TEORI kualitas primer dan sekunder mengandung sebuah teori yang implisit mengenai pengalaman dan pengetahuan. Kualitas primer dianggap sebagai obyektif, sementara kualitas sekunder sebagai subyektif semata.

Namun dalam  pengalaman asli (initial experience) atas sebuah apel, misalnya, perbedaan antara ukuran (kualitas primer) dan warna (kualitas sekunder) tidaklah terlihat. Kedua aspek tersebut sungguh-sungguh sama-sama muncul ke hadapan kita dan keduanya tampak sebagai sama nyatanya.

Walaupun begitu, aspek kuantitatif, yaitu aspek dari apel yang tersedia untuk bisa diukur, ditetapkan sebagai sebuah keutamaan, dirancang sebagai yang obyektif. Apakah makna utama dari pembedaan antara kedua aspek dari sebuah obyek ini? Diskriminasi ini rupanya berarti sebuah interpretasi dari pengetahuan dan pengalaman dimana kehadiran yang serta merta dari realitas didevaluasi.

Prioritas aspek kuantitatif dari apel di atas aspek warnanya jelas tidaklah diberikan dalam kehadiran yang serta-merta kita atas apel. Padahal, begitu pengalaman keserta-mertaan kita atas realitas yang ada didevaluasi, begitu dialog antara kehadiran yang serta-merta (manusia) dan realitas yang ada (dunia) dipotong, maka kita mendapatkan sebuah epistemologi yang di dalamnya pengetahuan dianggap sebagai sebuah refleksi cermin dan dunia dianggap sebagai dunia-dalam-dirinya.

“Kembali Ke Benda Itu Sendiri”

Sampai saat ini kita telah menilai dua postulat yang keliru yang mendominasi filsafat Barat sejak Descartes. Pengetahuan dianggap sebagai sebuah pencerminan atas realitas, sebagai sebuah representasi yang mencerminkan dunia-dalam-dirinya-sendiri, dan sistem re-presentasi obyektif yang par-excellence itu adalah sistemnya sains fisika (De Waelhens).

Dua postulat tersebut merusak realitas sebagaimana dia muncul di dalam kehadiran kita yang serta-merta. Semua ahli fenomenologi bersatu dalam perjuangan mereka untuk menentang kekeliruan konsepsi ini dan mereka menuntut kita untuk menerima realitas sebagaimana kemunculannya yang serta-merta dalam pengalaman kita dan tanpa dalih semua jenis prasangka teoritis apapun.

Kalimat Husserlian “kembali ke bendanya sendri” merumuskan maksud ini dalam sebuah  rumusan singkat (nutshell) untuk kembali ke dunia pengalaman asli dan ke kekayaan makna yang bisa ditemukan di sana. Kembalinya ke benda itu sendiri ini haruslah dilakukan tanpa penteorian apapun yang terlebih dulu atas pengalaman dan tanpa sebuah eliminasi a priori atas setiap kenyataan makna apapun.

Saintisisme berusaha untuk mengantikan pengalaman spontanitas keseharian kita dengan pengalaman saintifik; dia juga berusaha menggantikan dunia-yang-kualami dengan obyek-obyek ilmu alam. Tepat di sinilah kontradiksi saintisisme itu muncul.

Kita tak bisa mengeliminasi kontradiksi ini, bahkan jikapun kita siap untuk mengakui keprimeran pengalaman spontanitas keseharian kita namun masih tetap mencoba untuk memandang pengalaman tersebut dalam kerangka yang umum dalam psikologi empiris.

Sejumlah penelaahan atas pengkondisian, refleks-refleks neural, potensi-potensi rangsang, dan sebagainya, sejauh ini gagal dalam menggambarkan pengalaman kita sebagaimana kemunculannya yang asli. Pengalaman kita yang asli tentu saja tidaklah terdiri atas sebuah konglomerasi konsep, pandangan, dan hukum-hukum dari cabang-cabang ilmu-ilmu alam yang berbeda.

Yang sebaliknyalah yang benar: ilmu-ilmu yang berbeda mengandaikan pengalaman sehari-hari yang asli dan tanpa pengandaian tersebut tak seorangpun yang akan pernah tahu menunjuk pada apakah  “pengkondisian” ataupun “refleks-refleks neural” itu. Refleks-refleks, potensi rangsang, skemata pengkondisian, semuanya menunjuk pada dunia pengalaman keseharian kita yang biasa.

Berpikir bahwa konseptualisasi saintifik ini bisa menggantikan dunia pengalaman keseharian  merupakan sesuatu yang tidak masuk akal dan kontradiktif, karena justru konseptualisasi ini bergantung pada dunia pengalaman sehari-hari untuk mendapatkan segenap maknanya.

bersambung