Setelah eksposisi yang lebih teoritis ini atas konsep Einstellung-nya atau sikapnya subyek, kita lebih baik memberikan sebuah contoh kongkret dan ilustratif.

Untuk tujuan ini, marilah kita menyelidiki makna air. Biasanya aku memikirkan air sebagai sesuatu yang aku gunakan untuk berendam atau sesuatu yang melegakan dahagaku. Dalam suatu perjalanan memancing, sikapku atas air berubah, sehingga di atas danau tempatku memancing, aku berhadapan dengan air yang menopang kapalku dan menyembunyikan ikan-ikan dari pancinganku. Air danau yang menopang kapalku bukanlah air yang memnuhi kamar mandiku atau gelas minumku. Dan juga aku tak akan berenang dalam air danau yang kupancing. Sikapku sekali lagi berubah saat aku berperan sebagai seorang pemadam kebakaran; air lantas memperlihatkan dirinya sebagai alat untuk memusnahkan api yang merusak. Jika aku tak pernah berpartisipasi dalam tindak pemusnahan api, air tak akan pernah mendapatkan makna “pemadam api.” Jatuhnya es ke dalam sebuah sungai pada sebuah hari yang dingin di musim dingin bisa memperlihatkan padaku aspek yang paling mengagumkan dari air. Tak seorangpun yang pernah jatuh tenggelam ataupun membeku sampai mati dalam H2O. Air mendapatkan maknanya sebagai H2O hanya dalam sebuah konteks sikap khusus, sebuah sikap yang di dalamnya aku bekerja dari sebuah sudut pandang yang analitis teknis. Di luar sikap ini, pengesaan air sebagai H2O tak akan bermakna apa-apa. Mungkin beberapa orang akan bersikeras bahwa air dari bak mandi kita atau dalam perjalanan kapal kita adalah H2O. Kegigihan semacam itu mengingkari kenyataan bahwa orang yang bersikeras itu telah mengganti sikap kita sebagai orang yang mandi dan sebagai wisatawan dan secara diam-diam telah mengajak kita untuk bersikap sebagai seorang ahli kimia.

Pemikiran kita atas realitas telah rusak secara mendalam akibat kecenderungan historis yang merusak. Kebanyakan dari kita diajari untuk mempercayai bahwa hanya ada satu interpretasi air itu yang absolut dan obyektif, dan interpretasi tersebut adalah H2O yang ilmiah. Simbol H2O kata orang menunjuk pada air yang riil, pada air itu sendiri. Pengajaran yang demikian merupakan saintisime dan mewakili sebuah pemiskinan katastropik atas realitas. Secara diam-diam, para ahli fisika dikumandangkan sebagai prototip manusia, dan dunianya merupakan satu-satunya dunia yang telah mencapai validitas yang puncak. Segenap realitas harus diekspresikan secara kuantitatif dan apapun yang tak bisa diekspresikan dalam kategori kuantitatif sama sekali tidaklah riil/nyata. Dunia-yang-kualami yang luar biasa kayanya, yang mengkaitkan dirinya dalam eksistensi manusia dengan segenap ragam sikap yang tiada akhirnya, direduksikan menjadi sebuah sistem makna yang miskin yang ditampilkan oleh sikap dari saintis. Apapun yang tidak bisa disesuaikan ke dalam skema yang dangkal ini dinyatakan sebagai mistifikasi, romantisisme, atau, lebih buruk lagi, sebagai hasil dari kesehatan jiwa yang buruk!

Namun pendekatan semacam itu memunculkan pertanyaan klasik mengenai jenis dunia fisik apakah yang sedang dibicarakan. Katakanlah, dalam dunia-yang-kualami dari seorang ahli fisika, “seorang istri yang disayangi dan dicintai” tampak sebagai sebuah makna yang obyektif, namun ahli fisika tersebut tak akan mampu mengekspresikannya sepanjang dia membatasi dirinya dengan peristilahan-peristilahan dunianya. Sebagai ahli fisika, dia bahkan tidak bisa membedakan seorang yang mati secara biasa dan alamiah dengan seorang yang mati terbunuh; walaupun sebenarnya di sana ada perbedaan. Sebagai ahli fisika, dia juga menceritakan perbedaan antara sebuah merahnya karpet yang empuk dengan merahnya gumpalan darah, antara merahnya bibir yang merangsang dan merahnya rona wajah pemuda yang sehat; walaupun sebenarnya di sana ada perbedaan.

Kita mungkin bertanya di mana keajaiban-keajaiban berlangsung, dan kita pasti mendapat jawaban: “Dalam dunia religius!” Apakah ahli fisika memasuki dunia yang semacam itu? Apakah kita membutuhkan laporan lab untuk menegaskan sebuah keajaiban? Manakala seorang mahasiswa teknik berpelesir dengan tunangannya ke Air Terjun Niagara, dia merasa lebih baik membatasi dunia maknanya pada apa-apa yang telah diajarkan padanya di sekolah teknik. Maka Air Terjun itu akan menjadi tak lebih dari sekedar “energi yang bisa dimanfaatkan” (Heidegger). Tanpa pemberian makna lain atas makna tersebut, gagasan liburan akan menjadi tidak mungkin, apalagi gagasan tentang pernikahan.

Kita haruslah menyimpulkan bahwa terdapat lebih dari hanya satu dunia. Mereduksikan segala sesuatu ke dalam dunia-dalam-dirinya-sendiri adalah sesuatu yang tak bisa diterima. Ada banyak dunia dan tak satupun dari dunia ini yang kurang atau lebih obyektif dibandingkan dunianya sains (Buytendijk). Dalam pluralitas dunia inilah, dalam dunia-yang-kualami inilah, kita menemukan manusia terlibat dengan segenap sikapnya. Di sini kita menemukan pengalaman yang utuh yang padanyalah semua pemikiran dilandaskan dan yang darinyalah semua penilaian ditetapkan. “Kita harus memulihkan pengalaman ke bobot ontologisnya yang sebenarnya” (Marcel). Pengalaman yang utuh yang sudah kita jelaskan membentuk pengetahuan pra-ilmiah yang padanyalah semua sains, termasuk filsafat, dilandaskan. Tuduhan bahwa “eksistensialisme sulit melihat kontinuitas apapun antara pengetahuan pra-saintifik dan pengetahuan yang tampil sebagai spekulasi filosofis” haruslah dianggap sebagai salah satu dari banyak kesalahpahaman atas eksistensialisme.