Happy Budi Febriasih

Ludruk sering dimafhumi orang sebagai tradisi berkesenian yang mulai ditinggalkan karena tidak menarik lagi. Namun, Jumat (9/11/07) kemarin sekitar 25 orang pemain dan pengrawit yang tergabung dalam grup ludruk “Tjap Djempol” pimpinan DS. Yono, menampilkan kebolehannya bermain ludruk di Dewan Kesenian Malang (DKM). Sebelumnya, pentas periodik ludruk hanya digelar semata sebagai rutinitas bulanan di Taman Krida Budaya, Malang dan Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Pertanda kebangkitan seni tradisi?

Menurut Ketua DKM, Dwi Cahyono sebagai pemrakarsa pentas tersebut, pentas tersebut nantinya bisa menjadi ajang wisata. Selain menambah uang saku yang tak seberapa, ludruk diharapkan dapat bangkit kembali. Harapan tersebut direspon dengan sukacita oleh bala ludruk. Apalagi, DKM dengan menggandeng Dinas Infokom Kota Malang, merencanakan akan menyelenggarakan kegiatan ini secara periodik seminggu sekali. Tidak hanya ludruk tetapi bergantian dengan kesenian lainnya. Masalahnya, apakah DKM benar-benar serius akan mengangkat citra ludruk dan ludruk sendiri siap menampilkan diri di tengah publik yang ‘berbeda’?

Identitas Ludruk

Sejak ludruk diberangus pasca ’65, rata-rata pemainnya tiarap. Bahkan, ada yang sampai rela mengubur gamelan hingga kostumnya ke dalam tanah. Gara-garanya, ludruk identik dengan partai berlambang Palu Arit. Padahal, faktanya orang sering lupa bahwa ludruk tidak hanya dipentaskan bersama partai yang terlarang itu. Ludruk sebenarnya mampu bermain bersama siapa pun yang menjadi juragannya, baik Lesbumi, LKN, dan lembaga kebudayaan partai mana pun saat itu.

Sekarang, identitas ludruk sebenarnya tidak lagi seperti sebelum tragedi itu; bersuara dengan bernas-gahar terhadap permasalahan di sekitarnya seperti yang ditunjukkan Ludruk Marhaen pimpinan Wibowo dan Shamsuddin dio era ‘60-an. Ludruk pernah berposisi tidak hanya berkesenian “seni untuk seni” tetapi menyuarakan tujuan lain yang lebih mulia. Selain mempertunjukkan kemahiran menghibur di atas panggung, ludruk turut serta membincangkan harga-harga yang semakin melangit di tengah pentas.

Memang pasca tragedi ’65 ludruk ‘disterilkan’. Mereka ‘dititipkan’ pada unit kesenian yang ada pada berbagai macam kesatuan militer. Tidak hanya ludruk, kesenian lain seperti wayang orang dan wayang kulit juga diperlakukan sama. Dalam asuhan militer, setiap bulan ludruk bahkan bisa mendapatkan jatah beras 10 kg/kepala dalam keluarga beserta uang bulanannya.

Program keluarga berencana, ABRI Masuk Desa, dan TOGA (Tanaman Obat Keluarga) menjadi siar penting ludruk kala itu. Tidak jarang, mereka membantu terselenggaranya pemilu hingga mengokohkan akar beringin hingga pelosok desa. Awal ‘80-an, semua bantuan per bulan itu ditarik. Tak ada lagi tunjangan bagi ludruk karena mereka tak lagi dibutuhkan..

Kondisi ludruk gedhongan (ludruk keliling yang pentas di suatu daerah selama waktu tertentu) pun mulai meredup. Penyebabnya banyak hal dan sangat kompleks. Tetapi yang jelas, semakin banyaknya pemilik televisi turut serta membuat orang malas keluar di malam hari. Beragam opini perorangan dan media saat itu mulai ramai membicarakan kehancuran ludruk. Alasannya, ludruk tidak diminati karena kalah dengan kemudahan dan keberagaman tayangan televisi.

Ludruk Juragan

Dalam konteks tersebut, justru yang semakin sulit posisinya adalah pemain ludruk. Demi menyambung hidup, mereka terpaksa menjadi bagian dari grup yang dikelola juragan. Polanya seringkali mengikuti apa kata juragan. Ludruk bisa dipentaskan bila memang dikehendaki sang juragan. Artinya, pilihan seniman ludruk menjadi semakin sempit untuk mandiri dalam berkesenian.

Pertunjukan ludruk teropan (ludruk yang dipentaskan berdasarkan permintaan/hajatan masyarakat) masih setia melayani permintaan masyarakat saat ini khususnya berada di pelosok Malang Selatan. Ini menjadi gambaran sisa kehebatan ludruk tiga dasawarsa sebelumnya. Yang tertinggal sekarang adalah pengulangan, keputusasaan, dan keusangan. Paling tidak tercatat saat ini grup ludruk yang masih bertahan adalah Orkanda dari Desa Segaran, Kecamatan Gedangan dan Taruna Budaya, grup ludruk dari Wajak yang kini bermukim di Kelurahan Purwantoro, Kota Malang.

Perlu disadari bahwa semua bala ludruk ingin berubah. Mereka sampai sekarang tetap memiliki keinginan menjadikan ludruk setara kedudukannya dengan kesenian lain. Yang tidak hanya mengusung kebesaran ludruk semata tetapi juga menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama. Ludruk dulu pernah tampil di hotel-hotel mewah. Bahkan ludruk Marhaen, berdasarkan wawancara dengan sri panggung Ludruk Marhaen-Kadam, tercatat pernah 24 kali manggung di depan Presiden Soekarno. Setahun rutin pentas dua kali. 16 kali di Istana Negara, Jakarta, sekali di Istana Tapak Siring Bali, dan sisanya di Istana Bogor. Bukan hanya itu, ludruk pun mampu bergantian main dalam sebuah bioskop yang sama dengan film yang tengah booming saat itu. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya ludruk bukan milik kalangan tertentu.

Regenerasi

Bila ingin berubah, ludruk memang harus memperbaiki banyak hal. Ia sudah ketinggalan tiga dekade. Jadi, sudah saatnya regenerasi para seniman ludruk menjadi perhatian penting saat ini. Jika tidak, ludruk suatu saat hanya akan tinggal nama dan kenangan belaka.

Tengoklah gedung-gedung pertunjukan yang kerapkali mereka gunakan seperti Gedung Flora, saat ini telah berubah fungsi menjadi pertokoan. Seniman ludruk sendiri hampir sudah kehilangan harapan pada pemerintah. Sebab, mereka merasa kalah pamor. Pada HUT kota/kabupaten, pemerintah lebih suka mengundang dalang wayang kulit kondang dari daerah lain yang konon untuk biayanya saja cukup untuk menampilkan ludruk tiga hari tiga malam.

Maka dari itu, menggelar pentas ludruk maupun kesenian lainnya perlu dimaknai sebagai upaya mengangkat martabat mereka. Jangan seperti yang sudah-sudah. Ketika membutuhkan media yang langsung berhubungan dengan massa rakyat, ludruk diburu. Atau jika telah berhasil mengambil semua keuntungan melalui ludruk, dana yang pernah dijanjikan tidak pernah benar-benar turun dengan beragam alasan klasik. Jika demikian, sekalian saja menggalikan lubang kubur bagi kesenian-kesenian tradisi yang sekarat itu.

Happy Budi Febriasih

Peneliti Kebudayaan Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes Malang