ANAK-ANAK bersuka, menari di depan raksasa. Tidak ada beban, yang ada bahagia. Sejuta rintik hujan dan seribu petir tak menyurutkan niat mereka bermain dalam kubangan air.

Dan dua raksasa, wajah angkara tetap diam, kaku menjaga bendera hitam dukacita. ”Raksasa itu adalah simbol kekuasaan, simbol penguasa,” kata Riyadi, koordinator perwakilan seniman Komunitas Lima Gunung, Magelang, yang Kamis (19/2) sore itu ikut menyemarakkan aksi Kamisan para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM.

Aksi Kamisan itu diguyur hujan deras. Sejumlah perwakilan korban dan aktivis HAM hadir, para seniman asal Magelang menyuguhkan tari. Ini adalah Kamisan ke-100.

Tanggal 18 Januari 2007 aksi Kamisan itu dimulai. Bagi korban dan keluarga korban pencapaian seratus kali aksi diam tersebut bukanlah perkara mudah.

Mereka berhadapan dengan sikap abai dan pembiaran oleh pemerintah. Suciwati, istri almarhum Munir, mengatakan, mereka kerap kali harus menelan pil pahit karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak menepati janji.

Namun, para korban tidak pernah memaknai aksi itu sebagai kesia-siaan. Sebaliknya, jiwa merdeka mereka menegaskan, aksi itu akan terus dilakukan untuk melawan kekebalan hukum para pelanggar HAM. Dan aksi diam itu hendak mereka jadikan inspirasi bagi perubahan.

Bagi korban, Kamisan adalah bentuk gerakan yang lahir sebagai akibat buruknya sistem peradilan dan kebijakan negara yang tak menghadirkan keadilan. Cara itu mereka ambil karena institusi peradilan, seperti Kejaksaan Agung, serta institusi politik, seperti DPR, justru menjadi kendala penyelesaian kasus HAM.

Faktanya, 10 tahun reformasi, belum satu pun pelanggar HAM diadili, bahkan mereka yang terindikasi terlibat dan bertanggung jawab atas kasus-kasus pelanggaran HAM justru memperoleh tempat terhormat. Posisi itu persis disimbolkan oleh raksasa-raksasa yang merasa berwibawa di atas kursi kekuasaan.

Mereka mempertahankan sesuatu yang fana, yang ditolak oleh bocah-bocah yang justru merasa bebas dan merdeka di bawah siraman air hujan. ”Kami membelakangi istana yang seharusnya menjadi simbol kekuasaan yang menyejahterakan,” kata Sumarsih, keluarga korban kasus Semanggi.

Padahal akhir-akhir ini istana itu pula yang hendak dipertahankan dan diperebutkan oleh para elite politik negeri ini. Hujan makin deras ketika anak-anak itu kian menari lincah di depan dua raksasa.

Cempe, wedhus, cempe, wedhus, cempe, wedhus,” bunyi-bunyian dari mulut itu terus mengiringi tarian tersebut. Dan dua raksasa tetap kaku, tegak tanpa ekspresi menggenggam erat bendera hitam dukacita. Hati mereka tidak pernah lagi bebas. (JOS)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/20/0026261/melawan.berhala.kekuasaan

Kompas, Jumat, 20 Februari 2009