itu dapat dipilah menjadi dua kelompok, yaitu agama dan ideologi. Dapat  coba ditelaah secara teoritis, artinya kita mencoba menelaah unsur-unsur kesadaran sejarah sebagaimana yang termuat dalam ajaran-ajaran tradisi besar dan bukan sebagaimana yang dipraktikkan oleh para penganutnya.

Dikutip dalam Catatan Pendahulan Eko Prasetyo, Manusia dan Kesadaran Sejarah, 2001